Oportunisme

“Aku mungkin bukan lagi seorang idealis, melainkan seorang realis yang pahit.” ~ Soe Hok Gie

Saya dulu idealis. Demi diterima di tempat saya bekerja sekarang, saya ‘menjual diri’ dengan kata-kata mulia. Ingin membantu membangun negara. Saya dulu tidak bohong ketika berujar itu. Tapi sekarang, saya jadi tidak yakin sendiri dengan apa yang dulu saya ucapkan.

Bukan, saya bukannya menyesal dengan pilihan kerja saya. Biasa saja kok. Hanya saja, apa yang menjadi rutinitas saya di kantor rasa-rasanya masih jauh dari yang dulu saya bayangkan dapat saya lakukan.

Dan mengenai remunerasi dan korupsi, itu dua hal yang tidak berhubungan, menurut saya. Tapi saya jelas menolak kalau remunerasi dibatalkan. Mau bayar kosan pake apa? :((

Baru belakangan saya menyadari, mengapa saya sama sekali tidak menyesal dengan pilihan yang saya ambil. Saya memang tidak sepenuhnya ingin membantu membangun negara. Saya toh menginginkan sebuah kepastian dan pola hidup santai karena profesi yang sekarang menjanjikan dua hal itu (tentu saja bila perilaku saya ndak aneh-aneh).

Ah ya, saya memang bukan idealis. Saya bukan pula realis yang pahit karena idealisme saya hanya selapis. Ternyata saya hanya seorang oportunis.

Eniwei, selamat hari kartini :)

4 Responses to “Oportunisme”

  1. ethie Says:

    Banyak kok wen, temennya… (ninja)
    Aku sih setuju remunerasi dihapuskan. Hihi.. (ninjalagi)

    kl saya jd pemegang kebijakan, remunerasi tidak saya hapuskan. tapi jumlah pns dirampingkan. makan uang negara aja! *eh

  2. farid Says:

    wah ini..ini….curahan hati ku juga…wekekkeke :mrgreen:

    jd mana traktirannya? *lho

  3. aurelia claresta utomo Says:

    kejujuran itu mahal….
    pahitkah kejujuranmu?

  4. wennyaulia Says:

    yang ini belum seberapa :)

Leave a Reply