Sejak September yang lalu, ekonomi dunia dihebohkan dengan berita keruntuhan ekonomi Amerika. Penyebab awalnya adalah adanya kredit macet pada sektor perumahan di sana. Masyarakat di sana sangat umum melakukan hipotek untuk rumah mereka. Kredit macet hipotek ini yang perlahan membuat lembaga pemberi kredit ambruk hingga menyebabkan ekonomi Amerika terguncang.
Krisis yang terjadi di Amerika saat ini membuat saya memikirkan kembali pola konsumsi yang dilakukan kebanyakan masyarakat Indonesia. Meski hipotek jarang disebut di tanah air ini, istilah kredit sudah sangat familiar di telinga. Jika diingat, pasti sering kita mendapat tawaran kredit kendaraan, baik itu motor maupun mobil, yang mensyaratkan DP sangat rendah. Tak hanya itu. Barang-barang elektronik, hape, dan bahkan peralatan rumah tangga yang dijual melalui ibu-ibu arisan pun melayani pembayaran melalui kredit. Dengan mengeluarkan uang sedikit dahulu, sudah bisa memperoleh barang-barang berkelas, tentu sangat menggiurkan bagi kebanyakan masyarakat kita yang masih saja menempatkan gengsi dalam berpenampilan di urutan teratas.
Seorang kenalan, menjabat sebagai PNS bergolongan [maaf] kurang tinggi. Pos kerjanya pun di sebuah kantor swasta yang boleh dikata [maaf] kurang makmur juga. Bayangan saya, sungguh tanpa bermaksud meremehkan, gaji yang ia terima perbulan mungkin tidak seberapa. Setahu saya, dia tidak memiliki pekerjaan sampingan. Suaminya pun ‘hanya’ bekerja di bengkel biasa. Tapi saya selalu dibuat kagum dengan cara dia berpenampilan. Dari ujung rambut hingga ujung kaki kebanyakan berlabel merk terkenal, yang saya yakin harganya mencapai ratusan ribu. Pertama kali, saya salut dengan cara dia mengelola uang. Saya kira dia pandai menghemat sehingga dia mampu membeli barang-barang bermerk. Sayangnya, ternyata untuk memperoleh itu semua dia menggunakan uang hasil berhutang
.
Ah, biarkan saja. Kenapa pula saya urusi urusan orang lain. Toh itu uang, uang dia sendiri.
Benar. Memang tidak sepatutnya saya urusi permasalahan dia. Saya hanya berpikir sangat mungkin ada lebih banyak lagi orang Indonesia semacam itu yang ada di luar lingkungan saya. Budaya konsumtif sepertinya sudah melekat erat di era kita.
Yang tentu masih segar dalam ingatan adalah saat Idul Fitri tiba. Banyak dari kita seolah berlomba-lomba membelanjakan uang mereka. Tidak, tidak ada yang salah menurut saya. Toh kebiasaan itu memang kemudian membuat roda perekonomian berputar lebih cepat. Dana pun mengalir dari kota ke desa. Namun, pernahkah kita berpikir tidak terlalu memaksakan dirikah kita? Mencari pinjaman di sana-sini. Mengurus tetek bengek kredit kendaraan untuk bekal transportasi mudik. Dengan dalih setahun sekali, di manapun kelas ekonominya, banyak yang kemudian memaksakan diri membelanjakan uang demi menunjukkan rasa terima kasih dan syukur kepada kerabat di kampung.
Belum lagi, uang tersebut dibelanjakan di toko-toko besar. Maka pula tak heran bila jadinya yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Mengapa tidak sesekali membelanjakan uang di pasar-pasar tradisional? Pasar tradisional kan tidak melulu menawarkan barang kelas bawah.
Kita sudah tahu bahwa apa yang dialami Amerika saat ini sama halnya dengan yang dialami Indonesia tahun 1998 dulu. Dari kejadian yang dialami negara adidaya itu, saya belajar betapa berbahayanya berutang. Saya rasa, menunjukkan rasa terima kasih dan syukur tidak perlu dilakukan secara berlebihan. Jika memang kondisi saat ini belum memungkinkan kita membeli barang-barang mewah untuk sanak saudara di kampung, ya beli dulu yang sesuai kondisi sebenarnya kantong kita. Jadikan keterbatasan itu sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat agar tahun depan bisa membelikan untuk mereka sesuatu yang lebih baik lagi.
Lebih miris lagi jika hasil utang yang didapat kemudian sekadar untuk membeli barang konsumsi. Bukan untuk aktivitas produksi. Alangkah akan lebih baik bila sekalipun utang, tapi utang tersebut digunakan untuk modal usaha. Menyewa ruko, membeli bahan baku berjualan, atau untuk membeli mesin produksi
.
saya cuman belanja baju koko buat lebaran doang…
just it… hehhe
@aRuL — nggak tanya hehehhe

@wenny — humm .. kalo dia seorang muslim .. seharusnya mengerti bahwa berhutang itu dibenci, karena Rasulullah pernah tidak mensholati orang yang meninggal dalam keadaan berhutang, meski para sahabat menshalatinya ..
selain itu jika kita meninggal dalam keadaan berhutang lebih repot lagi ..
yah memang saat ini hawa nafsu lebih banyak menguasai dan susah untuk bersabar dan bertawakkal ..
wempi banyak belanja, cuma kebetulan aja pada lebaran, suer… kebetulan doang kok.
he..he, kredit ya?
begitulah itu…
Makanya segera kita terapkan perekonomian syariah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
tampaknya sangat berat menghadang kerakusan orangkaya itu, agennyapun orang pintar semua, alias MM, MBA, ahli ekonomi.., mereka tidak pernah peduli..mass media ikut-ikutan…kredit motor, mobil..dll
Gilanya bukan hanya kredit barang itu, produk makanan juga…Ayam broiler, ikan keramba, makanannya diberi anti biotik. roti dan susu di beri melamin, daging diberi formalin, semangka dan melon disuntik dg air yang manis dll dlll, ini adalah gambaran kerakusan…Lalu?!, konsumen rakyat.
Yang lebih gawat lagi menurutku dagang pulsa, dengan iming-iming hadiah, polling, telp hunting otomatis.. (ketika telp ktr tertentu, kita disuruh menekan 0, 1, atau 2, dst..dst, lalu nyanyi-nyani, bosan kita tutup, telp lagi..kejadian serupa berulang) hehehe..Indnesia negeriku.
saya belanja seperlunya
untung saya ga hobi belanja
Kabarnya, si paman Sam itu terjerembab karena boros konsumsi (baca belanja), terutama dibidang energi yang sumbernya masih satu yaitu minyak. Beruntunglah mereka2 yang punya banyak cadangan minyak (dan bisa mengolahnya sendiri).
Wah.. emang hipotek itu apa wen ? Aku baca macam-macam artikel tentang krisis amerika, tapi masih banyak gak ngerti…
Yang kutahu kredit perumahan disana banyak yang macet. Detailnya masih kurang tau. Paling jadinya tau bagaimana sistem kredit perumahan disana…
Masalah lebaran…iya, setuju aku. Aku lebih suka menyebut itu budaya gengsi di Indonesia menjelang Lebaran. Mereka beli untuk ditunjukkan ke saudara pas Lebaran. Bener gak ya ?
Memang berbahaya pola konsumtif itu… dan masalah pasar tradisional. Setuju, malah aku pikir untuk beberapa jenis barang jauh lebih baik di tradisional.
Btw, mohon maaf lahir batin wen
( belum kan ? )
Uang jajan saya gak cukup untuk foya foya sist …
bener bangget…
naudzubillah dech kalo mpe ngajuin kredit cuma untuk jaga gengsi. mending buat kredit yang lebih produktif sehingga gak cuma gengsi yang didapet, tapi kesejahteraan yang sejati…
met lebaran tanpa baju baru dan budaya berlebihan…
btw, ada yang udah nemu pengganti teori kapitalis belum? yang lebih baik gitu dari teorinya mbah adam smith n d genk????
Oooo gitu ya wen… nanya di YM, dijawab di blog
Hipotek itu yang di mainan monopoli kan ya? Hehehehe…
Wah, mo nggaya kok sampe ngutang.. Nggak mikir ntar mbayarnya bingung apa? Mending gaya katak ato kupu2 aja… Kynya murah tuh…
salam kenal yo….
tulisannya bagus banget…
untung aku gak jadi kredit rumah,jadinya nabung (bertahap)sampe – sampe ga beli baju koko lebaran kemaren.
krisis amerika sebelumnya sudah di prediksi ketika euro belum ada,tp karena bnyak negara2 yang masih bergantung ke amerika yah..imbasnya pasti merasakan juga.
kalau membeli produk dalam negri sih bisa2 aja yah…seperti beras minyak dll..tp kalau yang berbau teknologi mungkin qt(indonesia) masih belum bisa.makanya sedikit /banyak pasti kena imbasnya..
warm regards
ihk saya cuman bisa tersenyum and menghela napas ja.. indonesia mang dah seneng yg namanya image.. skarang anak tukang panci handphonenya n80, tetangga office boy punya pda, anak muda dikampung pd pake motor semua.. taunya pada ngutang smua alias kredit.. gila keren2 banget yaw..
ihk indonesia makin maju aja yach…
wa sebagai accounting support sistem peace2 aja dech
oh ya……..
keren informasinya…
thanks yoo informasi_y..
sedikit banyak_y.. berguna banget….
Ana mao mulai belajar hemat…
gak mao ah belanja yg gk penting-penting lagi..
heehee…
[...] sebenarnya krisis ini bermula? Tentu bukan karena ada Lebaran dong ya… Saya sedikit coba menceritakan awal anjloknya ekonomi Amerika. Mohon dikoreksi jika ada [...]
saya sependapat dengan abu fatimah,lagi pula itu terlalu belebihan bagi saya,melihat pendapat,dengan pengluaran bagai besar pasak daripada tiang,padahal allah tlh mnjelaskan seperti dalam(Al-Maa-idah: 77).(An-Nisaa’: 171).dan roulpun bersabda:Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Celakalah orang-orang yang melampaui batas!’ Beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR. Muslim (2670).