Robert H. Schuller pernah berkata “Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive.” Fisikawan Albert Einstein pun bernah berujar, “If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things.” Saya juga mengamini betapa pentingnya tujuan (goal) dalam hidup kita ini.
Penghujung 2008 sudah tiba dan sebentar lagi kita akan melangkah ke 2009. Menggantikan kata resolusi yang belakangan sudah sering didengung-dengungkan orang, goal (tujuan) apa yang akan (atau ingin) kita capai?
Menurut Anthony Dio Martin (cari di gugel siapa dia), ada dua tipe orang yang berbeda dalam memandang tujuan mereka. Pertama adalah goal seeker. Mereka ini orang yang berusaha menemukan tujuan-tujuan hidup. Mempertimbangkan hal-hal baik dan buruk yang bisa dicita-citakan. Tipe orang yang sangat baik. Sayangnya, that’s it. Cuma sampai pada tahap menemukan saja mereka. Tipe yang kedua adalah goal getter. Orang yang berusaha mewujudkan apa yang menjadi tujuannya. Mereka akan berusaha mencari jalan-jalan tikus untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. Mereka bukan hanya pemimpi, tapi juga pewujud mimpi.

Tapi, apa iya tipe kedua lebih baik daripada tipe pertama?
IMHO, tidak juga. Seorang goal getter yang baik harus bermula dari goal seeker yang baik. Akan percuma berjibaku mencapai tujuan bila di akhir baru sadar bahwa tujuan yang selama ini dikejar ternyata belum mendapat pertimbangan yang matang.
Lagi-lagi IMHO, tahap pertama yang harus dilalui adalah menjadi goal seeker. Tahu apa yang benar-benar diinginkan dan mempertimbangkan sudah benar dan baikkah keinginannya itu. Tidak berhenti di situ, tahap berikutnya yang sebaiknya dicapai adalah menjadi goal getter. Ketika sudah tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan, cari jalan untuk mewujudkan tujuannya itu. Bukan hal mudah karena ketika menghadapi jalan buntu menuju goal getter biasanya akan muncul godaan untuk mencari goal baru yang [dikiranya] memiliki pathways yang lebih mudah.
Agak ngawang-ngawang ya?
Mari kita riilkan. Saya sebetulnya suka menulis. Apalagi belakangan ada banyak kejadian di sekitar kita yang sangat menarik dijadikan bahan postingan. Saya sangat ingin membahas berbagai hal itu di blog ini. Seperti saat ramai-ramainya proyek Tangguh dibicarakan. Uniknya kasus ini ingin saya unggah di sini. Karenanya, saya gugling untuk mencari bacaan seputar proyek Tangguh, siapa-siapa saja tim negosiatornya, bagaimana kemungkinan berhasil, dsb. Sayangnya, begitu jari ini menekan tuts-tuts komputer, saya bingung harus menulis dari mana. Kata teman, menulislah dari awal. Saya tahu itu. Yang saya tidak tahu, yang mana awalnya dan bagaimana mengawalinya. Sulitnya membahas proyek Tangguh, membuat saya berkeinginan menulis tentang pro kontra UU BHP karena saya pikir akan lebih mudah membahasnya. Tapi ternyata, saya gagal lagi menulis tentang itu. Tetap saja sulit dalam menemukan solusi yang mungkin bagi wacana ini. Makanya, banyak ide menulis yang akhirnya hanya tersimpan di otak dan tidak terealisir. Jadilah saya goal seeker, bukan [belum ding] jadi goal getter.
Kata Anthony lagi, inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not productive!).
Apa yang dibutuhkan seorang goal seeker untuk menjadi goal getter adalah momentum. Umumnya, excuse yang dibuat adalah ‘timing‘. Nunggu waktu yang tepat. Actually, waktu yang tepat itu bukan ditunggu tapi dicari. Seperti rejeki yang katanya ada di tangan Tuhan. Kalau tidak berusaha kita capai ya rejeki itu akan selalu ada di tangan Tuhan.
Jadi, moral of the post-nya adalah bermimpilah. Mimpilah setinggi-tinggi dan seluas-luasnya. Tapi jangan lupa buat pijakan yang tinggi pula. Agar semakin dekat kita dengan mimpi itu.
kok jadinya panjang ya??
boleh fast reading deh…
wooogh jadi inget dulu dapaet Quote dari film That Things You Do… quotenya gini: in every life there’s come a time, where every dreams you dreamed become that things you do”
well, dari situ saya tahu, bahwa semua awalnya dari mimpi, jadi ga perlu takut bermimpi. Tapi, ya itu tadi, jangan cuma bisa mimpi, harus juga mewujudkan mimpi jadi kenyataan.
gitu toh?
eh sama ndak sih, intinya? hihihihi
*bukti ndak fasriding*
kayakx aku tipe goalkeeper deh:-)
jadi intinya…kamuh skripsinyah kapan kelar? dah ditunggu dipelaminan tuh!
*dijitak*
whatever !! tetep ikhtiar
hihihi…ada yang mbocorin kalo skripsinya lom kelar neh Kang…..
@atas saya
wen dipanggil kang ?
huh..sebel deh..saya masih berkutat di goal seeker…:(
yang terpenting adalah usah yang kuat untuk menjadikan mimpi menjadi kenyataan kan..
saya jadi goal keeper aja… biar gak kebobolan
whehehehe, kalau lihat penjelasannya saya mau jadi keduanya aja deh ( goal seeker dan goal getter ) bisa nggak ya?
tapi satu hal yang pasti, bahwa manusia hanya bisa berusaha… dan Allah yang menentukan bukan begitu?
mimpi2 itu harus ada untuk diwujudkan wen..
jadi kapan mimpi lulus, wisuda trus nikah ?
*siyul2*
*ketauan fasriding*
Setuju.. Harus mulai dari goal seeker dolo.. Tapi cilakanya, kayanya saya masih belum bisa keluar dari situ..
hmm …
“stay hungry, stay foolish”
Steve Jobs …
nyambung ga ya? ..
Jadi, Wenny udah siap untuk mencapai goal di tahun 2009?
Memang sebaiknya kita udah punya ancang-ancang ke depan…malah banyak yang udah mulai curi start.
emang sih… yang terpenting tuh tujuan kita mesti jelas… tetapi sebelum itu semua… yang penting bukan hasilnya tetapi proses yang kita lalui
ya barengan yuks….skripsinyah
selamat tahoen baru 2009….
apanya goal keeper?
tapi kadang ketika kita sedang tidak mencari, justru kita menemukannya…
selamat tahun baru hijriah dan masehi…
gpp.. panjang malah bagus wen
Hmm, menarik juga. Pertama naik level jadi Goal Seeker, habis itu naik level jadi Goal Getter. Mantep.
Btw, di penghujung tahun gini temanya hampir sama ya tulisannya