Susahnya Adil

November 9, 2008 at 3:08 am
filed under Heart, Manajemen, Miscellaneous, Opini

Bagi saya, berbuat adil sangatlah sulit. Berusaha sekuat apapun, selalu muncul sisi subjektif dari dalam hati sehingga mengaburkan entitas keadilan itu.

Hal ini baru saja saya alami. Saya diharuskan mengoreksi tugas-tugas para mahasiswa. Saya dulu mengira pekerjaan mengoreksi tidaklah sulit. Tinggal baca, nilai, sudah. Selesai. Tapi sekarang, ternyata mengoreksi itu sangat susah, saudara-saudara.

Begini. Dosen memberi tugas membuat esai pada mahasiswa. Beliau menjelaskan panjang lebar mengenai esai seperti apa yang beliau inginkan untuk dikerjakan dan bagaimana seharusnya esai tersebut dikerjakan. Sepanjang dan selebar apapun penjelasan itu, akan ditangkap berbeda-beda oleh mahasiswa. Ada yang bisa menangkap 100% plek dengan keinginan dosen, ada yang 90%, atau bahkan hanya 60%. Dengan kadar penangkapan yang berbeda-beda itulah, para mahasiswa membuat esai. Dan viola! jadilah setumpuk esai hasil karya mereka.

Nah inilah, bagian sulitnya. Pengoreksi merupakan penengah antara dosen dan mahasiswa. Berarti, harus bisa memahami apa keinginan dosen dan harus bisa menangkap maksud dari esai yang dibuat mahasiswa. Di samping kedua hal itu, ada sisi dari diri si pengoreksi yang memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana seharusnya esai tersebut dinilai. Sekalipun subjektif, kadang-kadang perasaan itu sangat mendominasi .

Belum lagi bila ditambah dengan faktor-faktor X lain yang mengelilingi proses penilaian. Misalnya, si pengoreksi kenal dengan mahasiswa, si pengoreksi tidak suka dengan topik yang dipilih mahasiswa, si pengoreksi sedang terbebani banyak persoalan sehingga melihat kertas bertumpuk-tumpuk rasanya sudah malas, atau alasan-alasan lain yang lebih menunjuk pada subjektivitas.

Mensinkronkan hal-hal itu, kemudian mengkuantifikasikannya secara adil terasa sulit bagi saya. Apalagi jika status saya masih ‘dalam percobaan’. Semua yang saya lakukan harus sesempurna mungkin .

Solusinya, sewaktu koreksi tugas, saya buat kriteria penilaian. Kriteria ini yang nantinya mengontrol agar penilaian bisa tetap adil. Kriteria ini juga yang nantinya diserahkan ke dosen bila beliau meminta. Tentu saja di dalam kriteria tersebut tidak boleh ada kolom “saya kenal/tidak” . Jika perlu, diskusikan dulu dengan sang dosen apakah kriteria yang dibuat sudah sesuai atau belum. Dengan cara ini saya berusaha lebih objektif dan adil pada para mahasiswa yang ngguantheng-ngguantheng dan cuantik-cuantik itu.

Uhm, ada saran lain?

1 comment

RSS / trackback

respond

  1. michaelsiregar

    on November 9, 2008 at 11:34 pm

    Bah…kalau ada saudara nggak bisa nitip nilai bagus juga…?! he..he..he….
    Salam dari jauh.

    gak bisa..gak bisa… :lol: