#23 Should I?

Should I care what other people think about me? Banyak yang bilang tidak. Alasannya, buat apa peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita? Toh, tiap orang memiliki persepsi dan nilai diri yang berbeda-beda. Masak iya musti nurutin semua itu. Sementara itu, beberapa orang yang lain berkata ya kita sebaiknya memang peduli karena kadang apa yang mereka pikirkan baik bagi kita. Bisa jadi masukan positif.

Unfortunately, saya ndak tahu juga musti mengambil jalan yang mana. Kadang saya pilih untuk tidak ambil pusing, tapi di lain waktu saya berpikir ulang. Apa memang sebaiknya saya nurut mereka ya? Sering juga saya mendapat saran untuk mengambil jalan tengah. Ambil yang positif dan jadikan yang negatif sebagai masukan tapi jangan terlalu diambil hati.

Hahaha…

Ambil jalan tengah sama sulitnya seperti mempertahankan idealisme Pancasila bagi Indonesia. Pancasila kan ndak Barat dan ndak Timur juga. Berusaha mengambil sisi positif dari dua paham. Dan itu susah. Buktinya sampai saat ini identitas negara malah hampir hilang entah ke mana. Selain ada di buku PKn anak sekolah, tentunya.

Mengutip Michael Miles, penulis Thirty Days to Change Your Life, menurutnya “live our life by means of a set of values – not values imposed from the outside by others, but innate values which come from within. If we are driven by these values and not by the changing opinions and value systems of others, we will live a more authentic, effective purposeful and happy life.”

Mungkin benar apa kata beliau. Sebelum kita menentukan sikap akan mendengar apa yang orang pikirkan tentang kita atau tidak, sebaiknya kita memiliki nilai yang nantinya bertindak sebagai dasar perilaku. Nilai tersebut adalah yang datang dari dalam diri. Bukan yang datang dari opini orang lain. Dengan demikian dalam menjalani hidup menjadi lebih ringan, murni, dan tidak terbebani.

Tapi mungkin juga tidak. Kadang ego kita sangat kuat sehingga dalam menetapkan nilai bisa jadi merupakan hasil keinginan semata. Tidak ada pemikiran benar dan salah. Akibatnya, tindakan kita menjadi yang kalau dalam bahasa Belanda disebut seenak udelmu sendiri atau as delicious as your belly button.

Lalu, seharusnya bagaimana?
Entah bagaimana yang benar. Atau bagaimana yang seharusnya. Saya hanya kepikiran, mungkin nilai yang dimaksud Miles sebaiknya muncul dari Kitab Suci yang dipercaya (kalau percaya ya). Kebenaran mutlak hanya Tuhan yang punya. Kalau kita berusaha melakukan sesuatu berdasar Kitab Suci, mungkin kita bisa mendekati kebenaran itu. Apalagi kebenaran menurut manusia kan belum tentu sama dengan kebenaran menurut Tuhan.

Well, ini untuk yang masih percaya Tuhan sih 😉
Note: ini tulisan tahun 2010 yang pernah saya muat di blog lama. Sudah lima tahun dan saya masih sering bingung musti gimana 😐

Derawan 24 Des 2012
Derawan 24 Des 2012

Leave a Reply