#38 Tempat Ngopi di Jakarta

Hari ini tadi ramai perbincangan soal tempat ngopi enak di Jakarta. Ada banyak tempat yang bisa jadi pertimbangan, tentu saja. Tapi bagi saya, tempat menyesap kopi yang enak perlu memenuhi beberapa kriteria.

Satu, tempatnya nyaman. Tidak harus sepi banget, yang penting bersih, bisa duduk, kamar mandi bersih, musiknya tenang sehingga tidak mengganggu kalau pas pingin ngobrol, bercolokan, dan syukur-syukur ada atau dekat dengan tempat shalat.

Dua, baristanya reachable. Kebanyakan barista di Jakarta ramah tapi tidak semuanya bisa dijangkau. Posisi stand by mereka atau ketiadaan tempat duduk bar membuat mereka sulit diajak ngobrol. Padahal kan saya suka kalau dikasih tau hal-hal baru. Walau biasanya keesokan harinya bakal lupa. Tanamera, misalnya, ada tempat duduk di depan barista yang jadi tempat favorit kalau pas ke sana sendiri dan bukan untuk bekerja. Saya suka mengamati mereka kerja dan mencium aroma awal sewaktu kopi giling bertemu air panas. Karena ngobrol dengan barista jugalah saya sering dapat tambahan stempel gratisan di loyalty card. hahaha. (ketauan banget maunya)

Tiga, harganya terjangkau. Keahlian menyeduh kopi memang layak dibayar mahal. Sekolah barista tidak murah, belajar membuat kopi juga butuh waktu. Ada tempat ngopi yang mahal tapi layak coba karena memang enak. Ada juga yang jadi terasa mahal karena rasa kopi yang tidak terlalu spesial dipadu dengan jualan suasana dan gaya. Giyanti adalah contoh yang mahal tapi worth to try. Sedangkan kopi di mall rata-rata masuk kategori kedua yang karenanya saya datangi kalau pas sedang promo atauuu menyediakan wifi dengan koneksi cepat. ihik.

Empat, menyediakan wifi. Dulu ini kriteria kedua. Tapi sejak di kos sudah ada wifi, wifi di tempat ngopi tidak prioritas lagi. Saya lebih sering datang sekedar untuk duduk dan membaca atau bertemu teman. Lima, sedia makanan pendamping yang enak pisang goreng. Hahaha. Apalah arti kopi tanpa pisang goreng :p Poin bonus apabila mereka menyediakan air putih. Setiap selesai minum kopi saya selalu merasa harus minum air putih banyak. Apalagi kalau kopi campur. Kalau ke 1/15, misalnya, saya selalu bawa air putih sendiri karena di sana tidak disediakan gratis *halah*

Nah, dari kriteria-kriteria itu, saya terkesan dengan beberapa tempat ini:

1. Giyanti Datang pagi dan bawa buku, biasanya saya, karena agak siang sedikit tempat ini ramai.

2. Tanamera Datang pagi, sampai gelap. Hahaha. Saya pernah mencoba Manggarai honey process di tempat ini. Karena mereka hanya menyediakan V60 padahal saya sedang ingin yang rasanya lembut, oleh baristanya dibuatkan dengan (kalau tidak salah) 200 ml dituang di atas filter, tunggu beberapa saat, tambah 40ml langsung ke jug. Rasanya tetap khas Flores tapi ada bold yang tersisa. Lucu aja. Plus: Kopinya enak semua di sini. Kalau untuk makanan, saya suka banana caramel cake (mainstream yeah!), Croissant Kari Ayam, Egg Benedict, chicken wing (lho kok jadi banyak). Pilihan lagu juga oke banget. Ada air putih. Minus: Porsi minuman tidak besar (which I like) jadi mungkin akan terasa mahal, kalau mau shalat harus numpang ke Thamrin City.

3. Traffique Udah lama ga ke sini karena lokasinya yang tidak TransJakarta friendly *halah*. Dulu sih selalu pesan single origin dan enak semua dengan aneka metode. Plus: Kopi enak, baristanya reachable, punya mushalla di lantai atas. Minus: Agak susah angkutan umumnya, (dulu) tidak ada makanan yang mengenyangkan jadi sebaiknya ke sini ketika perut sudah terisi.

4. Headline Berlokasi di Jalan Kemang Utara Raya No.50 (seberang galeri Dian Pelangi), tempat yang berukuran sekitar 30 meter persegi ini punya program paket kopi panas dan cake seharga IDR35rb kalau pesan antara jam 2-6PM. Meski kecil, tempat ini nyaman, bersih, dan sepi. Dulu ada sofa besar di pojokan yang saya suka. Sayangnya macam kuburan sinyal. Wifi ada, tapi kadang ga bisa konek entah kenapa. Depan Headline ada masjid tapi untuk perempuan mending bawa mukena sendiri soalnya kalau tidak pas jam shalat, ruang utama masjid ditutup. Di pojokan jalan, ada penjual martabak dan gorengan. Hihi. Plus: relatif murah dan enak, nyaman, barista reachable, ada air putih Minus: makanannya biasa aja

5. Wisang Kopi Baru sekali ke tempat yang humble ini, sewaktu masih di Duren Tiga. Sejak pindah ke Jl. Abdul Majid Raya No.67 saya belum pernah ke sana lagi. Saya terkesan dengan kopi dan jajanannya yang lumayan enak, juga harganya yang murah. Tapi maafkan saya lupa seberapa murah. Single origin di bawah IDR25rb deh. Somehow bikin inget Klinik Kopi. Plus: murah dan enak! Minus: makanan standar (ini bukan minus sih wong murah juga harganya)

6. Watt Coffee Pertama kali ke Watt karena awalnya mau ke Giyanti tapi ternyata tutup. Watt ini terletak di Jalan Kwitang, setelah toko buku Wali Songo. Mereka menggunakan kopi dari Tanamera. Termasuk cold brewnya. Waktu itu saya pesan cold brew yang ternyata manis. Enak! Tempatnya instagramable 😆 Plus: Nyaman, sepi, sebelahnya ada masjid Minus: Makanannya mahal & rasanya biasa aja

7. ABCD/Kopi Pasar Dulu di Pasar Santa. Sekarang di Food Fighters depan Blok M Square (sebelah fave Hotel). Layak coba dan nikmati pelan-pelan tiap sesapannya. hmmm

8. Filosofi Kopi Rame banget tapi ya sudahlah. Selalu tiwus syphon. Pernah menu lain tapi tidak sespesial ini.

9. Saudagar Kopi Lokasinya di Sabang. Nyaman deh, semacam sanctuary. bahahah Plus: nyaman, bersih, wifi oke, jajanannya enak Minus: kalau di dalam tidak bersinyal, makan besarnya biasa aja

10. Anomali Paling sering ke Anomali Setiabudi One (tentu saja) atau ke Senopati. Awalnya karena saya pernah training di seberang Setiabudi One. Setelah training saya nongkrong di sini sambil kerja sampai tau-tau gelap dan disusulin beberapa teman. Rame sih, wifi juga ga kenceng-kenceng amat. Menunya banyak dan suka bikin bingung (kalau udah bingung saya biasanya end up dengan Cafe Mocha :lol:). Dulu pas masih sering ke sana, udah berasa di rumah sendiri deh. Beresin meja sendiri, ninggal tas buat shalat, minta refil air panas *eh* Plus: sering ada diskonan dengan kartu kredit Mandiri, tehnya enak-enak, caesar salad enak. Minus: tidak spesial kecuali kalian ke sana bertemu yang spesial *uopoh* Ini ketauan banget ya makin ke bawah reviewnya makin ga lengkap. Lelahh. Harusnya setelah ini saya review tempat ngopi kategori biasa aja. Tapi tapi tapi tapi…

#37 Ponder

kubuka jendela mobil yang kutumpangi
aku hirup udara sedalam mungkin
sambil berusaha menahan air mata agar tetap di tempatnya

tercium bau angin membawa hujan
dan kerinduan yang tak bisa aku apa-apakan

I know what I should do
I just don’t know how to control what I shouldn’t do

rain drops

“Aku cari kamu
Di setiap bayang kau tersenyum
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah”
(Payung Teduh, Ku Cari Kamu)

#36 Burdened

DSC04000

What will you do when you have so many things whirl in your head and your bosom bursts with mixed feelings, you want to excrete dan put them out one by one, but the people that can understand and help you are also in their own problems?

Run away or ignore those burdens are strictly prohibited.

#35 Europe On Screen 2015 [latepost]

Tanggal 1 – 10 Mei 2015 lalu diselenggarakan Europe On Screen Film Festival di beberapa kota di Indonesia. Seperti tahun sebelumnya, kali ini saya juga menyempatkan datang dan menonton beberapa film. Bahkan sebetulnya saya sudah buat jadwal ambisius film-film yang akan saya tonton pada setiap harinya itu. hahaha.

Kenyataannya, film yang saya sempat tonton di ajang ini bisa dihitung cuma pakai satu tangan. Rata-rata bagus tapi ini yang paling berkesan.

  • The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared

Betul, ini film yang diangkat dari novel yang terkenal itu. Karena belum baca novelnya, saya justru jadi tertarik nonton. Soalnya menurut saya novel yang difilmkan umumnya malah jadi ga sebagus dalam imajinasi saya pas baca. haha.
Well, Film ini bercerita tentang Allan Karlsson, seorang kakek yang tinggal di panti jompo. Pada ulang tahunnya yang ke-100 dia kabur dengan melompat jendela panti menuju terminal. Di terminal Karlsson bertemu preman yang menitipkan kopernya ke dia karena akan ke toilet. Selagi preman masih di toilet, bis yang akan dinaiki Karlsson datang. Dibawalah koper itu dan di sinilah petualangan kakek vs preman dimulai.

Lucu banget. Hahaha.

100 year old man

  • Song for Marion

Film ini bercerita tentang hubungan orang-orang tua. Tentang Arthur dan Marion, istrinya; Arthur yang berusaha menerima teman-teman Marion; kesabaran Marion menghadapi kekerasan hati Arthur; Elizabeth, guru paduan suara, yang penuh semangat sekaligus naif; dan bagaimana Arthur menerima kematian Marion. Jangan bayangkan pemainnya masih kinyis-kinyis. Kecuali Elizabeth, usia mereka sudah sangat senja.
Sweet banget. Saya suka semua tentang film ini. Pemain-pemainnya, plot ceritanya, tata ruang rumah (kecil tapi manis), pilihan bahasanya, dan tentu lagu-lagunya.

“Goodnight, my angel
Time to close your eyes
And save these questions for another day
I think I know what you’ve been asking me
I think you know what I’ve been trying to say
I promised I would never leave you
And you should always know
Wherever you may go
No matter where you are
I never will be far away” ~ Lullabye (Goodnight, My Angel)

song for marion

#33 Soto

Last night was not another sleepless night because of the error of Telegram. I was like living in a cave. You right, there is still WhatsApp. But, it means we have to make another group that consists of same person in another chat apps. Baaaaa!Telegram error

Not really in a mood to watch any movie or read any book, I chose drawing. I made some sketches and this is the less creepy drawing I made. hihi.

This is soto, one of my favourite food. It usually consists of beehun, chicken chop, slice of lime, egg, and celery chop. Sometimes I eat soto with rice but sometimes not. What I like from soto is its freshness especially when you eat it in a mid day when sun precisely above your head. Nyamm.soto. close enough isnt it :))

Anyway, my favourite soto so far is Soto Dalbe which located in Yogyakarta. Two bowls of soto without rice or a bowl of soto with rice and a sate ampela plus mendoan as a compliment would be enough for me (ya iyalah!).

#32 Not Yet Wen

Engga kangen tempatnya. Cuma kangen perjalanannya

Ceritanya kemarin saya dapat kabar batal berangkat ke Korea karena aplikasi saya (dan teman-teman sekantor lainnya) ditolak KOICA. Lalu yang berangkat siapa? Katanya, teman-teman dari kantor lain yang bidangnya lebih teknis. Well, what may make (apa boleh buat *krik!*).

‘Gak enaknya’ bekerja di kantor non teknis salah satunya ya begitu. Yang dibutuhkan adalah keahlian umum dan kemampuan administratif saja (yang sebetulnya susah banget, kakakk). Saya sebetulnya pingin menspesifikkan keahlian saya tapi yo memang pekerjaannya lebih umum sih ya. Jadi kalau ada yang bilang less is more ni ya saya ikut ngerasain. hahaha.

Tapi gapapa. Tetep optimis dan connecting the dot. ihik.