Uang Belum Cukup Membuat Bahagia

Istilah Kebahagiaan Bruto Nasional (Gross National Happiness) pertama kali dimunculkan oleh Raja Bhutan Jigme Singye Wangchuck. Istilah ini berakar dari pemikiran kaum Budha bahwa tujuan utama dari hidup adalah kebahagiaan dalam diri (inner happiness). Oleh karenanya, sang raja merasa bertanggung jawab untuk membangun negaranya berdasar ukuran kebahagiaan rakyat dibanding berdasar ukuran perekonomian seperti GNP (Pendapatan Domestik Bruto).

Nampaknya apa yang direncanakan petinggi Bhutan terkait the pursuit of happiness cukup membuahkan hasil. Business Week baru-baru ini melansir artikel tentang negara paling bahagia di dunia. Peneliti yang berasal dari Britain’s University of Leicester ini menggabungkan lusinan matriks statistik untuk meranking negara dengan pemikiran akan kebahagiaan yang sulit dipahami secara umum. Dari banyak negara yang diteliti, Bhutan menempati peringkat delapan. Dikalahkan oleh Denmark, Switzerland, Austria, Islandia, Bahama, Finlandia, dan Swedia.

Pencapaian Bhutan cukup unik mengingat meski bukan terbesar, populasi warga Bhutan dibanding sebelas negara tertinggi lainnya cukup lumayan besar, yaitu 2,3 juta penduduk. Apalagi dari jumlah ini, harapan hidup mereka hanya 55 tahun. Terendah dibanding sebelas negara terbahagia lainnya. GDP per kapita mereka pun sangat rendah bila dibanding negara terbahagia lainnya, yaitu hanya $1,400. Bandingkan dengan Denmark, Switzerland, Austria, Islandia, Bahama, Finlandia, Swedia, Brunei, Kanada, Irlandia, dan Luxembourg yang kesemuanya br-GDP di atas $20,000.

Menurut BW, kebahagiaan penduduk Bhutan diperoleh dari, selain karena nasionalisme mereka yang tinggi, juga karena ketatnya pemerintahan setempat terhadap budaya asing yang masuk. Mereka membatasi turisme, pembangunan, dan imigrasi di negara tersebut. Sudah berabad lamanya, Bhutan mengikuti model pembangunan yang tradisional, yaitu pembangunan yang berdasar kualitas hidup. Mereka berpegang pada paham menghormati alam dan batasan-batasan budaya, dibandingkan ’sekedar’ menjunjung kuantitas materi produksi dan konsumsi.

Rendahnya GDP Bhutan, mendukung penelitian yang dilakukan Manel Baucells dan Rakesh K. Sarin dengan “Does Money Buy You More Happiness?”-nya. Berdasar penelitian itu, ternyata peningkatan GDP tidak dibarengi dengan peningkatan kepuasan hidup warga. Jepang dan Amerika, contohnya. Dari tahun 1950-an hingga tahun 2000-an, Jepang dan Amerika mengalami peningkatan GDP yang cukup bisa dibilang signifikan. Meski demikian, kepuasan hidup mereka relatif konstan tiap tahun.

Warga Amerika

Warga Jepang

Bisa dipahami bahwa AS dengan peradaban yang maju ternyata ‘hanya’ menempati peringkat 23 [entah Indonesia ada di peringkat berapa :P ]. Peradaban maju tersebut barangkali telah mendorong penduduknya hidup dengan laju yang sangat cepat sehingga tidak sempat menikmati apa yang ada di sekitar. Peradaban maju tersebut mungkin yang menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk selalu mengejar yang lebih modern dan lebih modern lagi sehingga lupa mensyukuri apa yang telah dicapai sekarang.

Bacaan ini mengingatkan saya pada perbincangan beberapa hari lalu dengan adek saya. Ia mengatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi dengan uang, kita bisa membeli banyak hal yang membuat kita bahagia. Ah ya benar juga. Ungkapan umum yang ia sampaikan itu menurut saya baik. Artinya, karena uang bukan segalanya, maka dalam mendapatkan uang tidak boleh kita sampai melukai orang lain, secara fisik ataupun non fisik. Di sisi lain, dengan uang kita bisa melakukan banyak hal untuk kepuasan diri. Karenanya, kita harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan diri dan membahagiakan orang lain :)

Do not take life too seriously. You will never get out of it alive. ~Elbert Hubbard

53 Responses to “Uang Belum Cukup Membuat Bahagia”

  1. fanz Says:

    bener
    uang g bisa membeli kebahagiaan :D

    hehe :)

  2. Arm Says:

    dan kebahagiaan itu relatif.. saya tidak tahu apakah saya bakal bahagia jika saya tinggal di Bhutan :)

    *salam kenal btw :) *

    hahaha
    benar,,,apalagi mengingat di sana budaya luar sangat dijaga
    mungkin kalau di indonesia, ndak ada fesbuk & blog kali ya :D

  3. Menik Says:

    kebersamaan bersama keluarga lebih penting dan ga bisa dibeli pake uang..
    *doh jadi curhat, OOT pula* :lol:

    sini sini peluk… (cozy)
    curcol di blog orang… *penthung-penthung*

  4. harri Says:

    sepakat.. tp uang bs beliin bengsin ak :D

    iyaa uang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tapi kebutuhan di atas itu belum tentu :D

  5. denologis Says:

    setuju dengan bunda menik, kehangatan keluarga lebih berharga dari panasnya uang. :)
    at all, salut untuk bhutan!

    kalau uangnya panas, sini sini…saya pegangin aja :lol:

  6. wahyoe Says:

    BW = Bung Wahyoe tho buuu…hehehe….

    *penthung-penthung wahyoe* :P

  7. yella Says:

    segalanya butuh uang tapi uang bukan segalanya hehe

    lha iya..kan udah ditulisa di atas
    wayoo fasriding pasti,, (angry)
    :lol:

  8. Jiban Says:

    memang lebih biak hidup bahagia, daripada hidup banyak uang tapi nggak bahagia. Siksa dunia tuh, punya banyak uang tapi nggak bahagia hahahaha

    saya sih milih hidup bahagia dan banyak uang :lol:

  9. Billy K. Says:

    kalo indonesia, gimana wen?

    nah itu, di BW ndak disebut, mas, Indonesia ada di peringkat brapa :D

  10. yusdi Says:

    makanya aku ga bisa ngasi duit ke pacarku…cuma bisa ngasi cinta n kasih sayang…..*halah*

    pantes kemaren si mbak curhat,,katanya ndak dikasih uang belanja
    *dipenthung

  11. David Pangaribuan Says:

    Akhirnya aku sampai dirumah baru nya, its real good Mbak. Posting yang sangat menarik dan kaya dengan pemahaman. Kebahagian … memang merupakan tujuan dari setiap orang …namun sering kita membohongi diri kita sendiri, yang tampak dari sikap dan tindakan kita kadangkala tidak sejalan dengan tujuan hidup kita sendiri.

    Faktor eksternal dan sesionnal sangat dominant mempengaruhi setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil dalam mendapatkan kebahagian itu sendiri. Uang adalah salah satunya, saya sangat suka dengan pernyataan Mbak tadi “uang bukan suatu jaminan membuat kita bahagia, walau uang mampu memberikan kita mendapatkan banyak hal yang membuat kita bahagia”, salam

    thanks sudah mampir :)
    sepakat bahwa faktor eksternal dan sesional sangat dominan. namun menurut saya, di atas itu masih ada peran diri secara internal yang ndak kalah kuat. kalau diri pandai bersyukur barangkali dia akan mudah merasa bahagia :D

  12. kahfinyster Says:

    yah,,ntu lah uang,,emang ga cukup buat bikin kita seneng,,

    iyah.. :D

  13. edratna Says:

    Bahagia itu harus dibuat. Uang berlimpah tak ada hubungannya dengan kebahagiaan. Tapi kalau miskin, jelas kurang atau tidak bahagia, karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari aja sulit.

    Kebahagiaan adalah nilai yang sangat individu sifatnya, yang sulit untuk diukur, bahkan jika berdasarkan penelitian…

    iya, bu. saya jadi inget postingan ibu tentang kebahagiaan ini beebrapa waktu lalu.
    bahagia menurut saya muncul dari rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki :)

  14. HeLL-dA Says:

    Peradaban maju tersebut barangkali telah mendorong penduduknya hidup dengan laju yang sangat cepat sehingga tidak sempat menikmati apa yang ada di sekitar.

    Saya setuju banget dengan kalimat ini, Mbak..
    Karena terlalu fokus mendapatkan uang, dan bahkan setelah kaya juga, mereka lupa untuk menikmatinya serta menikmati apa yg ada di sekitar.

    ho’oh, mbak.
    ego dan nafsu yang menurut saya membuat kebanyakan orang kemudian lupa menikmati apa yang sudah ada :D

  15. dafhy Says:

    yup gak semua bisa dibeli dengan uang

    iya :mrgreen:

  16. Cipzto Says:

    enjoy aja walo lagi boke :D

    ah iya, benar juga…dibawa santai aja yak :P

  17. Andre Says:

    Iya, betul..saya setuju kalo peningkatan keuangan bukan solusi atas kebahagiaan seseorang..

    mungkin lebih tepatnya, bukan satu-satunya solusi. masih ada solusi lainnya :D

  18. abdee Says:

    Indonesia mungkin gak bisa diperingkat…

    hahaha
    saya curiga begitu. tapi kalau tidak salah (baca di KR semingguan yang lalu) indonesia masih banyak kemiskinan tapi masyarakatnya banyak yang merasa senang. peringkatnya pun lumayan kok.
    sayang saya lupa persisnya edisi kapan dan itu berdasar penelitian dari mana :mrgreen:

  19. Billy K. Says:

    silakan.. laporan terbaru soal jason mraz..

    btw,, yang dotkom ituh, beda lagi ceritanya.. itu beda tujuan ;-)

    woooo pantes,,hehe :mrgreen:
    *masi ngiri soal mraz :P

  20. abee Says:

    masih berlaku hukum gossen?

    wah pertanyaan berat.
    terhadap uang atau kebahagiaan?
    kalau menurut saya sih pada kebahagiaan ndak berlaku hukum ini. tapi untuk uang, bisa saja berlaku. hanya saja akan sedikit lain nanti bahasannya.
    manusia butuh uang–>manusia bekerja untuk mendapat uang (atau membuat uang bekerja untuk manusia)–>manusia akan terus berusaha mendapatkannya.
    pada titik tertentu ketika uang sudah banyak tapi kebutuhan non fisiknya belum terpenuhi, usaha manusia akan beralih menjadi lebih mengarah pada perolehan kebutuhan non fisik.
    CMIIW, pak guru :mrgreen:

  21. zoel Says:

    tapi uang sangat penting sekali….

    iya benar…btw, saya kan ndak bilang uang ndak penting :mrgreen:

  22. Pak Dhe Wicak Says:

    betul itu apa yang dikatakan mbak menik
    :D

    *penthung-penthung bunda menik*
    curcol tapi malah eksis :P

  23. ichanx Says:

    however…. uang adalah salah satu sumber kebahagiaan… kalo gak ada uang mah, makan aja susah… gimana mo bahagia? btw… indonesia dapet ranking berapa ya?

    iya benar…uang itu untuk memenuhi kebutuhan dasar
    ranking indonesia yang berdasar liputan BW saya ndak dapet, mas… :oops:

  24. okta Says:

    uang is everything, cuma ga semua bisa dibeli dengan uang…

    yup :)

  25. masjogja Says:

    Wah, reminisensi.
    Saya pernah presentasi ttg ini sekitar 2 tahun lalu. waktu itu Bhutan jd pusat perhatian, GDP growth mereka hampir 13%, di atas rising stars India, China & UEA.
    Saya ingat betul, nama mata uang mereka yang lucu: Ngultrum :D

    yah, nyampe juga kesini, mas :P
    2 tahun lalu…2007. pas masi kuliah dong.
    kuliahnya sapa mas?

  26. bikpici Says:

    kebahagiaan itu diciptakan, seperti kata PING, “Kebahagiaan bukan merupakan tujuan. kebahagiaan adalah proses, sebuah pelajaran menakjubkan yang penuh dengan rintangan” dan itu jauh banget kalo cuma ngarep dari doku :D mending makan duku :D

    waaa,,saya suka quotenya itu :D

  27. arvernester Says:

    hmmm,, koemntar apa yah?
    ndak ngerti neh,, hehehe :p

    hehehe
    ndak papa
    udah mau mampir kesini juga saya udah seneng :mrgreen:

  28. jenderal abee Says:

    seperti tulisan saya kemarin, bahwa kebutuhan manusia berdasarkan sifat nya ada dua. kebutuhan jasmani dan rohani. orang yang bisa memenuhi kebutuhan jasmaninya belum tentu memenuhi kebutuhan rohaninya. dengan kata lain orang bisa mendapatkan sesuatu untuk fisiknya dengan uangnya tapi belum tentu bisa memenuhi kebutuhan hatinya yaitu kebahagiaan. karena orang kaya belum tentu bahagia…..tapi banyak orang tak mampu yang bahagia….semua berpulang pada keadaan hatinya……

    abe ikut2… *penthung-penthung*
    hehehe :mrgreen:

  29. Cak Shon Says:

    setuju

    apanya?

  30. anto84 Says:

    Waduh2 mumet aku baca postingan orang pinter

    postingan saya postingan dukun?

  31. kipram Says:

    Bener juga tuh, uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang

    iyah…
    thanks udah mampir :)

  32. agung agriza Says:

    di indonesia juga banyak org kaya tapi sakit2an mulu, btengkar mulu kerjaanya, malah lbh bahagia anak petani deh .

  33. Rian Xavier Says:

    Kebahagiaan itu tergantung bagaimana kita mendefinisikannya memang.

  34. adit Says:

    hhmmm…uang memang bukan segalanya tapi ga munafik sih kalo gw butuh uang mba.
    salam kenal :D

  35. emfajar Says:

    yang penting bersyukur dengan apa yg udah di dapat pasti bahagia..

  36. fandi88 Says:

    lah kog kita ngebahas hal yg sama ya,, *ga’ percaya silakan berkunjung*

    Lam kenal yah.. tapi uang tidak bisa membeli sebuah kebahagiaan,, :)

  37. muhamaze Says:

    tetapi sekarang orang lebih sering menganggap uang adalah segala-galanya yaa…

  38. p3durungan Says:

    Tapi lebih banyak yang merasa kebahagian bersumber pada hal yang duniawi dan materiil seperti uang…

  39. Edi Psw Says:

    Setuju, berapapun banyaknya uang tidak akan sebanding dengan kebahagiaan.

  40. frozzy Says:

    *nyanyi lagu beatles ah*
    can’t buy me love……
    looooveeee….
    can’t buy me looooveee….
    *brenti, keburu dipentung ama yg punya blog…heuheuheue*

  41. sibaho Says:

    uang bukan segalanya. cuma nomor satu :P

  42. mrpall Says:

    uang…hmmm klo di tinggalkan ama yg satu ini sedih juga yah

  43. Rian Xavier Says:

    yup betul. Setuju saya sama postingannya.

  44. aliefte Says:

    Ia mengatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi dengan uang, kita bisa membeli banyak hal yang membuat kita bahagia.

    ^ SETUJU !!! ^

  45. kenuzi50 Says:

    mampir aja….. salam kenal….

  46. cK Says:

    uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi bisa membuat orang lain bahagia… :lol:

    huwahh ada mbak chika,,
    terima kasih, mbak…dah sempet mampir :mrgreen:

  47. ubadbmarko Says:

    Uang memang belum tentu menimbulkan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan datang salah satunya dengan uang.
    Salam.

  48. mrpall Says:

    emang seh uang bukan satu2nya modal buat bahagia….kepuasan hidup relatif konstan tiap tahun, itu yang penting

  49. arafi Says:

    setuju..tulisannya bemutu bgt. skrng ne yg qt kejar emang uang. tapi dengan uang belum tentu qt bs bahagia

  50. joe Says:

    ternyata kata saja tidak menjamin bisa bahagia, apalagi yang miskin ya?

  51. achoey Says:

    bener deh Wen

    aku juga punya postingan yg nyaris kesimpulannya sama :)

  52. Deddy Huang Says:

    Setidaknya untuk saat ini, ya.. uang bisa membahagiakan gw :D

  53. Mahendra Says:

    Yaa…, uang memang penting…, tapi bukan segalanya… Tabik… :)

Leave a Reply