Ah Jakarta!

April 30th, 2010 § 7 comments

Satu hal yang mengganjal di benak saya mengenai kota ini adalah tentang toleransi. Berulang kali saya mendapati ibu hamil atau orang tua sulit mendapatkan tempat duduk di kendaraan umum, kecuali kenek bus yang meminta penumpang untuk memberikan tempat duduk pada ibu hamil atau orang tua tersebut. Banyak dari penumpang yang tahu tapi tidak mau tahu. Atau tahu dan kemudian pura-pura tidak tahu. Walaupun tentu saja, tidak semua penumpang seperti itu.

Pernah suatu kali di dalam bus, saya memperoleh tempat duduk. Tak lama kemudian ada penumpang lain yang masuk. Seorang ibu tua. Saya pun berdiri dan mempersilakan si ibu duduk. Ibu itu entah bergumam apa. Mungkin berterima kasih. Saya hanya timpali dengan senyuman. Tidak lama berselang, seorang penumpang lain bertanya pada saya, “Baru ya mbak di Jakarta?” Saya balik bertanya, “Kenapa?” “Orang yang belum lama tinggal di kota ini yang biasanya berbuat seperti yang Mbak tadi lakukan.”

Saya hanya bisa tersenyum. Kota ini kota besar. Sekaligus kota penuh tipu. Di belakang gedung megah, banyak ditemui gubug reyot. Di antara puluhan orang berjalan dengan penampilan klimis, terdapat peminta-minta dengan pakaian lusuh. Yang tentu saja, entah itu pakaian lusuh sebenarnya atau ‘dibuat’ lusuh. Tidak ketinggalan pula tukang-tukang ojek yang sering memanggil dengan sebutan “neng geulis.” Entah mereka jujur atau demi memperoleh penumpang untuk menjaga dapur mereka tetap mengebul. Ingat, ini kota penuh tipu.

Pada kali yang lain, saya menunduk dan tersenyum pada seorang bapak muda yang memberi saya tempat duduk di dalam bus. Serta merta, bapak tua di sebelah saya duduk menyapa saya dan bertanya, “Dari Jawa ya, Mbak?” Wiew, sebegitu Jawa-kah muka saya, pikir saya ketika itu. Seakan mampu membaca pikiran saya, tanpa di jawab si bapak tua meneruskan, “Jarang sekali saya lihat ada orang menunduk tanda hormat begitu di sini.”

Saya malu. Ini bukan hal besar tapi berulang kali kejadian macam itu saya alami. Saya heran. Kota sebesar ini tidak familiar dengan hal sekecil itu. Saya melakukannya begitu saja. Semata karena ingat kata ibu bapak saya. Jaga sikap, jaga ucapan, kamu sendirian di sana.

Eh tapi toh saya tidak sesuci itu. Pada suatu Jumat, dua bulan berselang, saya harus kembali ke Jakarta Barat. Saya merasa sangat kepayahan. Badan dan pikiran saya lelah. Tapi demi sebuah hubungan keluarga, saya memaksa diri menempuh perjalanan jauh itu. Dua puluh menit saya menunggu bus jurusan yang saya tuju. Dan hore, saya dapat tempat duduk! Lumayan, bisa satu jam tidur di perjalanan. Baru lima menit duduk dan saya belum juga tertidur, masuklah seorang bapak tua. Semua kursi sudah penuh. Saya bukannya memberi tempat duduk, saya justru berpura-pura tidur. Sesuatu yang dua bulan lalu saya hujat habis-habisan. Tuhan, ampuni aku. Aku sungguh lelah untuk beranjak bangun demi bapak itu. Saya hanya bisa berucap demikian.

Lagi-lagi saya tersadarkan. Men-judge seseorang karena satu perilakunya bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Mustinya saya khusnudzon, mungkin penumpang-penumpang itu juga kelelahan sehingga enggan memberikan tempat duduk pada lansia dan ibu hamil. Dan saya telah termakan pikiran saya sendiri. Lagi.

Ah, Jakarta!

§ 7 Responses to Ah Jakarta!"

  • SeaGate says:

    kalo masalah tempat duduk itu kayanya di jogja juga sama aja wen.. yang g ada di jogja tuh kemacetan yang parah.. temperamen orang2 di jalan raya yang tinggi…

    saya ndak tau jg, git. Di jogja saya seringnya bawa kendaraan sendiri, jd ndak tau kondisi di kendaraan umum :”>
    E tapi kalo pengendara mobil lebih sopan di jakarta loh

  • christin says:

    banyak yang bilang, Jakarta bisa merubah orang lain. makanya aku takut kerja di Jakarta, wen… aku takut kehilangan nurani.

    nah, itu dia, mbak.. tp ya apa daya. penempatanku di jakarta terus

  • Chic says:

    eh saya waktu hamil rasanya gampang-gampang aja dapet tempat duduk? Apa karena bis yang saya tumpangi memang cuma shuttle bus di komplek perkantoran ini, jadi yang naik disitu pun notabene orang-orang terpelajar ya?

    waww…enchic udah hamil lagi?
    vio mo punya adek? #fasriding

  • Wempi says:

    Makanya bawa bangku dari rumah…

    sebenernya saya malah kepikiran buat bawa tiker aja. bisa muat banyak orang sekalian :”>

  • ossmed says:

    ibukota lebih kejam dari ibu tiri^^

    tapi ibu tiri teman saya ndak kejammm :D

    mampir dulu
    penyakit GO:yang menular melalui hubungan seksual

  • farid says:

    hem….ini namanya apa ya….modern era?

  • satu kata says:

    sebenarnya sih gak terlalu jauh ma desa keadaan tu, pa lagi kalau musuhan mbak
    anak cucu bisa kebawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>