#48 Perasaan

well

Aku tiba-tiba tercekat. Apa yang sudah susah payah diredam, tiba-tiba berputar kembali di dalam kepala. Tidak dengan cara yang menyenangkan, tentu saja.

Siang ini, seperti biasa, aku menyempatkan mampir ke tempat biasa dalam perjalanan ke kampus. Aku memesan minuman yang biasanya, lalu menuju tempat duduk kosong, yang bukan tempat duduk biasanya. Sudah aku niatkan untuk melamun; mengizinkan pikiranku berkelana ke mana-mana. Menyenangkan.

Belum juga ritual melamun kumulai, mataku tertumbuk pada secarik kertas yang diletakkan dekat vas berisi dahlia merah tua dan wild verbena. Entah oleh siapa. Who’d wrote in red color anyway. Aku ambil kertas itu.

“He left her in ruins and yet she still stands.
A lot like colosseum,
she’s had wars waged
inside of her that most
could not endure.
She’s unshaken, and I marvel
at her beauty,
marvel at her strength ~ DJ Parker”

She’s unshaken…

You are the stubbornest unshaken girl I’ve ever known, once you’ve said.

Satu per satu adegan terulang kembali dalam pikiran. Setiap. Detilnya. Bangku lusuh di warteg favorit. SKSDmu dengan mbak warteg. Tawa lepas. Hal konyol. Pertengkaran. Aku memukulmu. Diammu. Aku ingat semua. Berulang. Mimpi. Rencana-rencana. Rasa kehilangan itu. Berulang. Pandanganku mulai kabur. Pening sekali. Nafasku berat. Mataku menghangat.

Perasaanku mulai tidak enak. Ada yang sedang terjadi di ujung sana. Tapi enggan sekali aku memeriksa. Buat apa.

Ini berbeda dengan perasaan yang ada ketika kamu kenalkan aku dengan temanmu. Aku geli luar biasa ketika itu. Aku biarkan kalian bercakap seru berdua. Pun di pertemuan-pertemuan berikutnya. Sampai kemudian kamu menghubungiku, ‘dia suka padaku.’ Iya, aku tau dari pertama dulu. Lelaki itu memang menyukaimu. Tapi aku tidak kuatir karena aku percaya orientasimu. Haha.

Juga lain dengan perasaan ketika ibumu datang. Aku langsung tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Bukan kebetulan ada banyak janji yang tiba-tiba batal. Dan yang terjadi setelahnya memang sudah kuantisipasi sebelumnya. Karena perasaanku memintaku demikian.

Iya, ini berbeda. Kuat sekaligus hampa.

Kita sudah jauh. Tapi perubahan yang terjadi padamu aku masih bisa rasakan. Cukup kuat untuk membuat isi kepalaku berputar acak dan sikapku gelisah. Semata karena aku tak bisa menuruti kemauan perasaanku untuk menghubungimu. Ingin memang aku memastikan perasaanku benar. Tapi lalu apa.

Semoga kebahagiaan tak berpisah darimu. Just so you know, I’ll keep my promise not to be hard on myself.

 

Ballarat membuat saya mellow. Hhh.

Leave a Reply