January 7, 2009 at 12:30 am
filed under Miscellaneous
Mungkin terlalu basi bagi kita untuk membahas sinetron. Dari jaman kapan tahun hingga sekarang, sinetron masih saja menghiasi jam-jam prime time stasiun-stasiun TV tanah air. Peristiwa yang baru saja terjadilah yang membuat saya kembali membahas sinetron. Beberapa waktu lalu seorang rekan, sebut saja rekan-yang-gemar-sinetron (RYGS), membuat pernyataan mengejutkan. Setidaknya buat saya. Dia bilang, “Kalau bukan kita orang Indonesia, lalu siapa yang mau nonton sinetron??”
lho?? kok jadi dibalik-balik gitu…
Pernyataan rekan saya itu terlontar saat ada rekan saya yang lain yang protes karena TV-nya selalu disetel sinetron. Kata rekan saya itu, sebut saja rekan-yang-tidak-suka-sinetron (RYTSS), “sinetron kok ditonton…bikin ketagihan tauk!!”
No offense buat para pecinta sinetron, tapi saya berpihak pada RYTSS. Bukan apa-apa, selama ini saya mencoba menikmati menyaksikan sinetron. Awalnya sih okelah, alur cerita agak bagus. Namun lama-kelamaan, saya mulai bertindak jadi penulis skenario. Maksudnya, alur ceritanya itu lho mudah sekali ditebak.
Jika ditanya mengapa saya malas menonton sinetron. Maka jawabnya adalah:
1. mempertontonkan kesadisan
Meski sekarang sudah sedikit sinetron macam Bawang merah Bawang Putih, tetap saja bau sarkasme itu ada. Parahnya, kesadisan yang dipertontokan dalam sinetron adalah yang mudah diadaptasi oleh masyarakat umum. Sebagai contoh, mendorong orang tua hingga terjatuh, menghina guru yang (maaf) miskin, mengucilkan teman sekolah yang kurang cantik, marah-marah dengan merusak benda-benda di sekelilingnya, hingga penerapan prinsip “apa aja halal, asal tujuan gw terpenuhi.” ![]()
2. sinetron = candu
Nonton sinetron ndak cukup seminggu dua minggu. Ya kecuali untuk sinetron-sinetron pendek yang belakangan muncul di statsiun swasta. Alur cerita dalam sinetron seringkali dipanjang-panjangkan. Sengaja dibuat dipotong di bagian yang membuat penonton penasaran. Okelah, kalau trik semacam ini bahkan di film Heroes pun ada. Tapi setidaknya, Heroes jarang sekali menayangkan adegan ’sisipan jalan’ antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Saya jadi ingat kata-kata produser sinetron Cinta Fitri yang dengan bangga berencana membuat 777 episode dan menjadi sinetron dengan episode terpanjang. Sebuah prestasikah itu? ![]()
3. alur mudah ditebak
Pasti tokoh protagonis harus diterpa kesedihan berkepanjangan, didera sakit yang tak kunjung usai, dan disiksa mental maupun raganya sebelum dia akhirnya menjadi ‘pemenang.’ Tokoh antagonis yang berjaya. Ya memang sih, mungkin si penulis skenario ingin menunjukkan bentukan peribahasa ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.’ Tapi kok ya… Jadi curiga, jangan-jangan ukuran mereka L…lebay. ![]()
Saya jadi membayangkan, bagaimana bila kemudian anak kecil menyaksikan sinetron. Bukan salah mereka kalau kemudian mereka lebih memilih menjadi antagonis. Anak-anak akan membentuk persepsinya sendiri tentang tokoh-tokoh dalam sinetron itu. Yang mana yang menurut mereka menyenangkan. Muda, kaya, berkuasa. Siapa yang nolak jadi seperti itu?
4. adegan-adegan yang berbahaya
Misal, sudah tahu akan ditabrak mobil, kenapa bukannya segera minggir tapi malah membelalakkan mata. Mungkin apologinya adalah namanya juga kaget, nalar bekerjanya belakangan. Kalau menurut saya, kenapa ndak dibuat cerita yang menggiring penonton untuk mengutamakan nalar saat menghadapi kejadian macam itu. Misalnya ya dengan cara si-akan-tertabrak segera minggir.
Contoh lain, adegan seseorang yang gamang kemudian berjalan sendiri di tengah malam sementara hujan deras mengguyur. Oh ayolah, efek dramatisnya ndak ada menurut saya. Menyiksa diri itu namanya. Diusir sih ya diusir. Lagi ada pikiran sih ya lagi ada pikiran. Tapi kan tidak perlu dengan cara seperti itu. Bagaimana bila adegan itu menginspirasi seorang anak yang ditegur orang tuanya karena ndak mau belajar. Mereka merasa orang tua sudah tidak sayang lagi kemudian mereka memilih kabur. Mana sisi edukasinya?
Setidak suka apapun saya terhadap sinetron, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan PH pembuat sinetron itu telah menyerap cukup tenaga kerja Indonesia. Idealisme tentulah menjadi kabur saat PH-PH tersebut dihadapkan pada fakta bahwa mereka juga harus memberi makan karyawan-karyawan mereka. Bagi karyawan sendiri, dunia hiburan merupakan dunia yang ndak ada matinya. Setiap waktu seseorang akan butuh hiburan. Dan untuk saat ini memang sinetron merupakan lahan rupiah yang menggiurkan. Tidak sepenuhnya salah mereka juga bila mereka memilih bekerja di PH-PH itu. Toh, mencari kerja memang sekarang susah. Bagi artisnya sendiri, tidak bisa disalahkan juga bila mereka mau main sinetron. Meski untuk beberapa artis saya menyayangkan mereka yang menurut saya terlalu berkualitas untuk main di sinetron. Ketenaran merupakan salah satu bentuk hasil aktualisasi diri karena dengan sinetronlah mereka dikenal dan diakui keberadaannya. Menurut teori kebutuhan Maslow, aktualisasi diri berada di puncak piramida. Puncak kebutuhan yang diidam-idamkan manusia untuk bisa dicapai. Menjadi tenar adalah salah satunya. Belum lagi jika dilihat dari sisi perolehan iklan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Oleh karenanya, menurut saya, jika memang ndak pingin ada sinetron-sinetron (maaf) kurang mendidik seperti yang banyak ada sekarang, harus dimulai dari diri sendiri. Saya yakin bahwa teman-teman semua sangat terdidik sehingga sadar tidak mau dibodohi sinetron. Untuk menghibur diri, tentu kalian punya cara sendiri yang lebih bermutu alih-alih menyaksikan kotak kaca bergambar orang bertengkar. Nah, baru setelah itu ajak orang rumah untuk tidak menyaksikan sinetron. Jika sudah, sebarkan ke teman-teman yang lain. Ya seperti dengan posting di blog. ![]()

Tidak perlu mencari kambing hitam bahwa para PH yang salah karena telah memberikan tontonan seperti sinetron. Bahwa masyarakat tidak memiliki banyak pilihan tontonan sehingga lama-lama tergoda untuk menyaksikan sinetron juga. Atau bahwa rakyat kecil sudah saking stresnya oleh kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga apapun hiburan yang menjual mimpi akan mereka saksikan. Bagaimanapun juga, menyalahkan orang lain merupakan salah satu bentuk negative attitude.
Daripada ngotot terus mengecam sinetron-sinetron itu, mari kita hentikan saja menonton acara yan menurut kita kurang baik. Lambat laun, ketika permintaan akan sinetron kurang mendidik menurun, PH akan berusaha mencari tayangan hiburan lain yang bisa mereka jual. Saat itulah kita giring mereka perlahan untuk memberikan tayangan yang mendidik bagi masyarakat. Agar Shireen Sungkar tidak perlu lagi mendapat surat cinta macam ini. Agar RYGS tidak perlu khawatir soal siapa yang akan nonton sinetron Indonesia kalau bukan orang Indonesia sendiri.
Yuk, kita bentuk generasi yang lebih bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang kurang baik. ![]()
courtesy image: itu
noval
tumben jadi yang pertamax …
sinetron udah lama, tiap hari pula
kalau sinetron Indonesia udah bisa kayak dorama (sinetronnya jepang) baru deh nonton sinetron …
abdee
ahh…. terakhir yang kulihat ya Para Pencari Tuhan… selain itu ndak ada lagi.
Paling jengkel sama SCTV…. Jam 02.00 dinihari, muter sinetron. Ampun deh.
Gyl
Hmm.. menyalahkan orang lain berarti negative attitude ya ? Hmm..
Ya, setuju…
Dalam masalah sinetron. Kalo temen-temenku ngomong sinetron ada yang jual muka tok. Maksudnya isinya muka-muka aja yang di shooting
Dulu kali pertama ada aku seneng banget nonton, jalan ceritanya bisa dinikmati dengan enak. Mulai SMP udah gak seneng - sampai sekarang. Gara-gara trend “tiru-meniru” dari PH. Bikin jenuh. Apalagi sejak SMA jadi hobby ngenet. Jadi jarang nonton TV
Kalo bukan orang Indonesia… siapa lagi ? Ya mungkin ada orang luar yang suka. Siapa tau lo
rorizki
hmm .. ada juga yang ngebahas artikel ini ..
salut!
iya, saya juga sudah mulai muak dengan persinetronan indonesia, lama-lama terasa membodohi penontonnya .. malah ga sedikit yang ceritanya niru sinetron luar,. sakit hatiii ..
paling PPT tuh yang oke .. ^^
salam kenal
Andika
Bagaimanapun juga, sinetron terus hidup karna ada penonton. Pembodohan melalui sinetron akan terus ada karna memang banyak orang yang mudah dibodohi di negeri ini. Ada juga yang bilang sinetron jadi pelarian karena menyuguhkan ‘pseudoreality’. Susah juga kalo mau menyalahkan PH, karena mereka hanya memberi apa yang disukai oleh pasar.
phery
memang sinetron sudah tak terbendung lagi sekarang ini. Tapi saat ini saya lagi suka sama sinetron Alysa. Bukan karena alurnya bagus tapi akrena ada Alisa Soebandono di sana
uthie
aku paling males sinetron belakangan ini karena mereka syuting kejar tayang dan bikin jalan cerita jadi ga jelas. dan dipanjang-panjangin cuman demi mempertahankan rating.
kalo sinetron dibikin kayak serial di luar negri itu, pake sistem season (Cinta Fitri ga masuk itungan! sok banget pake istilah season padahal teteup kejar tayang. CUIH), mungkin bisa lebih baik loh.
produksi selesai baru serialnya tayang. jadi, kalo ada yg salah dan ga sreg masih bisa dibikin lebih baik lagi. bukan malah, ntar sore diputer siangnya baru syuting. keliatan ga niat beneeerrr.
aureliaclaresta
sinetron itu ditonton oleh mereka yang pendidikannya sangat rendah. anak yang sudah pernah duduk di bangku SMA saya rasa sudah tidak tertarik lagi untuk nonton sinetron.
sinetron memang banyak yang nonton. kenapa? karena rakyat indonesia ini banyak yg pendidikannya rendah. yang udah tinggian, yg protes-protes, tapi tetep nggak ngaruh. soalnya, yg nonton masih banyak.
coba deh liat, anak-anak sd, mereka belom nganggep sinetron itu norak. nah, pembantu2 itu juga kebanyakan sekolahnya sd ato smp max. mereka nonton buat hiburan. kalo filmnya kaya da vinci code, mereka ngantuk. nggak ngerti. nggak nyampe ‘otaknya’ (maaf, kasar nih)…
yah… kalo buat yg protes-protes, jangan nonton sinetron. langganan aja tv kabel. 150ribu per bulan. kalo nggak, sewa film di rental. kalo nggak, yang SCTV, tiap pagi setelah Dahsyat, juga mending tuh. kaya FTV. Aku suka
[terutama karena nggak bersambung2]
missglasses
kalo aku nonton sinetron buat liat pemainnya yang ganteng aja, hahaha, walopun saat nonton sering keluar kata2 “apaan sih ini?”
dhilacious
iyah!
emang ga penting tuh sinetron2 skarang.
mudah-mudahan film2 indo ga ikut2an ga bermutu juga deh.
*cross finger
idha
sejak smp dah g prnah nonton sinetron lg
pas nglihat CF 1, tnyata lumayan interest.
trus skrg lagi doyan alysa…
aq g pernah nntn sampe the end
coz di p’tengahan dah mulai kelihatan blangnya.
biasa plagiat gtu hehe…