Krisis Amerika itu Bermula dari….

October 8, 2008 at 5:15 pm
filed under Miscellaneous, Opini

las vegas

Seorang kawan mengeluh betapa anjloknya IHSG. Bahkan jadi yang terparah penurunannya se-Asia. Dampaknya, saham-saham yang dipegang kawan saya itu menurun poinnya dan terus menurun. Yang menjadi penyebab, tak lain adalah krisis Amerika yang konon terparah pada tujuh tahun terakhir ini, yang oleh beberapa orang dikatakan mirip dengan yang dialami Asia sepuluh tahun lalu.

Bagaimana sebenarnya krisis ini bermula? Tentu bukan karena ada Lebaran dong ya… Saya sedikit coba menceritakan awal anjloknya ekonomi Amerika. Mohon dikoreksi jika ada salah. Maklum,,masih belajar .

Masyarakat Amerika memiliki kepercayaan bahwa investasi di sektor riil, terutama properti, akan sangat menguntungkan. Akibatnya, orang berbondong-bondong investasi di sana. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, saat demand tinggi sementara tidak dibarengi dengan supply yang tinggi pula, harga properti menjadi naik.

Bank-bank utama Amerika menerapkan sistem credit rating, yaitu persyaratan yang harus dipenuhi debitur agar bisa meminjam sejumlah dana untuk membeli rumah. Di antara yang menjadi kriteria adalah jenis pekerjaan, tingkat disposable income, latar belakang keluarga, pendidikan, kesehatan sampai ras, golongan, dan agama.

Adalah yang dinamakan subprime mortgage, yaitu pinjaman kepada pembeli rumah di Amerika yang jaminannya kurang. Hal ini diberlakukan guna menjadi solusi bagi warga miskin di sana mendapatkan rumah. Ketatnya persyaratan kredit ditambah dengan proses yang tidak gampang, menyebabkan para warga miskin itu mengajukan kredit (hipotek) ke lembaga pembiayaan (seperti Fanni Mae, Fredie Mac, AIG, Merill Lynch, Lehman Brothers).

Lembaga pembiayaan ini merupakan pihak penengah antara bank dengan calon pembeli (home loan). Sebenarnya uang tunai yang dimiliki pihak penengah ini hanya sedikit. Dengan agunan surat kepemilikan rumah dari para home loan, lembaga pembiayaan meminjam dana dari bank untuk kemudian dipinjamkan kembali pada para home loan. Dengan demikian, meskipun lembaga pembiayaan hanya memiliki uang satu juta dollar, telah dapat meminjami para home loan 10 juta dollar.

Pertengahan 2008 lalu, harga minyak meroket tajam dan menyebabkan kenaikan biaya produksi. Dampaknya, banyak perusahaan harus memangkas biaya produksi yang bisa dipangkas, seperti memecat sejumlah karyawannya. Dampaknya lagi, karyawan itu tidak mampu membayar cicilan hipotek. Bagaimana bisa mencicil jika pekerjaan saja mereka tidak punya? Karena tidak bisa mencicil, lembaga pembiayaan menyita aset properti yang dihipotekkan. Jika yang terjadi hanya satu dua kasus saja, maka tidak akan ada masalah. Sayangnya, banyak home loan yang tidak mampu membayar cicilan. Akibatnya lembaga pembiayaan harus menyita lebih banyak rumah dan apartemen lagi.

Sementara itu, di sisi lain, lembaga pembiayaan juga harus membayar pihak bank atas dana yang dipinjamnya. Karena tidak ada pemasukan berupa cicilan (uang tunai), lembaga keuangan hanya bisa membayar melalui aset properti hasil sitaan. Padahal, bank hanya mau menerima pembayaran berupa uang tunai. Mau tidak mau, akhirnya lembaga pembiayaan tersebut menjual aset hasil sitaan dengan harga murah. Dan sampai di titik tertentu mereka tidak mampu lagi membayar pinjamannya, hingga terjadi kredit macet (bad debt).

Seperti kita tahu, sumber dana bank adalah dari tabungan dan bunga pinjaman kredit. Ketika masyarakat sudah tidak memiliki dana, mereka akan kesulitan untuk menabung. Ditambah lagi, dengan adanya kredit macet, maka bank-bank ini tidak mampu memperoleh dana untuk operasionalnya. Akibatnya, perbankan di sana kolaps dan krisis pun terjadi. Bush juga sudah mengakui terjadinya hal ini.

Lalu, apa dampaknya bagi perekonomian Indonesia?
Secara langsung maupun tidak, perekonomian Indonesia pasti akan terpengaruh. Di lantai bursa, misalnya, IHSG anjlok. Ekspor Indonesia yang ke Amerika pun pasti akan terpengaruh, entah itu sekadar berkurang atau malah terhenti sama sekali.

Menurut Budiono, Gubernur BI (KOMPAS 6/10/2008), ada dua dampak utama sebagai imbas krisis ekonomi di AS, yaitu pengeringan likuiditas dan pelambatan ekonomi global. Dampak itu akan mulai dirasakan dalam enam bulan sampai setahun ke depan.

Pengeringan likuiditas, secara gampang boleh diartikan uang yang ada dalam bank akan semakin menyusut. Padahal, bank akan membutuhkan uang kas untuk operasional mereka. Untuk mengatasi permasalahan ini, bank mungkin akan menaikkan bunga deposito dengan harapan dapat menarik dana masyarakat masuk ke bank. Di sisi lain, bunga pinjaman juga akan dinaikkan, yang berarti para debitur bisa jadi akan menerima tagihan cicilan yang melonjak dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Dalam hal pelambatan ekonomi global, aliran kas akan melambat dan menyebabkan perputaran uang dalam dunia usaha juga melambat. Untuk perusahaan-perusahaan besar, mungkin tidak akan terlalu sulit menghadapi pelambatan ini. Yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah UKM di Indonesia yang banyak jumlahnya itu .

19 comments

RSS / trackback

respond

  1. zoel chaniago

    on October 8, 2008 at 7:46 pm

    wahhhhh bakat ni mba’ jadi pengamat ekonomi dunia :D

    walah…masih jauh untuk bisa kesana, mas :D

  2. ayon

    on October 8, 2008 at 9:40 pm

    andai aku presiden amerika…

    wah,,kaya lirik lagunya PRoject Pop “Andai aku superstar”

  3. Elys Welt

    on October 9, 2008 at 6:03 am

    ngeri kalau baca soal anjloknya saham di mana2

    malah peluang kan? buat ngeborong saham2 bagus :D

  4. babeh

    on October 9, 2008 at 6:17 am

    warning bagi para pialang kakap, sesekali boleh dong mereka nikmati surutnya IHSG, gpp toch keuntungan mereka juga dah ga keitung jumlahnya….., tapiiiii, emang si, dampaknya ya kebawah juga……..

    iya sih…

  5. wahyukresna

    on October 9, 2008 at 8:43 am

    *puyeng…

    sip betul infonya., tolong Mbak, jelasin singkatnya dulu pada saya, trus baru penjabarannya… :mrgreen: *maksa mode On

    singkatnya…amerika hampir bubar gara2 kebanyakan utang
    gt sih ringkasan ekstrimnya :D

  6. yakhanu

    on October 9, 2008 at 11:53 am

    info yang bagus :)

    mohon maaf lahir batin yach..

    iya,,sama-sama :)

  7. pengendara

    on October 9, 2008 at 12:10 pm

    oooh begitu ceritanya,
    sangat mencerahkan.

    hehe..begitulah :mrgreen:

  8. tren di bandung

    on October 9, 2008 at 3:33 pm

    baru ame rika udah bgini
    apalagi sekalian ame rudi, ame tono, ame susan…

    he he he…

    hihihi…
    iya jg ya.. :P

  9. edratna

    on October 9, 2008 at 4:35 pm

    Kondisi saat ini tetap masih lebih baik dibanding saat krisis moneter, karena saat ini cadangan devisa Indonesia cukup, korporasi tidak jor2an pinjam kredit dalam valas, bahkan jarang yang pinjam langsung dari Bank di LN…terlihat dari undisbursement loan yang cukup besar.

    Masalahnya, pasar Indonesia harus dijaga, jangan sampai negara lain yang pasarnya selama ini ke Amerika (seperti China dsb nya), mengalihkan pasar ke Indonesia, yang berakibat memukul pasar UKM di dalam negeri.

    Berinvestasi di pasar saham memang berisiko tinggi, namun tak terlalu risiko jika memang niatnya untuk jangka panjang,. Akan terasa jika niat investasinya untuk mendapatkan capital gain….jadi kalau punya saham, ditahan aja dulu, berharap setahun atau dua tahun ke depan pasar saham akan kembali semula.
    Mudah2an perkiraanku benar, karena saya juga termasuk yang mendapat kerugian….
    (catt: di Kompas hari ini, likuiditas sudah aman, sehingga GWM tak diatur dikaitkan dengan besarnya LDR)

    barusan saja lihat press release dr bu Sri Mulyani
    fundamental Indonesia emang sepertinya lebih kuat
    mungkin kalau irrasionalitas pasar dihilangkan,, IHSG bisa kuat
    *ugh, it’s only my two cents :P
    Benernya ini mgkn saat yang tepat buat beli saham yak, bu
    mumpung harganya anjlok
    dan saya setuju,,,pegang untuk long term sepertinya memang lebih baik :)

  10. Diedien®

    on October 9, 2008 at 6:18 pm

    Nampaknya berdampak ke situasi ekonomi negeri kita deh…??? KRISMON jilid yg kesekian bagi bangsa Kita… :sad: :cry:

    memang berdampak
    tapi mudah2an tidak parah,,
    optimis aja deh :mrgreen:

  11. DJoniE

    on October 9, 2008 at 9:40 pm

    Ooooo… Gini tho… Ngerti sekarang Wen… Makasih..

    yoyoi… :)

  12. primadianto

    on October 9, 2008 at 9:59 pm

    Umm,, bukannya malah krisis yang sekarang tu malah yang paling parah sejak Great Depression di 1930s ya?
    Gila bgt emang, 700M USD aja belum cukup untuk meyakinkan pelaku pasar disana.
    Bandingkan sama waktu krismon dulu di Indonesia yang pake dana BLBI 20M USD (Udah termasuk yang dikorupsi sana-sini yang kasusnya sampe sekarang ngga kelar2).

    *klo salah lagi ya koreksi lagi..Maklum anak elektro (cari alesan)
    :p

    hehehe
    gak bisa dibandingin juga kali, to…
    secara kasus kan poinnya udah beda juga :D

  13. tuyi

    on October 10, 2008 at 10:17 am

    bener, bener pengamat ekonomi nih wenny…..
    tahun depan ikut caleggg……

    loh?? :mrgreen:

  14. Menik

    on October 10, 2008 at 10:59 am

    *baca*
    *mencoba mengerti*
    *ga mudheng juga*

    Wennyyyyyyyyyyyyyyyyyy :(

    belajar masak aja yu, bun :lol:

  15. masDan

    on October 10, 2008 at 1:23 pm

    Kata Pak SBY, Biar Ekonomi Amerika Ambruk Pun, Indonesia Tetep Bisa Makan.

    * kalo Salah, Tolong dikoreksi …Hehe

    wah, saya malah ndak tau pak SBY bilng begitu
    hihihi :D

  16. Wempi

    on October 10, 2008 at 4:04 pm

    kok gambarnya eiffel

    iya ya?
    tak kira itu Los Angeles… :oops:

  17. Abeeayang™

    on October 10, 2008 at 5:16 pm

    cieh…cieh….pengamat ekonomi….. :P cocok tuch…. :P

    kalau saya anak elektro, pasti saya akan ngamatin kabel kok… :mrgreen:

  18. yudhi14

    on October 10, 2008 at 8:06 pm

    jangan sampai tragedi krisis ekonomi yang pernah menimpa negara kita kembali terulang lagi
    cape cape dah cape sama yang nama nya krisis ekonomi

    semoga tidak sampai krismon lg….
    *btw, sekarang dolar dah tembus 10.000 -.-*

  19. indra1082

    on October 11, 2008 at 11:46 am

    MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
    mohon Maaf Lahir dan Batin

    sama-sama :)