Istilah Kebahagiaan Bruto Nasional (Gross National Happiness) pertama kali dimunculkan oleh Raja Bhutan Jigme Singye Wangchuck. Istilah ini berakar dari pemikiran kaum Budha bahwa tujuan utama dari hidup adalah kebahagiaan dalam diri (inner happiness). Oleh karenanya, sang raja merasa bertanggung jawab untuk membangun negaranya berdasar ukuran kebahagiaan rakyat dibanding berdasar ukuran perekonomian seperti GNP (Pendapatan Domestik Bruto).
» Read the rest of this entry «
Uang Belum Cukup Membuat Bahagia
March 9th, 2009 § 53 comments § permalink
sembari menunggu
February 21st, 2009 § 22 comments § permalink
Alert. cuma posting ndak jelas
sembari nunggu si abang gugel krom mendonlot pilm yang saya damba-dambakan. tinggal tigapuluh menit lagi. ternyata mendonlot dari mediafire cepat juga. ndak nyampe tiga jam. dan saya pun bahagia. walo diliputi dosa. dosa karna telah membajak. ah… besar mana dosa membajak dengan dosa golput dan merokok. entahlah. toh keduanya dosa. besar kecil sama saja. neraka di sananya. (etapi saya mo golput ding
) » Read the rest of this entry «
18 Februari itu….
February 18th, 2009 § 36 comments § permalink
18 Februari 1745 ilmuwan Alessandro Volta lahir
18 Februari 1797 Trinidad diserahkan pada Inggris dibawah perintah Sir Ralph Abercromby
18 Februari 1814 terjadi peeprangan Battle of Montereau
18 Februari 1871 lahir Harry Brearley. Meski bukan pemegang paten, ia dipercaya sebagai penemu rustless steel yang kemudian dikenal sebagai stainless steel
18 Februari 1885 Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain dipublikasikan untuk pertama kalinya [wew, baru sadar bahwa kisah itu udah uzur juga]
18 Februari 1929 Academy Award diselenggarakan untuk pertama kalinya » Read the rest of this entry «
perihal kita.dulu.
January 28th, 2009 § 42 comments § permalink
kenapa kamu begitu egois. itu tanyamu dulu. aku hanya diam. bukan apa. dalam hatikupun menanyakan hal yang sama. mengapa kamu begitu egois sayangku. tapi lidahku kelu. aku hanya mampu berucap. maaf. dan sesudah itu kau diamkan aku. akupun enggan untuk memulai lebih dulu.
tentu kamu ingat kisah kita dulu. saat kita begitu akrab. aku mengeluh kau tertawa. kau merasa marah aku mampu meredamnya. tentu kamu juga ingat. saat kita saling kasih. makan malam pertama kita dulu. aku kira kita akan ke warung lesehan favoritku. ternyata kamu mengajakku ke restoran mahal. penuh peluh kamu dendangkan lagu untukku. kamu bacakan syairsyair cinta bagiku. kau petik gitar yang ternyata hasil gadai kamera kesayanganmu. hanya untukku sayangku. hingga kemudian aku tidak bisa tidak menerimamu.
» Read the rest of this entry «
anak dan peradaban
January 21st, 2009 § 30 comments § permalink
meminjam perkataan Dorothy Law Nolte.
jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.
tiba-tiba terlintas saja dalam pikiran. bagaimana dengan anak-anak gaza itu? atau anak manapunlah yang mereka hidup di lingkungan perang. anak aceh. anak timor timur. anak vietnam. anak manapun. mereka berhadapan dengan permusuhan. dan jauh dari terwujudnya toleransi. jika boleh memilih, mereka mungkin akan meminta dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. di tengah masyarakat yang damai sentausa. di tengah kehidupan bernegara yang serba tertib terjaga. ah…
mengamini perkataan Nolte, teori tabularasa menyebut anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin (entah mengapa musti berselaput lilin). mereka masih polos, putih, dan bersih. mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya.
teringat film ‘Pay It Forward’. kisah tentang seorang anak, yang bermula dari mendapat tugas sekolah dari gurunya, ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. maka ia mengusulkan satu program yang ia beri nama ‘pay it forward’. berbuat kebaikan yang bagi si pelaku cukup besar dan sulit kepada tiga orang. tiga orang ini kemudian meneruskan pada tiga orang lainnya. begitu seterusnya. ide yang nampak sederhana tapi ternyata memang berhasil. mungkinkah program demikian berjalan di indonesia?
kembali ke masalah dua teori di atas. soal perang yang sedang dan sudah terjadi, saya pribadi memilih untuk mengimani. karena saya yakin semua yang terjadi ini sudah atas ijin Tuhan. justru terbersit dambaan dalam hati saya untuk membangun peradaban yang baik bagi generasi mendatang. dengan mencontoh cara ‘pay it forward,’ mungkin. semata hanya untuk menciptakan lingkungan yang jauh dari cemoohan, dan penuh akan toleransi, dorongan, pujian, kasih sayang serta persahabatan. melukis kata perdamaian besar-besar di dalamnya. agar emosi dan egoisme terpatri jauh dari diri anak-anak. anak-anak manapun.
*habis menghadiri akikahan seorang anak yang bukan anak saya dan terharu dengan doa yang diucap bapaknya
Should We Care What Other People Think?
January 7th, 2009 § 16 comments § permalink
Pertanyaan seperti itu acap keluar dalam benak saya. Should I care what other people think about me? Beberapa orang bilang tidak. Alasannya, buat apa peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita? Toh, tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Masak iya musti nurutin semua persepsi itu. Sementara itu, beberapa orang yang lain berkata ya kita sebaiknya memang peduli karena kadang apa yang mereka pikirkan baik bagi kita. Bisa jadi masukan positif.
Goal Seeker dan Goal Getter
December 23rd, 2008 § 21 comments § permalink
Robert H. Schuller pernah berkata “Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive.” Fisikawan Albert Einstein pun bernah berujar, “If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things.” Saya juga mengamini betapa pentingnya tujuan (goal) dalam hidup kita ini.
Penghujung 2008 sudah tiba dan sebentar lagi kita akan melangkah ke 2009. Menggantikan kata resolusi yang belakangan sudah sering didengung-dengungkan orang, goal (tujuan) apa yang akan (atau ingin) kita capai?
» Read the rest of this entry «
Selamat Jalan Diplomat Indonesia
December 11th, 2008 § 20 comments § permalink
Singa tua diplomat Indonesia. Begitu beliau dijuluki. Terlahir pada 4 November 76 tahun silam, beliau mengawali karir di usia 22 tahun sebagai sekretaris kedua KBRI di bangkok (1956-1960), tidak lama sesudah beliau menikah.
Berbagai diplomasi dengan mengatasnamakan Indonesia sudah dilakukannya. Salah satu yang bisa saya ingat adalah upaya beliau dalam mempertahankan Timor Timur tahun 1991 silam. Beliau pula yang menjadi utusan pemerintah dalam kasus Hasan Tiro di mana ketika itu Swedia enggan menyerahkan Hasan Tiro untuk diadili pemerintah Indonesia.
Beliau tidak hanya mewakili Indonesia di kancah internasional melainkan juga sebagai inisiator dan formulator kebijakan politik luar negeri Indonesia. Secara aktif beliau berkontribusi dalam pembentukan Non-Aligned Movement, Group 77, ASEAN, dan APEC.
Beliaulah Ali Alatas. Yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama tiga tahun di bawah pemerintahan dua presiden. Yang tahun 2005 lalu sempat ikut mendesak dibebaskannya Aung San Suu Kyi. Yang pagi tadi telah tutup usia akibat sakit yang dideritanya.
Selamat jalan Ali Alatas. 
Selamat jalan tokoh diplomat Indonesia.
cuma ngapdet
December 3rd, 2008 § 21 comments § permalink
Wenny [bertanya-tanya] kenapa belakangan ndak bisa SMS ke nomer XL ya? Kalo telpon sih bisa,,tapi nek SMS kok ndak pernah delivered… Saya sampai terheran-heran. *halah ![]()
Ngayogjazz…
November 13th, 2008 § 27 comments § permalink
Memainkan musik jazz dengan simpel dan spontan di tengah-tengah interaksi sosial masyarakat, di tengah-tengah pemukiman dan di sela-sela penduduk berkegiatan sehari-hari. Begitulah konsep yang diusung Ngayogjazz yang sudah digelar pada 2007 dan akan digelar lagi tahun 2008 ini. Semua orang yang hadir akan dilibatkan dalam berbagai permainan jazz yang cair dan penuh improvisasi. Banyak permainan yang tak terduga akibat interaksi antar pemain alat musik maupun dengan “pemain-pemain” yang secara konvensional disebut penonton. Kejadian begini terjadi ketika permainan musik jazz muncul di benua Amerika. Jazz memang tidak muncul berupa pertunjukan, tetapi berupa permainan bersama.
» Read the rest of this entry «
