Selamat Jalan Burung Merak

August 7, 2009 at 12:10 am
filed under Heart

Kabar malam ini yang mengusik saya hingga menggerakkan tangan ini untuk login kembali di blog. WS Rendra wafat.

Tak menyangka. Budayawan besar itu. Dua hari setelah kematian Mbah Surip. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Segalanya adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

Saya bukan seniman. Bukan pula penyair. Saya hanya tahu, WS Rendra sangat layak diperhitungkan. Kursor bergerak. Susunan huruf `WS Rendra` tercetak. Yap,,saya gugling dan menemukan satu sajak bagus dari beliau.

Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

*Mendadak teringat surat Ar-Rahman.

Terima kasih dan selamat jalan, Willy. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
- Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api

6 comments

RSS / trackback

respond

  1. christin

    on August 7, 2009 at 1:00 am

    Puisinya - meski aku gak hafal, tapi menyentuh, jujur dan tulus.

    So long, legend.

    engkriss (girlkiss)

    betul…jujur dan tulus. yg tadi aku baca, banyak yg tema sosial,,,

  2. Wempi

    on August 7, 2009 at 10:02 am

    menyentuh…

  3. Chic

    on August 7, 2009 at 10:51 am

    shocking… tapi setiap orang pasti pergi bukan..
    hanya masalah kapan dan yang ditinggalkan siap atau tidak :(

    selamat jalan Pak Rendra…

  4. alfaroby

    on August 9, 2009 at 10:52 pm

    mati satu tumbuh seribu,,,
    mungkin itu adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan suasana saat ini,.,
    saya yakin,.., di luar sana ada 100o orang mbah surip dan 1000 orang WS Rendra,,,,,

    salam untuk anda yang sudah menunaikan tugas yang mulia

  5. ethie

    on August 10, 2009 at 11:02 pm

    Iyah, aku juga merasa kehilangan banget.. :(

  6. muhamaze

    on August 16, 2009 at 2:02 pm

    rendra memang legenda… selamat jalan rendra…