#6 Kata Paling Berbahaya dalam Pensiun

Ada satu kata yang sering kita ucapkan, setiap hari kita lakukan, padahal kata-kata tersebut cenderung salah dan menjerumuskan. Dalam hal merencanakan keuangan, kata-kata ini bahkan lebih sering terdengar. Maka tak heran bila banyak orang yang bermasalah dalam pensiun mereka karena sering melakoni kata-kata ini.

Kata yang paling berbahaya dalam merencanakan pensiun adalah “kira-kira”. Kebanyakan orang mempersiapkan pensiun mereka hanya bermodal “kira-kira”, sama seperti mereka mengira-ngira skor pertandingan sepakbola atau mengira-ngira siapa partai dan presiden yang akan memenangkan Pemilu.

Manusia memang makhluk yang unik. Untuk hal-hal yang besar, mendasar, dan sangat mempengaruhi hidup kita di masa depan, kita sering memandang sepele. Sebaliknya, untuk hal-hal yang remeh justru sering terlalu banyak pertimbangan (overthinking). Misalnya, untuk beli baju seharga Rp 200 ribu, kita sering berpikir berulang-ulang. Sementara untuk memikirkan investasi di masa depan, kita gampang saja membuat keputusan.

Banyak dari kita yang melakukan perencanaan pensiun bermodal “kira-kira”. Saya akan pensiun kira-kira di umur sekian tahun. Saya akan butuh biaya hidup ketika saya pensiun kira-kira sekian rupiah per bulannya. Saya akan berinvestasi untuk masa pensiun saya kira-kira sebesar sekian rupiah. Padahal, pensiun butuh perencanaan yang matang dan akurat. Kita tentu tak ingin masa pensiun justru merepotkan anak cucu, bukan?

Masa pensiun sebenarnya bisa dijalani dengan enjoy selama kita tahu rumusnya, yaitu: bangun aset yang bisa memberikan pendapatan (residual income) lebih besar daripada pengeluaran (monthly expenses).

Aset dalam hal ini adalah kekayaan kita. Aset bisa berupa: (1) bisnis yang kita miliki, (2) properti atau real estate, dan (3) paper asset. Aset bisnis misalnya usaha kontraktor yang dikerjakan bersama teman atau waralaba (franchise) yang dipunyai. Properti atau real estate misalnya apartemen atau kos-kosan yang disewakan. Paper asset misalnya deposito, saham, reksadana, atau obligasi.

Pensiun sesungguhnya mudah untuk direncanakan. Fokuskan masa kerja untuk membangun aset yang memberikan residual income. Sisihkan pendapatan untuk membeli saham atau reksadana. Kita juga bisa mulai mengambil cicilan apartemen untuk disewakan. Atau, bisa bergabung bersama teman-teman untuk membangun bisnis bersama.

Aset tersebut akan memberikan pendapatan secara periodik. Kalau beli saham atau obligasi, kita akan menerima dividen atau bunga kupon. Kalau punya apartemen dan kos-kosan, kita akan memperoleh uang pendapatan sewa. Kalau punya bisnis dan menguntungkan, kita akan dapat bagian dari keuntungan itu.

Kapan kita bisa pensiun? Kapan saja kita mau.

Kalau ingin lebih cepat pensiun (pensiun dini), berarti kita perlu menaikkan pendapatan. Caranya, tingkatkan investasi saham dan obligasi agar pendapatan dividen dan bunganya makin tinggi. Kita juga bisa menambah ruko dan kos-kosan untuk disewakan supaya pendapatan sewa yang diperoleh bertambah. Atau, bisa dengan mengembangkan bisnis supaya omsetnya makin tinggi.

Cara lain, kita bisa menurunkan atau membatasi pengeluaran Kalau selama ini pengeluaran kita Rp 10 juta per bulan, coba turunkan jadi Rp 9 juta atau Rp 8 juta sebulan. Kalau setiap hari kita mengendarai kendaraan pribadi, mengapa tidak mencoba menggunakan kendaraan umum 2 kali atau 3 kali seminggu? Cari pos-pos pengeluaran yang bisa dihemat dan dikurangi.

Nah, ketika pendapatan sudah melebihi pengeluaran, maka kita sudah bisa pensiun saat itu juga. Yang menarik, baik itu pendapatanmaupun pengeluaran, semuanya bisa kita hitung dan rencanakan sendiri. Bukan sekedar “kira-kira.”

Akhir kata, pensiun sesungguhnya bukan sesuatu hal yang menjadi momok dan perlu ditakuti. Sebaliknya, pensiun itu bisa direncakanan dengan mudah dan akurat. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah hapus kata “kira-kira” dan mulai menghitung dan merencakanan pensiun dengan akurat menggunakan rumus di atas. Dengan data yang akurat, perencanaan keuangan menjadi lebih mudah, terukur, dan dapat diandalkan.

Bukan sekedar “kira-kira.”

http://bit.ly/BNI_Simponi

2 thoughts on “#6 Kata Paling Berbahaya dalam Pensiun

  1. sekarang sih baru mikir “kira-kira kapan gajian ya?” tapi setelah itu sepertinya bakal mikir juga tentang dana pensiun, investasi, asuransi kesehatan dll.

    ini ciyan banget (._.)

Leave a Reply