January 7, 2009 at 1:28 pm
filed under Heart, Miscellaneous, Opini
Pertanyaan seperti itu acap keluar dalam benak saya. Should I care what other people think about me? Beberapa orang bilang tidak. Alasannya, buat apa peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita? Toh, tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Masak iya musti nurutin semua persepsi itu. Sementara itu, beberapa orang yang lain berkata ya kita sebaiknya memang peduli karena kadang apa yang mereka pikirkan baik bagi kita. Bisa jadi masukan positif.
Unfortunately, saya ndak tahu juga musti mengambil jalan yang mana. Kadang saya pilih untuk tidak ambil pusing, tapi di lain waktu saya berpikir ulang. Apa memang sebaiknya saya nurut mereka ya? Sering juga saya mendapat saran untuk mengambil jalan tengah. Ambil yang positif dan jadikan yang negatif sebagai masukan tapi jangan terlalu diambil hati.
Hahaha…
Ambil jalan tengah sama sulitnya seperti mempertahankan idealisme Pancasila bagi Indonesia. Pancasila kan ndak Barat dan ndak Timur juga. Berusaha mengambil sisi positif dari dua paham. Dan itu susah. Buktinya sampai saat ini identitas negara malah hampir hilang entah ke mana. Selain ada di buku PKn anak sekolah, tentunya.

Mengutip Michael Miles, penulis Thirty Days to Change Your Life, menurutnya “live our life by means of a set of values - not values imposed from the outside by others, but innate values which come from within. If we are driven by these values and not by the changing opinions and value systems of others, we will live a more authentic, effective purposeful and happy life.”
Mungkin benar apa kata beliau. Sebelum kita menentukan sikap akan mendengar apa yang orang pikirkan tentang kita atau tidak, sebaiknya kita memiliki values yang nantinya bertindak sebagai dasar perilaku. Values tersebut adalah yang datang dari dalam diri. Bukan yang datang dari opini orang lain. Dengan demikian dalam menjalani hidup menjadi lebih ringan, murni, dan tidak terbebani.
Tapi mungkin juga tidak. Kadang ego kita sangat kuat sehingga dalam menetapkan values bisa jadi merupakan hasil keinginan semata. Tidak ada pemikiran benar dan salah. Akibatnya, tindakan kita menjadi yang kalau dalam bahasa Belanda disebut sakkarepe dhewe atau as delicious as your belly button atau seenak udelmu sendiri.
Lalu, seharusnya bagaimana?
Entah bagaimana yang benar. Atau bagaimana yang seharusnya. Saya hanya kepikiran, mungkin values yang dimaksud Miles sebaiknya muncul dari kitab suci yang dipercaya. Kebenaran mutlak hanya Tuhan yang punya. Kalau kita berusaha melakukan sesuatu berdasar Kitab Suci, mungkin kita bisa mendekati kebenaran itu. Apalagi kebenaran menurut Tuhan kan belum tentu sama dengan kebenaran menurut manusia.![]()
edratna
Sebetulnya memang kita perlu punya “values” atau nilai-nilai, seperti apa kita ingin dipersepsikan oleh orang lain.
Dari nilai ini, kita akan membuat cara penyampaian kepada pihak lain, misalnya: perilaku kita, cara berpakaian, gaya komunikasi dsb nya.
Pada dasarnya orang mempunyai pendapat yang berbeda dalam menilai orang lain, dan kita tak mungkin menerima pendapat itu semuanya (lha kan bingung sendiri nantinya), sehingga kalau ada penilaian yang keliru, kita kembali introspeksi mengapa mereka keliru dalam mempersepsi kita, adakah yang keliru dalam penyampaian kita? Jika ternyata kita telah menganggap benar (karena ada kemungkinan pendapat orang lain juga tidak tepat), maka kita terus melangkah.
Tentu saja kita juga mengkaji ulang saran yang positif.
DJoniE
Klo aku sih tetep cuek aja Wen.. Hehehe…
Tapi aku nggak menutup mata pada saran orang lain.. Klo emang menurutku itu positif, ya apa salahnya kita ikutin…
Introspeksi diri itu tetep perlu, tapi jangan sampe kita nggak jadi diri kita sendiri (kehilangan identitas diri)..
ichanx
berat bahasannya… heuheue… jalanin aja lah…
fisha17
let the music heal your soul… let the winds blow.. Gak nyambung yo??
omiyan
hhmmm…ane juga binun..soale bikinan manusia terkadang aneh juga
Winnu Ayi
tergantung keadaan…
masa iya pikiran ayah ibu adek kakak pacar gak dipeduliin…
masa iya pikiran sahabat temen-main gak dipeduliin…
orang-orang yang penting dalam hidup kita aja yang diperhatiin…
sisanya rasanya sih tidak perlu…
kita masih punya kehidupan yang mesti diurus ketimbang pikiran orang lain…
peace!
trijokobs
idem sama winnu ayi ah…
tejo
yes, that’s called empathy…
CMIIW
Jiban
idem juga ama om trijokobs :d
pepito
NDUK, KAPAN MAIN UNO?hahahaha
*OOT
masmoemet
idem sama jiban
babeh
mendengar apa kata orang tentang kita…., hhhmmm, harus sih, untuk bahan introspeksi…, cuman sejauh mana kebenarannya…, ya lah ya, kan kita sendiri yang tahuuuu
hoihei
Lop2.
Klo aku sih trobas ajah.
Kadang aku ikutin, kadang gak begitu.
missglasses
kalo aku tetep coba nyari jalan tengah, walaupun bener kata mba, emang susah buat ngelakuinnya
deviw
krik krik krik… kalo paragraf terakhir, agak susahs dan berats. kadang cuek itu perlu, apalagi kalo udah eneg.
salam kenal Mbak.
deeedeee
hm,, positif thinking aj sih walo kadang emang susah!
mo ga peduli tp kepikiran, mo peduli tp ntar malah dipikirin terus,,, lho?!