#41 Kehangatan

Setelah kemarin seharian di kamar, hari ini saya memutuskan keluar. Biar ga lumutan. Saya pun menuju Anomali Menteng untuk belajar.

Saya pilih tempat duduk agak pojok, dekat colokan. Buka laptop, colok headset, putar Liszt, sambil sesekali menyeruput Americano dingin.

Tidak beberapa lama, datang satu rombongan keluarga. Bapak, Ibu, dan anak (lebih dari 2 orang bisa disebut rombongan bukan?). Mereka memilih tempat duduk di sebelah saya. Penampilan mereka biasa-biasa saja, yang justru membuat saya berasumsi mereka adalah keluarga berpendidikan (dan berada).

Duduk sebelahan seperti ini membuat percakapan mereka mau tidak mau terdengar juga. Dimulai dari si anak yang bercerita soal rencana outing bersama teman-temannya. Dilanjutkan dengan dia mengeluh teman-temannya yang mau berkunjung ke Jogja (tempat dia kuliah) yang merepotkan tapi tidak enak mau menolak. Ibu menanggapi dengan support pada si anak. Bapak, coba memberikan solusi yang kemudian diamini si anak.

Percakapan kemudian berlanjut soal rencana si anak setelah wisuda. Ibu menginfokan lowongan pekerjaan sebagai LO untuk kegiatan PBB. Bapak cerita soal isu kantornya. Teman-teman gokilnya. Dan terus berlangsung…

Mereka ini bikin saya kangen rumah. Percakapan mereka ringan, penuh tawa, hangat, kekinian, dan biasa saja. Kami (saya dan Bapak Ibu) kalau ngobrol memang topiknya tidak se-up to date itu. Tanggapan Bapak Ibu juga jauh lebih standar bila dibandingkan dengan Bapak Ibu itu. Tapi, hangatnya mereka bikin pingin pulang.

Iya, sejak saya mendengar apa yang diceritakan si anak, saya memutuskan berhenti belajar dan pause Liszt. Makanya semua bisa saya dengar. Hahaha.

Sambil saya nulis ini, yang sedang berlangsung adalah obrolan soal wisata laut Indonesia dan perilaku para wisatawan. kewl!

*masih sebulan lagi sebelum jadwal pulang Jogja* šŸ˜

Leave a Reply