meminjam perkataan Dorothy Law Nolte.
jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.
tiba-tiba terlintas saja dalam pikiran. bagaimana dengan anak-anak gaza itu? atau anak manapunlah yang mereka hidup di lingkungan perang. anak aceh. anak timor timur. anak vietnam. anak manapun. mereka berhadapan dengan permusuhan. dan jauh dari terwujudnya toleransi. jika boleh memilih, mereka mungkin akan meminta dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. di tengah masyarakat yang damai sentausa. di tengah kehidupan bernegara yang serba tertib terjaga. ah…
mengamini perkataan Nolte, teori tabularasa menyebut anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin (entah mengapa musti berselaput lilin). mereka masih polos, putih, dan bersih. mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya.
teringat film ‘Pay It Forward’. kisah tentang seorang anak, yang bermula dari mendapat tugas sekolah dari gurunya, ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. maka ia mengusulkan satu program yang ia beri nama ‘pay it forward’. berbuat kebaikan yang bagi si pelaku cukup besar dan sulit kepada tiga orang. tiga orang ini kemudian meneruskan pada tiga orang lainnya. begitu seterusnya. ide yang nampak sederhana tapi ternyata memang berhasil. mungkinkah program demikian berjalan di indonesia?
kembali ke masalah dua teori di atas. soal perang yang sedang dan sudah terjadi, saya pribadi memilih untuk mengimani. karena saya yakin semua yang terjadi ini sudah atas ijin Tuhan. justru terbersit dambaan dalam hati saya untuk membangun peradaban yang baik bagi generasi mendatang. dengan mencontoh cara ‘pay it forward,’ mungkin. semata hanya untuk menciptakan lingkungan yang jauh dari cemoohan, dan penuh akan toleransi, dorongan, pujian, kasih sayang serta persahabatan. melukis kata perdamaian besar-besar di dalamnya. agar emosi dan egoisme terpatri jauh dari diri anak-anak. anak-anak manapun.
*habis menghadiri akikahan seorang anak yang bukan anak saya dan terharu dengan doa yang diucap bapaknya

kandungannya dijaga yah!
*bukan anak saya –> kapan nyusul hihihi… =))
segera cari calon bapak…
ditest “mendoakan anaknya”…
jadi kapan kamu punya anak sendiri Wen… biar ga cuma sekedar teori gituuuh…
*gendong Vio*
bener kata Chic tuh…
Wenny jelekkkkkkkkkkkkk
jd ikut terharu
do’a bapaknya gimana? pengen niru.
idem sama yang di atas semua. Kapan nyusul? sama kayak om abdee tuh….. masih setia sendirian
)
Aku sepertinya pernah melihat foto anak kecil itu….di Jambi…punya sodara di Jambi? saya sekantor sama beliau (yang punya Foto) Salam.
anak saya udah mau 4 tahun umurnya
Jika anak dibesarkan dgn guyonan dia akan belajar melawak, bener gak sih.., hehehee..e..e.. Emank benar, dalam usia pertumbuhan, kepribadiaan si anak akan sangat ditentukan oleh kondisi lingkungannya.
anak… hmmm… kapan gw bikin anak ya? T_T
bener sih, pasti doa bapaknya dalem bgt…
dan itu pasti karna pengalaman pribadi (keluar doa kekgitu)
mungkin juga nantinya anak anak gaza pinter perang yah….salam knal….
huks*
ga tahan
kenapa yg di korbankan selalu anak-anak?
jaga anak baik-baik.
iya, kasian anak2 yang keburu kehilangan keluarganya sebelum pribadinya terbentuk..
bawaanku selalu pengen nangis kalo ikut akad nikah sodaraa
Memang kasihan banget mereka. Seharusnya bisa belajar dan bermain bersama teman-temannya, semua kesempatan itu sirna karena perang.
terharu.. ga bisa bayangin gmn perkembangan anak2 di daerah konflik itu
kasian ya mereka, rata2 menderita trauma berat. gimana ya mereka menghadapi masa depan dgn kondisi sprt itu?
kasian tuh anak2, masih kecil harusnya gak jadi korban perang
hmm…
yang lebih miris lagi film “Sleeper”
tentang penjara anak-anak, dimana mereka sebenarnya gag perlu sampe diperlakukan layaknya kriminal berat…
dan yang saya lihat sekarang, anak2 sekarang lebih “brutal” dari masa-masa yang lalu
kapan nyusul punya momongan mbak
jadi makin kaco peradaban makin kaco anaknya gituh
cuma negor n ada post baru tuh di blog ane
Apa do’anya bapaknya mbak ?
mendidik anak memang harus extra hati2, karena ingatanya sangat kuat, sedihh rasanya, kalau inget waktu sering marahin dia waktu kecill
wah, artikelnya sangat menyentuh mbk?, jadi inget waktu sering bikin dia nangis, semoga kita bisa jadi orang tua yg baik bagi anak2 kita
salam kenal mbk
Pay it Forward..
damnly good idea!
hha*
iya yah, blm punya anak.
ya jaga aja, anak siapa kek,
tolong di jaga.
yuk cintai anak kita
salam kenal,
iya, membayangkan masa depan anak-anak itu, sebenarnya seperti membayangkan masa depan dunia.
yang bisa merubahnya adalah kita sendiri. dengan tangan-tangan ibu bumi yang dititipkan lewat kita dan rahim-rahim ini. semuanya tergantung kita.
dengan apa kita membesarkan anak kita, maka seperti itulah kita akan dipelihara di hari tua nanti.