#43 Mengapa ada tanggal 29 Februari?

Berapa dari kalian yang lahir tanggal 28 Februari bosan dengan komentar “wah untung bukan lahir tanggal 29 Februari”?
Apalagi kalian yang lahir pas tanggal 29 Februari-nya.

Kalian yang bosan dengan komentar-komentar itu bisa jadi adalah yang sudah senior *eh* karena sudah bertemu lebih beragam dan lebih banyak orang.

29 Februari ada karena sistem kalender kita bergantung pada perputaran bumi terhadap matahari. Satu putaran bumi terhadap matahari memerlukan waktu 365 hari dan 6 jam (persisnya sih 365 hari 5 jam 49 menit 16 detik). Pada kalender Masehi, satu tahun atau satu putaran bumi mengelilingi matahari dibulatkan ke bawah menjadi 365 hari. Oleh karena itu, setiap empat tahun sekali ada tambahan 24 jam yang harus ditambahkan ke dalam kalender.

Perhitungan matematika lainnya juga dilakukan untuk memenuhi kekurangan 10 menit 44 detik pada pembulatan 6 jam itu, yaitu penambahan 3 hari pada setiap 400 tahun. Untuk mendapatkan perhitungan tersebut, dicari tahun yang dapat dibagi oleh 100 tapi tidak oleh 400. Selisih waktu pada tahun tersebut ‘dihilangkan’ untuk memberikan menit tambahan pada 400 tahun berikutnya. Makanya, tahun 1700, 1800, dan 1900 tidak termasuk tahun kabisat karena bisa dibagi 100 tapi tidak bisa dibagi 400. Tahun yang dapat dibagi 4 tapi bukan tahun kabisat berikutnya adalah tahun 2100. Kebayang ga?

Pertanyaan berikutnya, mengapa Februari? Mengapa tidak April, padahal dia hanya punya 30 hari?
Pada masa Julius Caesar, Februari memiliki 30 hari. Sedangkan bulan yang mengandung namanya (bulan Juli) memiliki 31 hari. Adapun Agustus terdiri dari 29 hari. Nah, saat Caesar Augustus berkuasa, dia menambahkan 2 hari pada bulan kelahirannya agar jumlah harinya sama dengan bulan Juli. Man’s ego, isn’t it? Hahaha.

Saya jadi ingat Benjamin Franklin pernah menulis esai berjudul Information to Those Who Would Remove to America. Ada yang bilang tulisan itu dibuat pada February 29, 1784. Tapi barusan saya gugling ternyata dibuat September 1782 *lah*
Eniwei, esai Franklin ini ditujukan untuk orang-orang Eropa yang menganggap Amerika sebagai land of dreams and fantasy. Ada empat hal yang menjadi klarifikasi Franklin:

Pertama, penduduk Amerika Utara itu kaya, mampu, dan cerdik, tetapi tidak peduli pada ilmu pengetahuan.

Franklin membantah hal ini dengan mengatakan bahwa Amerika memiliki sembilan universitas, dibandingkan dengan Inggris yang hanya memiliki empat.

Kedua, orang asing yang memiliki kemampuan seni akan diakui dan memperoleh bayaran yang tinggi di Amerika.

Franklin berpendapat bahwa Amerika membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dan dapat menjadi aset bagi masyarakat. Estetika dan keindahan bukan bagian dari budaya mereka, meskipun pada praktiknya hal tersebut akan diakui.

Ketiga, orang non kelahiran Amerika akan dihormati dan mudah memperoleh pekerjaan dengan jabatan terbaik.

Terlahir dengan keturunan bangsawan tidak otomatis menjadikan orang tersebut diangkat bekerja di kantor pemerintah Amerika. Franklin menambahkan bahwa bahkan banyak orang di Amerika yang mengerjakan hal-hal tidak berguna dan hanya sedikit yang mengelola negara.

Keempat, apabila pindah ke Amerika, pemerintah Amerika akan memberikan transmigran Eropa tanah, transportasi gratis dari Eropa ke Amerika, orang kulit hitam yang akan bekerja untuk mereka, serta kebutuhan pertanian seperti alat bertani dan hewan ternak.

Menurut Franklin, perusahaan di Amerika hanya akan menghargai orang yang mau bekerja keras.

Perlukan pemerintah provinsi DKI Jakarta (dan kota besar lainnya) menyebarkan klarifikasi serupa ke seluruh pelosok Indonesia untuk mengendalikan laju pendatang ke Jakarta?

sumber: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/12177017/Leap-Year-2016-Why-does-February-have-29-days-every-four-years.html

The Science of Why February 29 Exists and Poet Jane Hirshfield’s Ode to the Leap Day

Leave a Reply