Pegawe Resto nan Lebay
Sedang membahas masalah ini dengan teman-teman, seorang teman menimpali dengan bercerita mengenai pengalaman tidak menyenangkannya di sebuah restoran.
Sebut saja R. Apalah arti R. Toh hanya satu huruf dari sekian panjang namanya. Suatu malam, R bersama dengan N (sebut saja begitu) mendatangi sebuah restoran untuk makan malam. Pada umumnya restoran, ada pegawai yang menjaga di pintu dan siap menyambut tamu yang datang. Di restoran ini, pegawai-pegawai yang ada tidak segera bangkit dan menyambut bahkan saat mereka melihat R dan N datang. Satu persepsi buruk mengenai tempat ini.
Ketika R dan N sedang mencari-cari tempat duduk pewe, datang seorang pegawai laki-laki, “hellloooooo, mau dinner ya dek?” (tolong bayangkan pegawai itu berbicara dengan nada lebay). Jujur, ketika R bercerita soal ini, saya ngakak. Bagaimana tidak, geli sekali membayangkan seorang pegawai dengan begitu ekstrimnya menyapa calon konsumen. Dan panggilan “dek”? Oh no… (lmao). Dua persepsi buruk.
“Iya, mas,” Kata temen saya.
“Owh yawdah..duduk di sini aja ya. Sini di sini,” kata masnya dengan agak memaksa.
R dan N pun memutuskan duduk sesuai saran masnya. Masih dengan perasaan tidak enak. Tiga persepsi buruk.
R kemudian bertanya mengenai bacon. Untuk memastikan mereka pakai daging sapi. Dan tanggapan dari si mas,”duh, gimana sih..namanya bacon ya jelas aja babi dong. Masak gitu aja ga tau.” Huahahahahahaha, saya ndak bisa berhenti ngakak jika mengingat cerita itu. Jadi curiga dengan tempat itu, kok ya bisa-bisanya karyawan seperti itu diterima. Empat persepsi buruk.
Mendengar cerita R, saya masih setengah berharap di akhir cerita ada kejutan dari restoran, atau ada candid camera, atau ada voucher makan sepuasnya, atau apalah yang sengaja mereka berikan. Dan siapa tahu memang itu prosedur pelayanan mereka, untuk membuat restoran tersebut berbeda dari restoran-restoran lainnya. Ngerjain konsumen dan kemudian memberi bonus istimewa di akhir
Harapan tinggal harapan [halah!]. Tidak ada cerita semacam itu. Yang ada justru persepsi buruk kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya. Tidak ada senyum, harga makanan mahal, mereka shock dengan pelayanan yang diterima hingga tidak bisa mengingat apakah makan di sana enak atau tidak.
Ya ya ya, kualitas suatu jasa memang dinilai dari persepsi konsumen. Karena itu, penting untuk membangun persepsi yang baik mengenai sebuah perusahaan di mata konsumen. Kalau bisnisnya jasa ya berarti pelayanan yang ramah dan helpful dan bukannya lebay dan kasar.





June 3rd, 2009 at 10:09 am
iiiisssssh.. hati-hati di gugat loh Wen..
June 3rd, 2009 at 7:02 pm
Udah pelayanannya nggak propesional, nggak punya nama lagi. Cape deee…
Btw, pengennya masuk MTV boiling point itu yaa… Haha…
June 4th, 2009 at 9:47 am
Owww… jadi yang seperti itu gk usah ditiru, kan bisa di ambil pelajaran, kapok ya?
June 4th, 2009 at 12:52 pm
pewe itu posisi wenak kan??
kalo dulu soalnya disebut pendamping wisuda
June 6th, 2009 at 12:20 am
duh dinnernya tak berkesan donk…, kasihan temannya.
June 6th, 2009 at 9:49 pm
Prasangka buruk pun jadi kenyataan ha ha ha….
June 7th, 2009 at 10:04 pm
ketus amat pelayannya ya?
June 8th, 2009 at 9:38 am
Walah ada juga ya org seperti itu
June 9th, 2009 at 11:01 pm
emang pikiran selalu buruk!!
*dibacok*
June 19th, 2009 at 11:03 am
kemarin lusa makan di HW jakal
yah 11-12 sama yg di atas
*siap2 jumpa di pengadilan*
June 20th, 2009 at 12:30 am
oh my jrot..!!!
sebegitunya kah..??
sebagai seorang mantan waiter yang musti memegang teguh prinsip hospitality,, kok tetep gak bisa nerima yak..?? wah,, mencemarkan nama baik waiter neh..!! aku tak suka..!! huhu,, *ikutan lebay mode: ON*
June 22nd, 2009 at 1:19 am
heh,, mangsutmu opo..?? huhuhu,,,