Suatu pagi di sebuah supermarket.
Mbak kasir terlihat sedang mencolok-colokkan barcode barang ke alat pembaca barcode yang menjadi bagian dari mesin kasir. Tampak di layar komputer total yang harus dibayar untuk barang-barang yang dibeli sejumlah Rp9.950,00.
Si pembeli kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Pas ya, mbak, uangnya. Terima kasih. Semoga berkenan datang kembali,” kata mbak kasir itu.
Doenkkk!!!
Sejak kapan sepuluh ribu sama dengan sembilan ribu sembilan ratus lima puluh??
Uhm, di supermarket lain yang saya temui, biasanya kembalian lima puluh rupiah akan berupa sebutir permen. Dan itu sudah kurang etis bagi saya. Lha kok ini ada mbak-mbak kasir yang dengan ramahnya membulatkan ke atas untuk duit yang harus dibayarkan.
Kalau pembeli ‘dipaksa’ membayar sepuluh ribu untuk sejumlah tagihan sembilan ribu sembilan ratus lima puluh, mau gak ya supermarket itu menerima bayaran sembilan ribu sembilan ratus lima puluh untuk tagihan yang seharusnya sepuluh ribu?
Pembaca, ini bukan sekedar tentang uang Rp 50,00. Ini terkait apa yang namanya etika bisnis. Dosen saya dulu bilang, “Seharusnya supermarket tidak boleh memberi kembalian berupa permen. Karena jika dibalik, apa mereka mau menerima bayaran sekarung permen untuk barang yang dibeli di supermarket itu? Lha kayak kita balik ke jaman barter aja.” [huhuhu…pak dosen cepatlah pulang.. Belajar di sana jangan lama-lama..saya kangen diomelin ne
].
Gatel banget denger omongan mbak kasir itu. Mau protes ya percuma wong pasti dia cuma menjalankan SOPs (standard operating procedures) yang diterapkan manajemen supermarket. Mau ngomong sama manajer supermarket ya percuma juga wong dia pasti Cuma nurutin kata manajer supermarket yang ada di pusat [supermarket ini merupakan supermarket waralaba]. Yah, akhirnya saya cuma bisa tersenyum geli…
Ada yang pernah mengalami hal serupa?
Mustinya memang pembelinya protes tuh, biar nggak jadi kebiasaan.
kalo sekarang supermarket biasanya emang membulatkan nilai belanjaan. tapi membulatkannya ada yang ke atas dan ada yang ke bawah. saya suka supermarket Superindo, walopun membulatkannya ke atas, tapi pembulatan itu disumbangkan buat orang2 yang kurang mampu..
numpang komen…untuk hal yg atu ini saya sering ngalamin, ya bgitulah kira2 tradisi d negeri ini, ya ngamal dkit bleh kan…asal jngan kterusan aj, kyaknya siy emang hrus d bnerin tuh managerialnya yg lbih profesional tentunya, walau taraf supermarket profesionalisme perlu donk…
Jangan salah. Rp. 50,00 itu buwat retribusi PDK, Pajak Duit Kegedean hehehe.
Yang mirip-mirip mungkin duit robek yang diselotip. Sering banget dapat gini dari duit kembalian di tempat belanjaan. Nah kalau besok-besok kita belanja di tempat yang sama pasti kasirnya nolak. Adil ga tuh?
Ya itu ada hubungan sama budaya konsumerisme kali yah? Yang mbayar bukannya dapat kemudahan, tapi malah kerepotan sama barang yang dibeli.
niat aja sedekah untuk orang kaya. di supermarket kan ada juga yang meminta-minta sumbangan, jadi uang kembalian itu bisa saja untuk budget memberi sumbangan…hehehe. orang kaya biasanya kan paling pelit sedekah
sebelum masuk kasir mestinya ngitung dulu, jangan sampai ada angka 50 di belanjaan
hahaha
di sini mah dah biasa.. hehehe.. enak pake kartu gesek* aja.. aman.. mudah..
*Istilah di sini chipknit, atawa pinpas. dua-duanya memiliki kelebihan tersendiri dan biasa digunakan oleh students disini.
salamhangat,
ini gimana sih… kok sewot… masalah 50 rupiah saja kok sampai sebegitunya.. sebenarnya Tuhan sedang mencoba anda.. seberapa ikhlasnya anda dalam menghadapi hal tersebut
*sok uztad*
*kabuuuuur*
Wah… kalo saya sich pernah gitu. Dibulatkan… memang waktu itu 9975. Memang kayaknya gak masalah, tapi lama-lama sebel juga kalo setiap kembali dikasih permen…
@ tukangkopi
wah..kalo yang kayak gitu sih bagus
salut deh…
@ fan80
setuju, mas
mungkin gak ya kl istilah korupsi tu bisa aja berlaku di sini?
@ hariadhi
maksudnya sama budaya konsumerisme tuh gimana to? brarti kalo berlaku budaya konsumerisme, si pembeli malah jadi pihak yang dirugikan?
maap OOT nih
@ taufik al mubarak
yup..setuju juga nih
eh btw, brarti kita ni lebih oke dari orang kaya ya? kan kita udah sedekah…hihihi
@ f4is4lm4n
huehehhe…boleh juga idenya.
@ bangzenk
salam anget juga dari saya…
emang bangzenk tinggal di mana?
@ alfaroby
ampun pak ustadz….
*ikut kabuuurr
@ Gyl
eh ternyata gak cuma saya yang bete digituin…
ayo bikin supermarket yang gak pake kembalian permen!!
Pernah! eh! engga! Bukan pernah, tapi sering…
Menyedihkan ya….
Bayangin aja, kalo pengunjung supermarketnya ada 10 dapet 500, kalo 100 dapat 5000, kalo 1000 dapet 50.000, lha itu sehari. setahun? korupsi beneran deh.
Salam kenal ya
salam kenal juga, mbak..
kalo saya sih gak mempermasalahkan limapuluh rupiah yang tidak saya terima itu…
saya cuma nyocokin materi kuliah yang saya terima sama realita di lapangan.
hehehe
Ini pricing strategy … “pembulatan keatas”
Ada yang lebih suka bilang … “sindrom kepala depan …”
Ini “psychological pricing” yang biasa dipakai oleh para produsen …
Mereka cenderung untuk memakai harga Rp 3.999.000 … untuk harga ekspektasi Empat juta … kepala tiga lebih baik dari kepala empat. Lebih menggoda konsumen untuk membeli … walaupun valuenya tidak berbeda nyata …
Kita sebagai konsumen berhak untuk meminta kembalian … berapapun itu … mereka akan berusaha mengembalikannya …
Namun ekspektasi mereka adalah … “tidak banyak orang yang mau repot-repot menagih uang kembalian yang nilainya kecil …” ini penghasilan tambahan bagi mereka … huahahhha
klo dkasi permen mah masi mending, lebih baik 50 peraknya buad amal daripada permen. nambahin gula gw aja