Menjelang 10 November

November 9, 2008 at 4:08 pm
filed under Heart, Indonesiaku

Enam puluh tiga tahun yang lalu, kota Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Akibat dari peristiwa tersebut, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada Agustus 1945. Kemudian, tepat pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dengan diwakili oleh Soekarno. Peristiwa proklamasi tersebut kemudian diikuti dengan pertempuran-pertempuran lain di berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan mengusir para penjajah dari bumi Indonesia.

Pada 25 Oktober 1945, tentara Inggris mendarat di Surabaya setelah pada bulan sebelumnya singgah di Jakarta. Kedatangan tentara Inggris ini sebagai wakil sekutu dalam rangka berurusan dengan tentara Jepang. Mereka bertugas melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang tersebut kembali ke negaranya. Namun sayang, tak hanya itu, tentara Inggris ini juga diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berniat mengembalikan Indonesia kembali di bawah kekuasaan Belanda.

Di hotel Yamato atau juga disebut hotel Oranje, Surabaya, dikibarkan bendera merah-putih-biru. Peristiwa ini menyulut munculnya pertempuran antara rakyat Surabaya dengan tentara Inggris yang diboncengi NICA tersebut. Peristiwa ini juga menelan korban Brigjend A.W.S. Mallaby (pemimpin tentara Inggris di Surabaya) pada akhir Oktober 1945. Bendera yang berkobar di hotel Yamato itu sendiri kemudian dirobek bagian bawahnya sehingga tersisa bendera merah putih saja.
Mengenai rincian peristiwa penyobekan bendera bisa dibaca di sini.

Mayjen E.C. Mansergh yang kemudian ditunjuk menjadi pengganti Mallaby. Ia mengeluarkan ultimatum bagi rakyat Indonesia yang isinya menyuruh seluruh rakyat Indonesia yang memiliki senjata agar melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan sembari meletakkan tangan di atas kepala. Ultimatum yang diberi batas hingga 10 November 1945 pukul 6.00 tersebut dirasa sangat menghina para pejuang dan rakyat Indonesia.

Barang tentu ultimatum tersebut ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Indonesia. Kala itu, Indonesia telah resmi menjadi satu negara tersendiri. Benteng bagi kemerdekaan Indonesia juga telah dibangun di mana-mana baik dalam bentuk TKR maupun organisasi-organisasi perjuangan lain.

Hingga batas waktu yang ditentukan, tidak ada seorang Indonesia yang menyerahkan diri. Tentara Inggrispun kemudian melancarkan serangan dengan menghujani kota Surabaya dengan bom dan tembakan yang membabi buta. Tak tinggal diam, seluruh pejuang merangsek melawan serangan tersebut. Meski banyak penduduk terluka dan menjadi korban, dengan dipimpin BUng Tomo secara bersama-sama mereka menyerang tentara Inggris itu.

Semula pasukan Inggris mengira perlawanan kan berlangsung dalam beberapa hari ke depan saja. Namun ternyata perjuangan ini tak hanya berlangsung dalam hitungan hari. Bahkan, perlawanan yang semula tidak terkoordinir justru menjadi semakin rapi seiring semakin lamanya perang tersebut berlangsung. Dalam bukunya, Birth of Indonesia, David Wehl menulis “Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisasi dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang.” Setelah satu bulan (27 Oktober-20 November 1945), akhirnya Surabaya terpaksa jatuh di tangan Inggris.

Peristiwa yang menelan korban 16.000 orang dari pihak Indonesia dan 2.000 orang dari pihak Inggris ini menyulut semangat rakyat di belahan Indonesia lainnya untuk segera menyingkirkan para musuh dari bumi Indonesia. Mengingat banyaknya pahlawan yang gugur di medan perang dan banyaknya penduduk yang menjadi korban, peristiwa di Surabaya ini kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan kita.
(dari berbagai sumber)

Dan saya merindukan masa kebersamaan rakyat Indonesia sebagaimana yang ditulis Kolonel Laurens van der Post dalam laporannya “…But the important lessons of Sourabaya were not these so much as the extent to which they proved that Indonesian nationalism was not a shallow, effiminate, intellectual cult but a people-wide, tough and urgent affair.”

Bukan senjata mutakhir yang dibutuhkan. Melainkan semangat kebersamaan untuk menjadikan Indonesia ini lebih maju lagi .

Masyarakat dihimbau untuk mengheningkan cipta selama 60 detik pada pukul 08.15 guna mengenang jasa para pahlawan Indonesia. sumber: stasiun tipi swasta

Pidato Bung Tomo
Potongan peristiwa 10 November 1945

Hotel Oranjemobil mallaby

22 comments

RSS / trackback

respond

  1. wennyaulia

    on November 9, 2008 at 4:11 pm

    Huwaahhh….panjang…
    jangan fast reading lowh :lol:

  2. achoey

    on November 9, 2008 at 6:48 pm

    AKU BANGGA TERLAHIR DI SEBUAH NEGARA YANG MEMILIKI BANYAK PEJUANG GAGAH BERANI
    AYO KEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA!

    ayo!! :mrgreen: tapi sepertinya semua harus dimulai diri sendiri dulu ya
    kalau buat saya sendiri sih mencoba belajar menghargai orang lain
    sehingga kita semu bisa bersatu padu…ndak ada gontok2an :mrgreen:

  3. Jiban

    on November 9, 2008 at 9:49 pm

    merdeka!!!

    apa e, mas? :lol:

  4. michaelsiregar

    on November 9, 2008 at 11:48 pm

    Saya juga Bangga atas para Pahlawan “sejati” yang berjuang demi bangsa dan negara ini…
    Sekaligus saya sangat Malu pada para Koruptor dan Bejad or yang duduk di kursi DPR mengaku dewan terhormat, mewakili Rakyat….
    Salam dari jauh.

    itulah..ujian dari Tuhan tidak selamanya berupa ketidakenakan
    sering ujian juga berupa kenikmatan yang ngebikin orang lupa diri
    *termasuk saya :oops:

  5. Kaka

    on November 10, 2008 at 7:14 am

    siapakah yang jadi pahlawan generasi baru mas !
    http://asephd.co.cc

    mas???

  6. emfajar

    on November 10, 2008 at 7:55 am

    bangga menjadi bangsa Indonesia karena meraih kemerdekaan dengan proses perjuangan yang gigih..

    Merdeka!!

    tidak seperti negara2 lain ya.. :D

  7. zoel chaniago

    on November 10, 2008 at 8:28 am

    wahh hapal sejarahnya :D

    yang apal teh pama gugel
    saya cuma rewrite :P

  8. parvian

    on November 10, 2008 at 8:51 am

    oh iya, bung tomo sudah dapet gelar pahlawan nasional loh… :) yups kalau denger cerita orang-orang yang udah sepuh emang luar biasa sekali perjuangan orang-orang surabaya kala itu…

    iya, benar..akhirnya bung tomo dapat gelar pahlawan nasional..

  9. ILYAS ASIA

    on November 10, 2008 at 10:29 am

    seperti sapu lidi yang diikat jadi satu

    he? lambang asean ya?

  10. antok

    on November 10, 2008 at 10:38 am

    MERDEKA!!!
    (skrg dah merdeka khan?) hehe..

    lam kenal mbak.. :))

    lam knal jjuga :)

  11. masDan

    on November 10, 2008 at 11:04 am

    Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
    siaplah keadaan genting
    tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
    baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.

    Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
    Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
    Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

    Selamat Hari Pahlawan Untuk Indonesiaku ..

    selamat!!! :D

  12. Andri

    on November 10, 2008 at 1:50 pm

    mari kita menheningkan cipta barang sejenak..

    iya klo kita liat dulu kita sangat kompak ya.. berjuang bersama,, kerja keras bersama,, tapi kenapa sekarang justru berbeda.. hampir semua individual..

    mengapa oh mengapa…
    mari kita bertanya pada angin sepoi2 :mrgreen:

  13. Ardy Pratama

    on November 11, 2008 at 4:09 am

    “Bukan senjata mutakhir yang dibutuhkan. Melainkan semangat kebersamaan untuk menjadikan Indonesia ini lebih maju lagi” Saya suka klimat itu…

    Syngnya masih bnyk yg krng bisa mmknai hari phlawan, wlpun skdar untk mnghningkan cipta sesaat untk mngnang jasa para phlawan…

    uhm,,,kayak lagi nulis sms, mas :mrgreen:

  14. wewenk

    on November 11, 2008 at 10:44 am

    hebat… mbak wenny dulu pasti nilai Sejarah nya dapet 10… :D

    hahaha…jadi malu
    padahal yang lain dapetnya 90,,,saya cuma dapet 10 :oops:

  15. chic

    on November 11, 2008 at 2:45 pm

    saya ga fast reading looooh… *fyuuuuuh*

    huehehehe…
    terima kasih, mbak
    *menjura

  16. Menik

    on November 11, 2008 at 4:54 pm

    Gile wen…
    sehari bikin 4 postingan :shock: gue juga ga fast reading lohhhh :P *pulang bareng chichi*

    autisnya lagi kumat, bun :lol:

  17. Farid Yuniar

    on November 11, 2008 at 5:04 pm

    pelajaran sejarah…

    uhm, membangkitkan luka lama po saya? :mrgreen:

  18. agungfirmansyah

    on November 11, 2008 at 9:35 pm

    Campuran antara bangga sama malu sebagai Arek Suroboyo.

    Bangga karena sudah sejak dulu, Suroboy memang pabriknya jawara. Pabriknya orang-orang berani.

    Tapi malu karena sampai sekarang, saya pribadi belum jawara di bidang apa2. Apalagi melihat ada orang2 yg ngaku arek2 Suroboyo berlagak sok jawara dengan tindakan anarkisme.

    Semangat juang Bung Tomo, 3 takbirnya yang berhasil membangkitkan semangat Arek-arek Suroboyo, dan keberanian Arek-arek Suroboyo harus jadi modal buat bangsa ini untuk terus maju, menjadi jawara dunia.

    ~saya tertarik juga bikin tulisan ttg hari pahlawan :grin:

    ahh..kamu tu
    ikut2…hehehe :lol: gak opo ding

    oiya, udah denger pidatonya bung tomo kan? keren… :D

  19. mohammad yusuf

    on November 11, 2008 at 10:18 pm

    kowe ki wong ekonomi opo wong sejarah tho wen? :mrgreen:

    saya wong jogja, pak :mrgreen:

  20. elwara

    on November 12, 2008 at 1:26 am

    Hari Pahlawan,
    Semoga bukan hanya simbolis,
    Yang cuma menundukkan kepala,
    Tanpa rasa bersalah..

    Salam..

    sepakat :)

  21. geRrilyawan

    on November 12, 2008 at 1:33 am

    kalo liat kondisi sekarang, saya malu sama pahlawan2 kita…..

    salam kenal dari geRrilyawan…numpang lewat dan komen ya…

  22. Tuyi

    on November 12, 2008 at 7:27 pm

    Wah…wah komplit nih materi sejarahnya. Jadi ingat guru sejarah tuyi waktu smp. ;)

    eh guru sejarah saya waktu smp cuantik lho…
    *njuk ngopo ya? :lol: