“Yet ah! why should they know their fate?
Since sorrow never comes too late,
And happiness too swiftly flies.
Thought would destroy their paradise.
No more; where ignorance is bliss,
‘Tis folly to be wise.” ~ Thomas Gray
Have you ever been rejected on your appliance? Have you ever been ignored by the one you love? When you demanding something, has your parents didn’t fulfil what you want?
I did.
Was it hurt?
Of course.
Aplikasi yang susah payah saya isi, esai yang saya buat selama berminggu-minggu, persiapan presentasi yang saya buat sejak bermalam-malam sebelum waktu tampil tiba, semua itu terasa menyakitan ketika pada saatnya kemudian kata-kata yang saya terima adalah “anda masih dapat mendaftar lagi tahun depan,” “anda belum dapat lolos menjadi finalis,” dan sejenisnya. #sulebay
Lima tahun yang lalu, saya belajar mati-matian demi diterima di Ujian Masuk sebuah fakultas dan universitas yang saya idamkan. Tidur selepas malam dan bangun sesaat sesudah adzan Subuh berkumandang, maghrib baru pulang les, beli dan fotokopi berjuta-juta contoh soal ujian, ngendon di kosan teman sampai malam untuk mengerjakan soal-soal itu, tanya sana sini. Sepertinya semua hal yang mampu saya kerjakan, saya kerjakan. Hanya untuk bisa diterima di tempat yang saya cita-citakan itu. Dan ya memang, akhirnya saya gagal.
Nama saya ndak ada terpampang di website universitas. Saya? Ya cuma bisa menangis diem-diem. Saya malu gara-gara dulu saat persiapan ujian, saya sama sekali ndak mau bantu ibu di rumah, ndak mau disuruh ke tempat saudara, ndak mau ngurusi si precil. Saya cuma mau berlatih mengerjakan soal. Saya malu pada ibu dan bapak saya. Arogan dan akhirnya gagal saya mencapai apa yang saya impikan semenjak saya umur lima tahun.
Ignorance is a bliss.
I believe in that. God always has His own way to fulfil our needs.
Belakangan saya bersyukur belajar di tempat kemarin saya kuliah. Saya bisa hemat berjuta-juta rupiah karena di tempat yang saya idamkan semula itu biaya kuliahnya muahal. Saya punya banyak waktu untuk bermain karena jurusan saya cenderung santai, berkebalikan dengan tempat yang saya idamkan itu yang ada banyak sekali sesi praktikum. Lapangan pekerjaan bagi jurusan saya banyak sedangkan di tempat yang saya tuju semula itu, cuma tersedia satu profesi dan kalau mau sukses ya harus pinter banget atau mau ditempatkan di daerah. Yap, saya bersyukur. Tuhan memang memberi yang terbaik bagi saya.
Masih kental juga dalam ingatan saya bahwa dulu cukup sakit hati ditolak oleh salah satu bank pemerintah. Belakangan setelah diamat-amati, bank itu menomorsatukan fisik dan menomorsekiankan otak dan attitude. Ya sudah, cukup tau kualitas bank itu kedepannya
Lagi-lagi saya bersyukur apalagi setelah membanding-bandingkan, pendapatan yang diterima tidak begitu jauh berbeda. Hihihi
Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Sayangnya, susah sekali bagi kita untuk membaca apa yang Dia tahu tentang kita. Seorang teman, empat kali gagal ikut tes di fakultas yang dia inginkan. Dia mengartikan itu sebagai petunjuk untuk mencoba lagi. Sedangkan saya, mengartikan itu sebagai petunjuk untuk mencoba tes tidak di fakultas itu.
Begitu deh. Tugas manusia memang “hanya” berusaha, berdoa, dan berserah. Percaya bahwa Tuhan telah mendengar apa yang kita inginkan dan menyesuaikannya dengan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Oleh karena itu, ketika meminta, yang saya ucapkan adalah “bukakan jalan untukku” alih-alih “berikan aku petunjuk” karena menurut saya Tuhan telah memberi petunjuk dengan banyak cara, kita saja yang sering kurang peka membaca petunjuk itu.

alhamdulillah kalau akhirnya tau hikmat di balik peristiwa itu
dan lho kok ga apdet lagi
sangat menyentuh sekali. Terkadang ketika kita ditolak, kita berpikir “kok dia bisa diterima, padahal skill saya lebih tinggi dari pada dia?” dan saat itulah kita keadilan (atau nasib) tidak berpihak pada kita. aku sering merasakan yang seperti itu.
soal ini:
“…Saya malu gara-gara dulu saat persiapan ujian, saya sama sekali ndak mau bantu ibu di rumah, ndak mau disuruh ke tempat saudara, ndak mau ngurusi si precil. Saya cuma mau berlatih mengerjakan soal. Saya malu pada ibu dan bapak saya. Arogan dan akhirnya gagal saya mencapai apa yang saya impikan semenjak saya umur lima tahun.”
mirip sekali dengan apa yang aku alami. aku: *menangis*