June 27, 2008 at 10:15 am
filed under Miscellaneous, Opini
Pertunjukan itu terbagi ke dalam dua babak, masing-masing tujuh dan tiga adegan. Adegan pertama, atau yang dalam panduan disebut intruduksi, bercerita tentang sayembara yang memenangkan Dewi Shinta untuk dipersunting Rama Wijaya. Berlanjut ke adegan kedua, Sarpakenaka datang menghadap Rahwana, kakaknya, sambil menangis dan mengadu telah diperdaya seorang satria. Ia juga menyebutkan bahwa satria itu bersama seorang wanita cantik. Rahwana tersulut emosi. Bersama bawahannya [menurut panduan cerita, yang diajak Rahwana adalah Kalamarica, tapi menurut saya, berdasar pemain yang tampil di sana, yang diajak Rahwana adalah Sarpakenaka
].
Panggung kembali gelap. Pertanda adegan kedua telah berakhir. Kemudian muncullah Rama Wijaya, Dewi Shinta, dan Leksmana di hutan Dandaka. Tak lama kemudian, muncul seekor kijang cantik yang sejatinya merupakan jelmaan Kalamarica, pesuruh Rahwana. Shinta memohon pada Rama agar ditangkapkan kijang itu. Rama berpesan pada Leksmana agar menjaga Shinta selagi ia pergi menangkap kijang. Lama ditunggu, Rama tak juga kembali. Shinta pun meminta Leksmana pergi menyusul Rama karena takut terjadi sesuatu pada suaminya itu. Sebelum pergi, Leksmana membuat lingkaran pelindung di sekeliling Shinta.
Mengetahui Shinta akhirnya seorang diri, Rahwana berusaha mendekati wanita idamannya itu. Namun, ternyata lingkaran pelindung buatan Leksmana cukup ampuh hingga membuat Rahwana sulit menembusnya. Tak habis akal, Rahwana merubah diri menjadi seorang Brahmana tua. Jebakan itu berhasil. Shinta trenyuh melihat sang Brahmana dan berniat memberi sedekah hingga keluar dari lingkaran pelindung. Maka, diculiklah Shinta oleh Rahwana dan kemudian dibawa ke Alengka.
Adegan demi adegan terus berlanjut. Rama akhirnya mengetahui bahwa ternyata kijang itu merupakan jelmaan Kalamarica. Jatayu, sahabat ayah Shinta, berusaha menghalangi penculikan Shinta oleh Rahwana namun akhirnya terbunuh. Rama dan Shinta membantu Sugriwa mengalahkan Subali yang telah merebut istri Sugriwa. Sugriwa dan Hanoman membantu Rama mencari Shinta.
Adegan ketujuh, Hanoman menyusul Shinta ke Alengka. Guna mengetahui seberapa besar kekuatan Rahwana, Hanoman merusak taman Alengka. Ulahnya ini memancing kedatangan para pasukan Rahwana. Karena kalah banyak, Hanoman pun kalah dan dijatuhi hukuman bakar hidup-hidup. Alih-alih mati, Hanoman justru berhasil membakar kerajaan Alengka.
Berbekal tiket seharga Rp100.000,00 plus Rp2.000,00 untuk ijin agar kamera boleh dibawa masuk, kami disuguhi sebuah tontonan menarik. Kisah cinta antara Rama dan Shinta. Meskipun ending cerita agak kurang dramatis, saya cukup puas juga. Yang menarik perhatian saya adalah pasukan kera yang diperankan oleh anak-anak kecil. Betapa tidak, anak-anak yang barangkali baru seusia 5 tahun itu sudah berlarian dengan luwes ke sana ke mari. Polah mereka; ada yang salah gerak, hampir jatuh, hampir saling tabrak, benar-benar membuat kami terbahak. Maka ketika pertunjukan sudah berakhir, saat yang lain berebut berfoto dengan para pemain utama, kami justru puas berfoto bersama anak-anak kecil itu.
Selain ending yang kurang dramatis, kami juga agak kesulitan memahami panduan cerita. Tanda baca yang ada di sana hanya titik saja. Itupun kadang tidak diletakkan di tempat yang semestinya. Dan lagi, ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan panduan [atau saya yang memang ndak bisa paham? ]. Misal, adegan Rama Tambak, yaitu saat Hanoman kembali menghadap Rama sesudah berhasil membakar Alengka. Menurut panduan, adegan itu dipisahkan dengan adegan Perang Brubuh, yaitu adegan penyerangan ke kerajaan Alengka. Namun, di dalam pertunjukan, adegan itu dijadikan satu dan yang muncul justru Sugriwa, padahal seharusnya yang muncul adalah Hanoman. Hahaha….

Ah tidak peduli. Bagaimanapun juga, semua kekurangan itu tidak lagi berarti karena kami bisa puas melihat salah satu kesenian milik Indonesia, berfoto-foto [lagi], dan meluncur ke Gejayan untuk makan gudeg. ![]()
uthie
wenniiiii…
pengen euy!
tapi duit saya udah habis di Bali
di Bali nonton Kecak dong! :p
uthie
eh, PERTAMAX! huhuhuuuy!
lagi diskon yah mba PERTAMAX-nya?
uthie
ah sisan.
HETRIIIIK!
*kabur*
marshmallow
@uthie: wah, segitunya…
ck ck ck… *pengaruh nonton kecak balinya*
wen, nontonnya di mana?
apa emang kombinasi tari balet dan tradisional ya?
wah, asyik…
ubadbmarko
Saya mah kebayang pas panggungnnya gelap aja, daerah penonton juga gelap kan ?
AngelNdutz
wih….asyik tuh nonton kalo disambi kencan
BanNyu
Jadi kangen sendratari Ramayana di Candi Prambanan nih …
Abdee
saya selama dua puluh tahunan hidup di jogja… kok ya belum sempet2 juga liat ramayana ballet. Lha ndak ada temennya je.
Lagian kayaknya “ngaluk aluk” (ini bahasa apa ?)… kesana.
taliguci
Kenapa ya kita (atau cuma saya saja ya?) lebih suka melihat rumput tetangga daripada rumput sendiri? Maksud saya, saya nggak suka liat sendra tari, juga nonton wayang, -kecuali kalo dengerin wayang di radio atau di tv, itupun saya suka suasananya. suka suaranya walau nggak ngerti jalan ceritanya. dulu, mbok (nenek) saya seneng ndengerin wayang dari radio transistor. nah, kebetulan bersebelahan dengan kamar saya, mungkin gara-gara itu ya..- tetapi saya suka sekali ngeliat erau pelas benuaq (pesta adat suku dayak), pesta laut suku kutai, suka sekali ngeliat kehidupan suku anak dalam (walau cuman di tivi), kehidupan orang badui, suku-suku pedalaman papua.. terus terang saya suka.
*siap-siap dihukum secara adat, mungkin malah dipecat, hehehe..*
Menik
kapan wen ngajakin aku nonton ini nek ntar aku ke jogja ?
Iis sugianti
ke jogja, mo dung….Mba Wen itu acara tahunan, bulanan atau harian? Kek acara Sendratari gitu?
achoey sang khilaf
aku cinta budaya Indonesia
Jiban
wah mbak wenny nggak ngajak aku….
jahatnya….
langitjiwa
tarian bisa mengungkakan berjuta ekspresi
uwiuw
hmm kayaknya pengalaman baru yg menyenangkan bila bisa ikutan nonton yah
sapimoto
Bisa dibilang ini adalah perpaduan kesenian tradisional dengan kesenian modern, bagus.
trijokobs
Mbok jangan 100rb tow.. 20 rb we boleh gk..?
uapek tenan.
zoel chaniago
hihi mahal juga ya tiket untuk kamera nya
cinker
wuisss……..keren yach……saya sukany ngeliat kalo org melucur2 gitu……!
seperti bisa terbang……he2
edratna
Wenny, dimana nontonnya? Di Yogya?
Untuk membuat pertunjukan menarik diperlukan seorang penata tari yang hebat…..tapi mungkin melihat kelucuan anak-anak kecil menari, hati menjadi senang.
ngodod
100rb itu sama dengan sebuah wheelset sepeda onta saya…
ika
wah bagus banget ya mbak kayaknya,….
joesatch yang legendaris
nanti saya ceritain yang lebih komplit lagi, mbak. nanti, kalo blog saya yang tentang wayang sudah diberesin, kekekekeke!
allow
allow………
qu jg pernah liat ramayana ballet, tp cuma sekali.
qu liatnya di panggung terbuka trimurti. kan backgroundnya candi prambanan. n sangat menarik banget………
disana qta juga ketemu sama turis…………
Etha
wah seru abis dech kl nnton ramayana balet n g nyesel.Lagian di sana penarinya dilatih benar2 u/ pertunjukan tu.Q dah nonton berkali2 tapi g nyesel tuh