Inggris dari Kacamata Saya

Westminster Palace & Big Ben

Mungkin ada 1001 lebih alasan mengapa saya begitu ingin belajar ke Inggris. Pertama, mainly because they speak english, bahasa yang secara de facto diakui dan digunakan di lebih dari separuh penjuru dunia. Ada yang bilang logat mereka sulit dipahami. Scousers (Liverpool) bicara dengan dialek yang berbeda dibandingkan Cockneys (London) atau Brummies (Birmingham). Tapi ada juga yang bilang aksen orang Inggris terdengar unik dan seksi. Saya yakin itu semua tak cuma memperkaya kemampuan berbahasa Inggris saya, tetapi juga memperkaya pengetahuan tentang budaya dan sosiologi orang Inggris.

Kedua, Inggris juga punya kota-kota yang menarik. London misalnya, adalah ibukota yang begitu iconic, multikultural, sekaligus exciting untuk dijelajahi. Bath, kota yang unik dan eksentrik, seperti kota di Eropa daratan yang “salah tempat” diletakkan di Inggris. York, kota yang dikelilingi benteng dengan arsitektur historis. Atau Edinburgh, kota tua yang penuh dengan benteng dan kastil gagah dan kontemporer. Yang tak kalah menarik tentunya countryside di highland Skotlandia yang penuh dengan obyek pemandangan alam menakjubkan.

Kalau soal mutu pendidikan, rasanya Inggris tak perlu dipertanyakan lagi. Oxford dan Cambridge adalah salah dua universitas tertua yang reputasinya diakui dunia. Universitas-universitas lain seperti Nottingham, Manchester, Newcastle, York, Warwick, Imperial College, dan sebagainya juga sudah jadi langganan papan atas di peringkat universitas terbaik dunia. Lulusan-lulusan Inggris juga terbukti memegang posisi penting di Indonesia, misalnya Juwono Sudarsono (mantan Menhan), Dino Patti Djalal (Jubir Presiden), atau Marty Natalegawa (Menlu).

Selain mutu pendidikannya sudah teruji, pelajar/mahasiswa di Inggris juga menikmati “privilege” lebih. Kita bisa mendapatkan rail card atau bus card yang jauh lebih murah daripada tarif umum. Student discount juga lazim diberikan oleh retailer-retailer ternama di Inggris. Kalau mau, pelajar/mahasiswa juga diperbolehkan mengambil pekerjaan part time hingga 40 jam per minggu tanpa dipotong pajak. Jadi, biarpun orang bilang studi di luar negeri (terutama di Inggris) itu mahal, sebetulnya tidak mahal-mahal amat — apalagi bila melihat begitu banyak yang bisa kita peroleh di sana.

Tapi kalau boleh jujur, sesungguhnya yang pertama kali mengenalkan saya dengan Inggris adalah Mr. Bean. Mr. Bean adalah karakter “anak-anak” yang ada dalam tubuh orang dewasa. Biarpun terlihat lugu dan bodoh, Mr. Bean membuat saya mengenal begitu banyak hal tentang Inggris dari perspektif yang tidak biasa. Dari Mr. Bean saya punya gambaran tentang seperti apa itu kota London utara, seperti apa London National Gallery, bagaimana english breakfast disajikan, sampai soal day saving time (DST), yaitu dimana waktu dimajukan satu jam ketika summer dan dimundurkan juga satu jam ketika winter menjelang.

Dalam setiap episodenya, Mr. Bean digambarkan sebagai sosok yang aneh dan kurang rasional. Uniknya, ia selalu punya jalan keluar terhadap masalahnya sendiri — walaupun jalan keluar itu seringkali nyeleneh dan tak pernah kita pikirkan. Misalnya, ia memasang kunci gembok di pintu mobilnya dan mencopot setir untuk mencegah pencuri mengambil mobilnya. Atau, ketika Mr. Bean memanfaatkan sejumlah mercon yang diletakkan di dalam kaleng cat untuk mewarnai dinding apartemennya dengan cepat dan praktis. Ini mengajarkan saya bahwa satu masalah sesungguhnya bisa diselesaikan dengan banyak alternatif solusi.

Belakangan saya baru tahu bahwa Mr. Bean adalah hasil project Rowan Atkinson ketika masih menyelesaikan studinya di Oxford University — dan tentu saja bahwa Rowan Atkinson ternyata juga tidak sebodoh apa yang ia perankan. Sebaliknya, ternyata butuh talenta dan kemampuan yang luar biasa untuk menghidupkan karakter seorang Mr. Bean menjadi tontonan yang enak dinikmati. Memang benar, ia adalah tokoh yang terlihat remeh dan terlalu sederhana. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat saya makin penasaran sekaligus tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang Inggris.

Tentu saja Inggris bukan surga yang maha sempurna. Ada sebagian orang yang mengeluh bahwa cuaca di Inggris begitu horrible, banyak hujan dan jarang matahari memamerkan sinarnya. Sebagian orang yang lain mengeluhkan bahwa makanan di Inggris cenderung tawar dan kurang kaya citarasa. Tapi seperti kata pepatah, “When in Rome, do what Romans do.” Ketika nanti saya bisa ke Inggris, yang harus saya lakukan adalah membiasakan dan mengadaptasikan diri dengan apa yang orang-orang Inggris lakukan — termasuk soal cuaca dan makanan.

To sum up, I belief that everyone should have to experience life abroad on their own. It will definitely changes who you are and what you find important in your life. Thanks to Mr. Bean, my choice is now become obvious: England.

Tags:

3 Responses to “Inggris dari Kacamata Saya”

  1. British Council Indonesia - NOW 60 » Blog Archive » Ini dia tulisan peserta Says:

    [...] Raissa Rahmawati ,  Lia Arianti Ganni , M. Arief Gunawan , Metha Paramitha , Anvi Febriyanti , Wenny Aulia , Tombak Matahari , Puji S. Wijaya , Raut Bonita , Unee Adisti , Yusuf Abdulwahid , Azrul Makarim , [...]

  2. Triunt Says:

    Hihi Mr. Bean.
    sekarang masihkah Rowan Atkinson jd komedian terkaya di dunia?

  3. slams Says:

    lhoh kok ada pidio mister bean nih? heheheh
    salam kenal dari wong gunungpatti ya

Leave a Reply