Negosiasi [part I]

March 6th, 2008 § 0 comments

Beuh…kuliah mumet.
Tugas menggila. :(
Untungnya, sekarang masih bisa posting…
walaupun ala kadarnya sih :D

———————————————

Semester ini, saya ambil mata kuliah yang menurut saya menarik banget. Namanya, Negosiasi. Kuliahnya menarik. Walopun agak kecepetan, tapi bu dosen enak ngejelasinnya.

Kata temen saya, ini kuliah tipu-tipu. Kuliah yang ngajarin gimana biar orang lain mau nurut dengan keinginan kita. Semula saya pikir juga akan begitu. Tapi setelah saya mengikuti kelas ini, ternyata gak hanya sekedar bagaimana mempengaruhi orang lain. Lebih dari itu, bagaimana menciptakan suatu kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak. Atau setidaknya, menguntungkan sebagian besar kepentingan kedua pihak.

Intinya, di kuliah ini diajarkan beberapa pandangan tentang negosiasi dan trik-trik dalam bernegosiasi. Secara garis besar tu begini:
1. bedakan antara posisi dengan kepentingan
Misalnya, saya dan adek saya sama-sama lagi butuh komputer. Saya perlu memakainya untuk mengerjakan tugas. Adek saya juga membutuhkannya soalnya dia lagi bete gak ada yang bisa dikerjain.
Dalam cerita di atas, yang dimaksud posisi adalah ‘butuh komputer’ sedangkan kepentingan adalah ‘mengerjakan tugas’ dan ‘menghilangkan bete’.
Kepentingan yang dibawa seseorang sangat mungkin lebih dari satu. Kepentingan yang saya bawa dari ‘butuh komputer’ selain mengerjakan tugas adalah, misalnya, dapat nilai bagus dan menjaga hubungan baik dengan adek saya.
2. negosiasikan kepentingan, bukan posisi
Tanpa kita sadari, biasanya, naturally, kita akan bernegosiasi dengan memperebutkan posisi. Saya dan adek saya rebutan komputer, itu yang dimaksud rebutan posisi.
Padahal seharusnya yang kita negosiasikan adalah kepentingan, bukannya posisi.

Kenapa demikian?

Karena belum tentu dengan memenangkan posisi, akhirnya kepentingan tertinggi kita akan terpenuhi. Misal saya ngotot mau pakai komputer karena merasa saya lebih memerlukannya dibanding adek saya. Akhirnya, adek saya terpaksa ngalah.
Apa masalah selesai di situ?
Belum tentu. Apa saya yakin dengan mengerjakan tugas memakai komputer hasilnya akan lebih maksimal dibandingkan saya kerjakan dengan tulis tangan, misalnya? Apakah hubungan dengan adek saya akan tetap baik jika dia terpaksa mengalah? Apa hal ini nantinya tidak akan memicu pertengkaran lain dengan adek saya mengingat dia sebenernya masih kecil?

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan?

Apa yang sebaiknya dilakukan akan tergantung pada situasi yang kita hadapi. Kalau di kelas saya sih ditanamkan agar jika keadaan memungkinkan, lebih baik diupayakan agar tercipta keuntungan bagi kedua pihak. Tapi seringkali kita akan dihadapkan pada kondisi di mana negosiasi yang kolaboratif itu sulit diterapkan. Penjelasan lebih lanjut mengenai pada kondisi apa kita sebaiknya pakai trik mana akan coba saya ceritakan lain kali deh:mrgreen:
Yah kira-kira kalau memang menginginkan kesepakatan yang dapat memenuhi sebagian besar kepentingan tiap pihak, cobalah untuk put yourself one his or her shoes
Intinya sih empati dan berusaha memahami kebutuhan orang lain.
Bayangkan jika saya menjadi adek saya. Masih usia sembilan, nglangut gak ada kerjaan, mau nonton tipi tapi acaranya jelek semua, pingin maen sama kakaknya tapi kakaknya lagi ada tugas, mau maen bola tapi kalo cuma maen sendiri gak seru, dan banyak pertimbangan lain.
Dengan berusaha memahami orang lain, kita akan jadi lebih terbuka untuk suatu solusi yang menguntungkan bagi kedua pihak. Win-win solution deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>