Monthly Archives: March 2016

#44 Waspada Finlandia

VODKA FINLANDIA

Pemberitaan heboh soal kondisi keuangan Finlandia sudah mulai beredar sejak pertengahan tahun lalu. Alexander Stubb, Menteri Keuangan Finlandia, sendiri beberapa waktu lalu mempertanyakan apakah sekarang Finlandia telah menjadi ‘the sick man of Europe‘. Pemikiran ini muncul akibat turunnya GDP Finlandia sebesar 0,6% pada kuarter ketiga tahun 2015; penurunan besar dibandingkan negara lain di Eropa.

Memangnya kenapa sih Finlandia?

Baru-baru ini, ETLA mempublikasikan laporan “Finlandia and Its Northern Peers in the Great Recession” yang berisi tentang penurunan tajam kondisi makroekonomi Finlandia dan beberapa negara di sekelilingnya. Padahal, WEF menyatakan bahwa Finlandia adalah negara peringkat 8 dengan ekonomi paling kompetitif di dunia lho.

Ada beberapa penyebab penurunan makroekonomi Finlandia.
1. Apple
Produk Apple telah mengancam dua industri Finlandia. Satu, industri kertas. Permintaan kertas berkurang banyak karena penggantian media cetak oleh penyedia internet. Tentu saja ini bukan hanya ‘ulah’ Apple. Akan tetapi, Apple adalah pemain utama di sini. Dua, Nokia. Sebagai penyedia mobile phone terbesar, Nokia tidak mampu merespon tantangan yang diberikan produk Apple. Akibatnya, Nokia yang selama ini menyumbang 1/3 GDP Finlandia mengalami penurunan produksi yang akhirnya mengarah pada pengurangan lapangan kerja.

2. Penurunan Ekspor
Rusia merupakan destinasi ekspor Finlandia terpenting kelima. Beberapa tahun belakangan, ekonomi Rusia melemah antara lain akibat harga minyak yang turun. Akibatnya kegiatan impor produk, termasuk dari Finlandia, mengalami penurunan. Finnish Customs bahkan menyatakan bahwa ekspor Finlandia ke Rusia mengalami penurunan per Mei 2015 sebesar 35% dibandingkan tahun 2014.  Selain itu, separo dari ekspor Finlandia merupakan bahan mentah. Dengan demikian, nilai jual barang ekspor Finlandia sulit untuk naik.

3. Penurunan usia produktif
Dengan berkurangnya jumlah penduduk berusia produktif, maka berkurang pula pendapatan dan pajak yang dibayarkan kepada negara.

4. Daya saing tenaga kerja
Saat ini, gaji di Finlandia adalah tertinggi ketujuh di Eurozone dengan produktivitasnya (GDR per jam kerja) jauh di bawah rata-rata Eropa. Hal ini menjadikan tenaga kerja Finlandia tidak menarik lagi. Sebagai solusi, seharusnya jam kerja yang ditambah atau gaji tenaga kerja yang diturunkan.

Lalu apa dampaknya bagi Indonesia? Bagi kita?
Seperti halnya krisis Yunani, pada jangka panjang, apabila kondisi keuangan Finlandia tidak juga membaik, Indonesia akan terpengaruh efek dominonya. Di antara dampak itu adalah pada pasar modal. Sentimen negatif akan kondisi Eropa akan dapat menurunkan IHSG. Selain itu, di pasar uang, nilai tukar euro terhadap dolar AS akan menurun sehingga dolar AS menguat. Akibatnya, nilai tukar rupiah akan melemah dan pada sektor riil, pembelian bahan baku industri yang menggunakan mata uang dollar AS akan semakin mahal. Akan tetapi, kita harus tetap tenang kecuali kita punya aset sangat banyak di pasar modal dengan tujuan investasi jangka pendek atau sebagai pelaku kegiatan ekspor/impor.

 

https://mamarantaudotcom.files.wordpress.com