me-too strategy

January 18, 2009 at 4:59 pm
filed under Miscellaneous

China telah menegaskan dirinya sebagai king of counterfeiters dengan cara membangun mall baru khusus barang-barang bermerk palsu. Uhm, merk palsu? Saya rasa kurang tepat disebut demikian karena merk-nya menurut saya sih asli. Asli dia yang buat. Hanya, memang [sengaja] mirip dengan merk lain yang lebih terkenal.

Mall yang dimaksud berada di Nanjing, timur Shanghai. Di sana katanya terdapat tenant yang menggunakan merk-merk serupa tapi tak sama dengan merk yang lebih dulu tenar. Seperti Mc Dnoald’s, Bucksstar Coffee, Pizza Huh, A&G, Dama, Adidos, Farrari, dan KLG.

A&Gbucksstarpizza huhmc dnoaldsdamafarrariklgadidos

Selain pernah saya unggah di sini, saya menemukan lagi beberapa merk mirip.

noklapanosaonicpolystation

Saya tidak tahu bagaimana hukum berlaku untuk praktik bisnis macam ini. Yang saya tahu, dulu (dan hingga sekarang pun ada), di Indonesia beberapa kali kasus serupa terjadi. ‘Perang’ antara Indofood dan Wingsfood untuk produk mie instan mereka, Pop Ice-Top Ice, ExtraJoss-EnerJoss, dsb. Di jogja sendiri ada yang namanya KuFC ( :lol: ). Nah, strategi yang mereka lakukan ini disebut ‘me-too strategy’.

Alert: Penjelasan di bawah hanya untuk pemula. Untuk yang sudah ekspert mohon mengoreksi jika ada yang salah dan menambahi jika ada yang kurang :mrgreen:
Sudah banyak yang tahu bahwa memasuki pasar dengan mengusung merk benar-benar baru adalah suatu hal yang sulit. Proses edukasi pasarnya membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Karenanya, banyak perusahaan yang kemudian memilih menggunakan merk yang mirip dengan yang sudah ada dengan harapan

akan lebih mudah dikenal. Ya iyalah, merknya aja mirip. Kalau pasang iklan di tipi pun akan banyak yang lebih mudah mengenali karena bisa diasosiasikan dengan merk yang lebih dulu terkenal. Apalagi kalau tipografi mereka mirip.

menjaring konsumen yang ‘terkecoh’. Kadang konsumen tidak teliti dalam melihat merk. Asal bentuk logo dan tulisan sama, sering dianggap itu merk yang terkenal. Nah, di sini sih kita sebagai konsumen yang harus hati-hati jika ndak ingin merasa tertipu. Kalau beli ya di gerai resmi, lihat dengan teliti produknya.

atau bahkan sengaja menjadi ceruk bagi konsumen yang menginginkan gengsi. Seperti kita tahu, merk-merk yang biasa ditiru adalah merk mahal yang tidak semua kalangan bisa memperolehnya. Seperti KFC, misalnya. Untuk regular french friesnya ada yang seharga IDR 5,000. Sementara kalau kita makan lotek Bu Bagyo (lotek ini uenakk bgt!!), dengan porsi yang lebih buanyak harganya hanya Rp 6,500, sudah termasuk minum. Tapi apa iya orang mau tiap hari makan lotek? Pasti kita ingin ada variasi dan sesekali makan-makanan yang dimakan ‘orang kaya’. Nah, disitulah muncul ceruk pasar yang menurut beberapa kalangan potensial. Maka dibuatlah KuFC.

Lalu, bagaimana nasib perusahaan yang tertiru merknya? Kalau dulu di kelas pemasaran dikatakan bahwa selama market share-nya tidak tergerogoti terlalu banyak, perusahaan yang merk-nya ditiru seharusnya tidak perlu khawatir. Karena jika ia menuntut, justru merk duplikatnya akan makin terkenal dan ia nampak rapuh di mata para konsumen.

Untuk saya pribadi, saya enggan membangun merk aspal (asli tapi palsu) karena menurut saya usaha dengan cara seperti itu berada di area abu-abu.
Setiap orang yang memiliki usaha pasti menginginkan usahanya berkembang. Jika punya toko kelontong kecil ya pasti ingin toko itu kemudian menjadi semakin besar dan semakin luas. Jika memulai usaha dengan merk aspal, harus siap-siap dituntut oleh perusahaan besar yang ditiru merknya. Biaya yang akan dikeluarkan tentulah tidak sedikit. Jadi, keinginan membesarkan usaha akan terhalang kekhawatiran perusahaan besar akan menuntut. Ini menurut saya lho, yang masih mahasiswa dan belum pernah punya usaha sendiri yang besar. Di samping itu, saya pun jika suatu saat nanti punya usaha ndak suka kalau ada yang meniru dengan merk yang mirip.

Courtesy picture: mirror.co.uk

29 comments

RSS / trackback

respond

  1. ichanx

    on January 19, 2009 at 12:04 am

    ahuahuhauhaaa… cina emang kreatif…. *ngakak liat merek2nya*

    maksa yah merknya :lol:

  2. ayudhia paramesti

    on January 19, 2009 at 6:48 am

    top abis mbuntut-nya hahhaha…. kreatip buat meniru..

    tuntutlah ilmu sampai ke negeri china…
    *lho?? :D

  3. wempi

    on January 19, 2009 at 10:34 am

    Kalo di indonesia bisa di somasi, kalo mirip pada pokoknya/prinsipnya.

    iya ya?
    yang mirip pada pokoknya tu yg seperti apa, pak?

  4. chic

    on January 19, 2009 at 4:42 pm

    China emang paling bisa ya? bahkan blackberry dan iPhone pun bisa dibuat amat sangat mirip :lol:

    lah, udah tau itu tiruan tapi masi juga dibeli mbak bleberi ma aipon nya,,, :lol:

  5. diodinta

    on January 19, 2009 at 10:57 pm

    kreatif banget!! :lol: tapi yang namanya kualitas kan gak bisa ditipu :D

    kualitas terbukti setelah pembelian kan?
    hehehe
    *jadi inget kasus motor cina :P

  6. aliefte

    on January 20, 2009 at 9:32 am

    hahahha.. china gitu loh.. makanya tuntutlah ilmu smpe ke negri china.. *loh* :D
    btw.. lam kenal :)

    hebat ya china :lol: salam kenal jugak…

  7. achoey

    on January 20, 2009 at 11:20 am

    Lama tak bersua

    Kalo Mie Janda
    Jadi Mie Jande kali ye :D

    iya,,kemana aja, kang?
    dari betawi dong,,,gak jadi dari china :mrgreen:

  8. okta sihotang

    on January 20, 2009 at 2:25 pm

    cinaaaaaaaaaaaaa..
    barang elektronik murah meriah kan buatan cina :D

    glodok…..
    barang elektronik murah meriah kan bisa dibeli di sana :D

  9. Rossa

    on January 20, 2009 at 4:55 pm

    mreka emang paling pinter (pinter ngebohongin)
    huhh*

    pernah jadi korban juga ya? :D

  10. Gyl

    on January 20, 2009 at 7:47 pm

    Tapi kalo Cina buat yang original, kualitasnya bagus lo…

    Tapi kalo yang serupa gitu.. kurang tau. Pizzanya gimana ya ?

    oya? saya malah gak tau…
    jadi inget hape sany ericssan yang dibanderol seharga sony ericsson untuk tipe yang ditiru
    bener-bener berani :lol:

  11. masmoemet

    on January 20, 2009 at 10:34 pm

    wakaka kreatip tuh

    makasih lhoo… :lol:

  12. Rindu

    on January 20, 2009 at 11:24 pm

    wah buat ah blog baru …. LINDU kali yah, halah :)

    hehehe
    lindu teh kalo di bahasa jawa artinya gempa loh :P

  13. Abdee

    on January 21, 2009 at 1:14 am

    Hahaha…

    Kalo jaman saya sma dulu, adanya stiker plesetan, yang paling saya inget adalah Pizzu Hot.

    Pizzu = Ibu (bahasa prokem Jogja)

    owh iya, bener…
    tapi kasar…
    eh ya namanya aja bahasa prokem ya :mrgreen:

  14. Alexhappy

    on January 21, 2009 at 9:11 am

    cina memang sering niru produk lain……tapi beda kualitasnya

    moga indonesia bisa membuat produk sendiri……dgn merk sendiri….

    uhm, kayaknya indonesia juga banyak yg niru kok
    dagadu misalnya
    di malioboro, mulai yang harga sepuluh ribu sampai puluhan ribu ada tuw tiruannya :(

  15. emfajar

    on January 21, 2009 at 10:10 am

    hahaha china emank top deh klo buat produk2 aspal kayak gini..

    kebanyakan mereka pake metoda reverse engineering

  16. edratna

    on January 21, 2009 at 10:26 am

    Dari sisi paten, kalau tak sama persis tak masalah…seperti: Pizza huh…bukankan disini juga ada Izzi pizza dsb nya?

    Kalau ajaran teman, jika ingin beli tas bagus, tapi bukan merk terkenal, sebaiknya malah yang tak terlihat merknya….

    kalau komposisi warna sama, tipografi jg mirip, gt tetep ndak papa ya bu?

    iya…daripada bermerk tapi ketauan palsu. mending ndak usah yang merk aja sekalian :D

  17. teguhjunanto

    on January 21, 2009 at 11:13 am

    Hahaha .. saya sebenernya takjub dengan fenomena di China, terlepas dari caranya. Populasi penduduk yang terbesar menjadi awal bagi mereka untuk memproduksi barang murah (=tenaga murah), sehingga munculah gambar2 yang mba tampilkan ini.

    Saya kadang berpikir, ini baru meniru produk.. bagaimana kalo nanti misalnya masing2 individu di China menghasilkan ide baru ..?
    Tentu bukan perusahaan besar saja yang terusik hehe..

    benar
    dan SDM di China banyak yang berkualitas
    mereka etos kerjanya tinggi dan banyak yang akhirnya berprestasi di sekolah2 MBA luar negeri
    salut…

  18. kishandono

    on January 21, 2009 at 1:13 pm

    neo kapitalisme dari yang diusung karena produk yang murah emang luar biasa. salut buat china, sekarang aja sebagian besar produk dari china, bisa jadi nantinya bendera Indonesia ada tulisan “made in china”

    wah jangan sampailah….
    eh tapi mungkin saja ding
    mengingat industri tekstil china lumayan mengalahkan tekstil indonesia :)

  19. phery

    on January 21, 2009 at 4:09 pm

    keuntungan perusahaan bermerk hampir sama itu harganya relatif lebih murah tapi tampilan luar hampir sama…. pasti laris dooong. Contohnya KuFC sendiri :D

    pelanggan setia KuFC ya? :lol: saya tetep pilih lotek bu bagyo deh… :D

  20. gus

    on January 21, 2009 at 4:31 pm

    jangan2 ini dampak dari ajaran filsafat substansialisme Kang. gak penting merek. Yang penting barangnya. Murah dan bisa nggaya pula saat menggunakannya…hehehe

    what?? Kang??
    huks…sedih saya
    gadis ting-ting dipanggil ‘kang’ :D

  21. maskoko

    on January 21, 2009 at 7:40 pm

    Ahhh… bener2 edan
    tapi semua tergantung pembelinya sih
    kl ada yg murah kenapa beli yg mahal :D

    nah, pembeli macam itu jugalah yang sepertinya berusaha digaet pasar ini :mrgreen:

  22. rocknoida

    on January 21, 2009 at 8:38 pm

    plagiat apa ga kreatif nih ??

    mungkin dua-duanya…mungkin jga tidak
    karena kan kadang berlaku, ada permintaan maka ada penawaran :)

  23. Jafar Soddik

    on January 21, 2009 at 8:41 pm

    Satu keunggulan dari produk-produk Cina adalah harga yang benar-benar miring tapi ya memang kita tidak akan bisa berharap banyak dengan itu karena dalam banyak kasus justru produk mereka hanya hangat sesaat.
    Tapi kelihatannya ke depan Cina dengan potensi penduduknya yang besar akan dapat menjadi sebuah negara yang bisa terdepan dalam hal teknologi dan melahirkan produk-produk yang berkualitas :)

    benar,,,hal ini terlihat dari SDMnya yang belakangan menjadi makin berkualitas
    mereka banyak belajar di sekolah-sekolah luar negeri
    china dan india yang menjadi macan asia :)

  24. ayahshiva

    on January 21, 2009 at 8:52 pm

    “memasuki pasar dengan mengusung merk benar-benar baru adalah suatu hal yang sulit”
    bener banget, saya juga mengalaminya, secara saat ini saya berprofesi sebagai sales untuk produk baru

    wah benar…
    menjadi bagian sales yang paling sulit
    istilahnya, mereka yang nrabas hutan…membuka jalan buat majunya perusahaan
    semangat, pak!! :mrgreen:

  25. Ardy Pratama

    on January 21, 2009 at 9:13 pm

    kmren jga ada yg blogger crta soal pnjual spatu yg ngtot soal merk spatu. Si Ibu pgn bliin spatu merk EAGLE, tpi ma si pnjual dksih yg merk EGEL.. Hehehehehe…

    wew, serius?
    ckckckck….

  26. Ghani Arasyid

    on January 26, 2009 at 1:05 am

    Menurut saya, di Indonesia lebih banyak counterfeiting yang merk-nya sama persis… :(

    bener,,,mungkin impor dari china juga? :mrgreen:

  27. Natan

    on February 12, 2009 at 10:13 am

    Siiipp, bagus juga prinsipnya bu, kayaknya buat merk dagang sendri dan ga niru2 memang lebih baik, ad kebanggaan tersendiri kalau berhasil.
    Sukses bu, salam kenal….

  28. Uchan

    on February 19, 2009 at 7:05 pm

    Kalo yg merk aspal kualitasnya sama tapi harganya jauh lebih murah, buat apa beli merk kan wen =))

  29. harri

    on March 6, 2009 at 5:34 pm

    kl ad blog urlnya weniaulia.com itu masuk kategori yg sama bukan wen ?

    heheh