Archive for the ‘Opini’ Category

Mengkaji Lagi Tentang Kekayaan Intelektual

Thursday, October 1st, 2009

Kekayaan Intelektual

“Increasingly, companies that are good at managing intellectual property will win. The ones that aren’t will lose.” — Richard Thoman, CEO of Xerox Corporation

World Intellectual Property Organization (WIPO) mendefinisikan kekayaan intelektual sebagai “the rights to literary, artistic and scientific works; performances of performing artists: phonograms, and broadcasts; inventions in all fields of human endeavour; scientific discoveries; industrial designs; trademarks, servicemarks, and commercial names and designations; protection against unfair competition; and all other rights resulting from intellectual activity in the scientific, literary or artistic fields.

Kekayaan intelektual begitu luas — bisa berupa paten, copyright, trademark, registered design, trade secret, confidential agreement, dan sebagainya. Semuanya sama-sama bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum bagi pemilik inovasi. Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual (HKI) menjadi penting karena kita berada pada era knowledge economy yang didominasi oleh intellectual capital dan intangible assets. Oleh karena itu, bagaimana kemampuan mengelola intellectual capital dan intangible assets itulah yang menentukan maju tidaknya suatu negara di zaman ini. (more…)

Mengapa Bank Syariah Tidak Mungkin Berkembang di Indonesia?

Thursday, September 3rd, 2009

Islamic Banking

Topik tentang perbankan syariah di Indonesia selalu menarik untuk dibahas. Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun faktanya bukan bank syariah yang menguasai pasar. Penguasaan pasar bank syariah masih tak lebih dari 5% dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. Ironisnya, di beberapa negara yang dianggap (maaf) “kafir” seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Australia, atau Singapura, praktik perbankan syariah justru lebih berkembang pesat.

Padahal, angin yang bertiup seharusnya menguntungkan bagi bank syariah untuk mengembangkan layarnya. Tahun 2003 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan bunga bank sebagai riba. Arsitektur Perbankan Indonesia juga sudah memfasilitasi keberadaan bank syariah. Syarat modal minimum pendirian bank umum syariah juga lebih rendah daripada bank umum konvensional. Selain itu, sejumlah krisis dan resesi keuangan juga sudah menjadi bukti nyata bahwa bank syariah lebih kebal daripada bank konvensional. Tapi bank syariah bahkan belum mampu menguasai 10% saja dari pasar perbankan nasional.

Lantas, dimana letak permasalahannya? (more…)

Penghambat dalam Kinerja

Monday, August 24th, 2009

As written here, there are several challenges faced by top management:

1. Poor Planning (67%). There are frequent changes in priorities and assignments, and things are not well thought out in advance.
2. Difficult People (63%). People are unresponsive, uncooperative, or just plain hard to work with.
3. Lack of Teamwork (61%). People with whom I need to collaborate or coordinate my work do not communicate with me or others as needed. (more…)

The Next Zizou, katanya

Sunday, February 22nd, 2009

We would like to introduce Madin Mohammed the 6 year old soccer superstar. He is French Algerian just like Zinedine Zidane that has unbelievable ball skills and has been granted a football scholarship by the French Football Federation.–totalprosports.com (more…)

Iklan Partai

Tuesday, February 17th, 2009

Kota di berbagai wilayah di Indonesia saat ini sedang banyak ditumbuhi pohon. Bukan pohon yang hijau itu. Melainkan pohon-pohon bambu berbendera bergambar berbagai partai. Memang unik bicara calon-calon legislatif pada periode ini. Mulai dari aksi kampanye (foto, puisi, slogan), iklan di TV, aliran kas di masyarakat yang cukup besar itu hingga calonnya itu sendiri yang beraneka latar belakang.

Sudah banyak yang berucap sekarang buanyak sekali pilihan caleg untuk dicontreng. Saking banyaknya, masyarakat bingung. Saking banyaknya juga, antar caleg dari partai yang sama harus saling beradu. Ah, lieur…

Yang belakangan merebak adalah kasus iklan PKS yang dinilai tidak etis. Iklan tersebut memanfaatkan momen panas antara kubu SBY dengan Mega. Dalam iklan tersebut ditunjukkan potongan-potongan berita media terkait sindiran-sindiran dari dua kubu itu.

(more…)

perihal kita.dulu.

Wednesday, January 28th, 2009

kenapa kamu begitu egois. itu tanyamu dulu. aku hanya diam. bukan apa. dalam hatikupun menanyakan hal yang sama. mengapa kamu begitu egois sayangku. tapi lidahku kelu. aku hanya mampu berucap. maaf. dan sesudah itu kau diamkan aku. akupun enggan untuk memulai lebih dulu.

tentu kamu ingat kisah kita dulu. saat kita begitu akrab. aku mengeluh kau tertawa. kau merasa marah aku mampu meredamnya. tentu kamu juga ingat. saat kita saling kasih. makan malam pertama kita dulu. aku kira kita akan ke warung lesehan favoritku. ternyata kamu mengajakku ke restoran mahal. penuh peluh kamu dendangkan lagu untukku. kamu bacakan syairsyair cinta bagiku. kau petik gitar yang ternyata hasil gadai kamera kesayanganmu. hanya untukku sayangku. hingga kemudian aku tidak bisa tidak menerimamu.
(more…)

anak dan peradaban

Wednesday, January 21st, 2009

meminjam perkataan Dorothy Law Nolte.

jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.

tiba-tiba terlintas saja dalam pikiran. bagaimana dengan anak-anak gaza itu? atau anak manapunlah yang mereka hidup di lingkungan perang. anak aceh. anak timor timur. anak vietnam. anak manapun. mereka berhadapan dengan permusuhan. dan jauh dari terwujudnya toleransi. jika boleh memilih, mereka mungkin akan meminta dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. di tengah masyarakat yang damai sentausa. di tengah kehidupan bernegara yang serba tertib terjaga. ah…

mengamini perkataan Nolte, teori tabularasa menyebut anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin (entah mengapa musti berselaput lilin). mereka masih polos, putih, dan bersih. mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya.

teringat film ‘Pay It Forward’. kisah tentang seorang anak, yang bermula dari mendapat tugas sekolah dari gurunya, ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. maka ia mengusulkan satu program yang ia beri nama ‘pay it forward’. berbuat kebaikan yang bagi si pelaku cukup besar dan sulit kepada tiga orang. tiga orang ini kemudian meneruskan pada tiga orang lainnya. begitu seterusnya. ide yang nampak sederhana tapi ternyata memang berhasil. mungkinkah program demikian berjalan di indonesia?

kembali ke masalah dua teori di atas. soal perang yang sedang dan sudah terjadi, saya pribadi memilih untuk mengimani. karena saya yakin semua yang terjadi ini sudah atas ijin Tuhan. justru terbersit dambaan dalam hati saya untuk membangun peradaban yang baik bagi generasi mendatang. dengan mencontoh cara ‘pay it forward,’ mungkin. semata hanya untuk menciptakan lingkungan yang jauh dari cemoohan, dan penuh akan toleransi, dorongan, pujian, kasih sayang serta persahabatan. melukis kata perdamaian besar-besar di dalamnya. agar emosi dan egoisme terpatri jauh dari diri anak-anak. anak-anak manapun.

*habis menghadiri akikahan seorang anak yang bukan anak saya dan terharu dengan doa yang diucap bapaknya :mrgreen:

Skema Ponzi

Thursday, January 15th, 2009

Skema Ponzi merupakan sebuah skema piramida investasi ilegal. Diberi nama Ponzi karena skema ini diawali oleh Charles Ponzi, seorang Italia yang telah menipu ribuan warga Inggris sehingga mereka bersedia berinvestasi di skema spekulasi perangko yang ia buat pada tahun 1920. Ponzi berpikir dia dapat mengambil keuntungan dari perbedaan antara kurs US dan asing yang digunakan untuk jual beli kupon surat internasional. Ponzi mengatakan pada investor bahwa ia dapat memberikan return 40% hanya dalam 90 hari. Sementara bunga bank hanya 5%. Orang-orang percaya dan Ponzi pun dibanjiri dana berlimpah dari investor. Akhirnya, dalam enam bulan ia telah memegang $1 juta pada tahun 1921. Sebuah investigasi menemukan bahwa Ponzi hanya memiliki kupon surat internasional seharga $30.
(more…)

Should We Care What Other People Think?

Wednesday, January 7th, 2009

Pertanyaan seperti itu acap keluar dalam benak saya. Should I care what other people think about me? Beberapa orang bilang tidak. Alasannya, buat apa peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita? Toh, tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Masak iya musti nurutin semua persepsi itu. Sementara itu, beberapa orang yang lain berkata ya kita sebaiknya memang peduli karena kadang apa yang mereka pikirkan baik bagi kita. Bisa jadi masukan positif.

(more…)

Goal Seeker dan Goal Getter

Tuesday, December 23rd, 2008

Robert H. Schuller pernah berkata “Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive.” Fisikawan Albert Einstein pun bernah berujar, “If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things.” Saya juga mengamini betapa pentingnya tujuan (goal) dalam hidup kita ini.

Penghujung 2008 sudah tiba dan sebentar lagi kita akan melangkah ke 2009. Menggantikan kata resolusi yang belakangan sudah sering didengung-dengungkan orang, goal (tujuan) apa yang akan (atau ingin) kita capai?
(more…)