Selama hidup, sikap optimis harus selalu dipupuk karena sikap itulah yang nantinya akan membuat kita maju dan lebih baik dari hari ke hari. Bahkan, Allah juga sudah berfirman dalam QS. Al Baqarah bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan yang tidak mungkin dilewati umat-Nya. Dan ingat juga, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.
Selain untuk diri sendiri, sikap optimis juga perlu ditanamkan pada konsumen. Begini misalnya. Pernah tidak suatu hari Anda pergi ke toko buku. Anda sedang sangat memerlukan sebuah buku entah untuk mengerjakan tugas, mendukung penelitian, tuntutan pekerjaan, ataupun alasan keperluan lainnya. Dengan semangat menggebu dan harapan tinggi akan memperoleh buku yang dibutuhkan, Anda mengunjungi salah satu toko.
Sayangnya, buku yang diharapkan tidak ditemukan di toko yang Anda datangi. “Wah, maaf. Bukunya habis,” kata mbak penjaga. Dan Anda pun lunglai karena berarti harus berkorban lebih banyak waktu dan tenaga untuk beralih ke toko buku lain.
Bayangkan, misal Anda mendapat jawaban, “Wah, bukunya belum datang.”
Apa rasanya? Umumnya, mendapat jawaban demikian akan membuat konsumen optimis dan yakin buku itu bisa diusahakan ada di toko buku yang dia kunjungi saat itu. Biasanya, konsumen kemudian akan mencecar dengan pertanyaan “oh, berarti bukunya pernah ada?”, “kapan bukunya datang lagi, Mbak?”, “bisa pesen gak?” atau “Berapa nomer henpon Mbak?”.
Mendapat jawaban yang pertama, konsumen biasanya langsung berpersepsi bahwa barang yang dibutuhkannya tidak ada di situ. Dengan demikian, dia tidak perlu berlama-lama ada di sana. Ingat, si konsumen sedang dalam urgensinya untuk buku itu.
Sedangkan pada jawaban yang kedua, konsumen akan terdorong untuk berpikiran barang yang dibutuhkannya mungkin nanti akan ada di toko itu. Kemungkinan ini yang kemudian akan mendorong si konsumen datang lagi ke toko itu. Dia punya kebutuhan. Dan dia ada harapan pada toko itu.
Pemilik toko, seharusnya bisa mengelola optimisme konsumen atas barang yang dibutuhkannya itu. Tumbuhkan optimis agar si konsumen mau bertandang ke toko itu lagi. Misalnya, dengan cara meminta nomor telepon konsumen. Gunakan hanya untuk menghubunginya bila buku yang dibutuhkan sudah datang.
Tapi ingat, jangan memberi harapan palsu kepada konsumen. Jika barang yang dicari itu memang sudah sulit diusahakan, jangan menjanjikan barang itu akan ada kepada konsumen. Bisa-bisa justru menjadi bumerang bagi toko Anda karena si konsumen mungkin menilai Anda menganggap remeh mereka
.
Sebaiknya sih memang ada training terlebih dulu, diajarin bagaimana cara berbicara yang baik dalam menghadapi customer.
Promosi mulut ke mulut itu sangat hebat, jadi akan sangat berbahaya kalau ada seseorang yang merasa dikecewakan oleh toko tersebut dan mulailah dia bergosip ria tentang kekecewaannya tersebut…
tapi konsumen kadang juga nyebelin sih, dibantuin bener taunya malah balik mengecewakan
Kita harus tetap yakin
Kita mampu
sip….sayah lagi belajar membuat senang konsumen warnet sayah….
bagaimana kita bisa berhubungan intim dengan konsumen.
berarti slogane “anda puas, kami
lemassenang”Salam kenal m(_ _)m
setuju ama si masmoemet
Wuih keren.
Terimakasih ilmunya.
Ilmu Allah memang luas.
Saya pernah tau ilmu2 kanuragan macam gini yang temanya “melebihi ekspektasi pelanggan”.
Misalnya seorang Om2 mau menservice motornya pada sebuah bengkel. Om2 itu tanya, “Pak, kapan selesai”.
Si pegawai bengkel bilang, “Sekarang jam 10. Kira2 jam 2 selesai Pak.”
Sebenarnya, pekerjaan itu bisa selesai pukul 12. Dan memang demikian adanya. Pukul 12 pegawai bengkel telp, “Pak , motornya sudah bisa diambil”.
Om2 itu merasa senang. Karena motornya selesai lebih cepat dari dugaannya.
Tengs infonya Wen.