Monthly Archives: February 2016

#43 Mengapa ada tanggal 29 Februari?

Berapa dari kalian yang lahir tanggal 28 Februari bosan dengan komentar “wah untung bukan lahir tanggal 29 Februari”?
Apalagi kalian yang lahir pas tanggal 29 Februari-nya.

Kalian yang bosan dengan komentar-komentar itu bisa jadi adalah yang sudah senior *eh* karena sudah bertemu lebih beragam dan lebih banyak orang.

29 Februari ada karena sistem kalender kita bergantung pada perputaran bumi terhadap matahari. Satu putaran bumi terhadap matahari memerlukan waktu 365 hari dan 6 jam (persisnya sih 365 hari 5 jam 49 menit 16 detik). Pada kalender Masehi, satu tahun atau satu putaran bumi mengelilingi matahari dibulatkan ke bawah menjadi 365 hari. Oleh karena itu, setiap empat tahun sekali ada tambahan 24 jam yang harus ditambahkan ke dalam kalender.

Perhitungan matematika lainnya juga dilakukan untuk memenuhi kekurangan 10 menit 44 detik pada pembulatan 6 jam itu, yaitu penambahan 3 hari pada setiap 400 tahun. Untuk mendapatkan perhitungan tersebut, dicari tahun yang dapat dibagi oleh 100 tapi tidak oleh 400. Selisih waktu pada tahun tersebut ‘dihilangkan’ untuk memberikan menit tambahan pada 400 tahun berikutnya. Makanya, tahun 1700, 1800, dan 1900 tidak termasuk tahun kabisat karena bisa dibagi 100 tapi tidak bisa dibagi 400. Tahun yang dapat dibagi 4 tapi bukan tahun kabisat berikutnya adalah tahun 2100. Kebayang ga?

Pertanyaan berikutnya, mengapa Februari? Mengapa tidak April, padahal dia hanya punya 30 hari?
Pada masa Julius Caesar, Februari memiliki 30 hari. Sedangkan bulan yang mengandung namanya (bulan Juli) memiliki 31 hari. Adapun Agustus terdiri dari 29 hari. Nah, saat Caesar Augustus berkuasa, dia menambahkan 2 hari pada bulan kelahirannya agar jumlah harinya sama dengan bulan Juli. Man’s ego, isn’t it? Hahaha.

Saya jadi ingat Benjamin Franklin pernah menulis esai berjudul Information to Those Who Would Remove to America. Ada yang bilang tulisan itu dibuat pada February 29, 1784. Tapi barusan saya gugling ternyata dibuat September 1782 *lah*
Eniwei, esai Franklin ini ditujukan untuk orang-orang Eropa yang menganggap Amerika sebagai land of dreams and fantasy. Ada empat hal yang menjadi klarifikasi Franklin:

Pertama, penduduk Amerika Utara itu kaya, mampu, dan cerdik, tetapi tidak peduli pada ilmu pengetahuan.

Franklin membantah hal ini dengan mengatakan bahwa Amerika memiliki sembilan universitas, dibandingkan dengan Inggris yang hanya memiliki empat.

Kedua, orang asing yang memiliki kemampuan seni akan diakui dan memperoleh bayaran yang tinggi di Amerika.

Franklin berpendapat bahwa Amerika membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dan dapat menjadi aset bagi masyarakat. Estetika dan keindahan bukan bagian dari budaya mereka, meskipun pada praktiknya hal tersebut akan diakui.

Ketiga, orang non kelahiran Amerika akan dihormati dan mudah memperoleh pekerjaan dengan jabatan terbaik.

Terlahir dengan keturunan bangsawan tidak otomatis menjadikan orang tersebut diangkat bekerja di kantor pemerintah Amerika. Franklin menambahkan bahwa bahkan banyak orang di Amerika yang mengerjakan hal-hal tidak berguna dan hanya sedikit yang mengelola negara.

Keempat, apabila pindah ke Amerika, pemerintah Amerika akan memberikan transmigran Eropa tanah, transportasi gratis dari Eropa ke Amerika, orang kulit hitam yang akan bekerja untuk mereka, serta kebutuhan pertanian seperti alat bertani dan hewan ternak.

Menurut Franklin, perusahaan di Amerika hanya akan menghargai orang yang mau bekerja keras.

Perlukan pemerintah provinsi DKI Jakarta (dan kota besar lainnya) menyebarkan klarifikasi serupa ke seluruh pelosok Indonesia untuk mengendalikan laju pendatang ke Jakarta?

sumber: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/12177017/Leap-Year-2016-Why-does-February-have-29-days-every-four-years.html

The Science of Why February 29 Exists and Poet Jane Hirshfield’s Ode to the Leap Day

#42 Akhir Pekan Bersama Buah Naga

Akhir pekan kemarin saya diajak Pakde Mbilung memetik buah naga. Saya langsung iyakan ajakannya dan menuju Bogor pada Jumat malam.

Sabisa Farm, nama tempatnya. Singkatan dari Sarana Belajar Petani Sarjana. Kebun buah naga ini milik alumni IPB yang sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat belajar berkebun bagi mahasiswa IPB. Makanya, yang mengelola juga para mahasiswa (dengan mentor). Selain merawat tanaman (memupuk, mempertemukan benang sari dengan putik, menyiangi gulma, memangkas sulur), mereka juga menemani para tamu yang datang dan memberikan penjelasan soal buah naga. Siapa saja boleh datang ke sini, asalkan dengan pemberitahuan terlebih dahulu. Kayaknya sih untuk memastikan ada orang yang bisa menemani tamu.

Buah naga yang ditanam ada dua jenis, putih dan merah. Menurut mahasiswa yang menemani kami, ada beberapa perbedaan yang bisa dikenali. Tanaman buah naga putih memiliki garis putih pada sulurnya, sedangkan buah naga merah tidak. Bunga tanaman buah naga putih dapat melakukan penyerbukan sendiri karena posisi serbuk sari dan putiknya sudah pas (hahaha sudah pas!), sedangkan buah naga merah memerlukan bantuan manusia. Bunga buah naga mekar pada malam hari. Pada saat mekar itu, mahasiswa-mahasiswa ini menggunakan kuas mempertemukan benang sari dengan putiknya. Pada saat berbuah, tanaman buah naga putih bisa ada 2-3 buah, sedangkan pada buah naga merah hanya satu. Buah naga putih bentuknya lebih besar dan lonjong dengan sisik yang jaraknya agak lebar, sedangkan buah naga merah umumnya lebih kecil dibandingkan buah naga merah dan bentuknya bulat dengan jarak sisik yang agak lebih berdekatan.

Dari setiap ruas duri pada sulur, bisa jadi tempat untuk bunga buah naga. Oleh karena itu, ketika memetik buah, kita diminta membuat huruf V dan memastikan duri di kanan-kiri buah naga tidak ikut terpotong.

Di antara buah naga, mereka menanam pohon-pohon pepaya Kalita atau yang sering disebut pepaya California. Sayangnya kemarin belum ada pepaya yang matang dan siap petik.

Di Sabisa, buah naga dijual Rp30.000,00/kg; buah merah dan putih sama harganya. Agak mahal memang bila dibandingkan dengan di supermarket atau pasar. Tapi rasanya beneran beda. Buah naga putih yang biasanya sepo dan ada aroma tanah, buah naga Sabisa tidak. Rasanya lebih kaya; ada manis dan asam. Kalau untuk buah naga merahnya, relatif sama dengan beli di luar sih, hanya lebih segar saja.

Sabisa Farm ini ternyata inisiasi dari Gun Sutopo (biasa dipanggil Pakde Gun), pemilik Sabila Farm yang ada di Jogja. Kapan-kapan saya pingin mampir Sabila deh.

*ngebayangin buah naga potong yang baru keluar dari kulkas*
nyam!

 

Sabisa Farm
Sabisa Farm

 

 

Nyenengin amat liat merah-merah gelantungan
Nyenengin liat merah-merah gelantungan

 

mahasiswa yang mengelola Sabisa
mahasiswa yang mengelola Sabisa
bunga buah naga
bunga buah naga
buah naga putih; ada garis putih pada sulurnya
buah naga putih; ada garis putih pada sulurnya
buah naga merah; lebih bulat
buah naga merah; lebih bulat




Sabisa Farm:
Jalan Sindang Barang, Gedung Seng, RT 03/05. Kelurahan, Loji, Bogor Barat
Twitter @sabisafarm

Sabila Farm:
Jl Kaliurang KM 18,5 Pakem, Sleman Yogyakarta
http://sabilafarm.com
Phone: +62 878 3926 0725
Facebook: Sabila Farm
Twitter: @SabilaFarm