January 28th, 2009 § § permalink
kenapa kamu begitu egois. itu tanyamu dulu. aku hanya diam. bukan apa. dalam hatikupun menanyakan hal yang sama. mengapa kamu begitu egois sayangku. tapi lidahku kelu. aku hanya mampu berucap. maaf. dan sesudah itu kau diamkan aku. akupun enggan untuk memulai lebih dulu.
tentu kamu ingat kisah kita dulu. saat kita begitu akrab. aku mengeluh kau tertawa. kau merasa marah aku mampu meredamnya. tentu kamu juga ingat. saat kita saling kasih. makan malam pertama kita dulu. aku kira kita akan ke warung lesehan favoritku. ternyata kamu mengajakku ke restoran mahal. penuh peluh kamu dendangkan lagu untukku. kamu bacakan syairsyair cinta bagiku. kau petik gitar yang ternyata hasil gadai kamera kesayanganmu. hanya untukku sayangku. hingga kemudian aku tidak bisa tidak menerimamu.
» Read the rest of this entry «
January 28th, 2009 § § permalink
sapi jaman sekarang….

tiangnya nutupin jalan…

model rumah baru…
.jpg)
bahan bakar yang selalu dapat diperbaharui… » Read the rest of this entry «
January 21st, 2009 § § permalink
meminjam perkataan Dorothy Law Nolte.
jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. 
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.
tiba-tiba terlintas saja dalam pikiran. bagaimana dengan anak-anak gaza itu? atau anak manapunlah yang mereka hidup di lingkungan perang. anak aceh. anak timor timur. anak vietnam. anak manapun. mereka berhadapan dengan permusuhan. dan jauh dari terwujudnya toleransi. jika boleh memilih, mereka mungkin akan meminta dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. di tengah masyarakat yang damai sentausa. di tengah kehidupan bernegara yang serba tertib terjaga. ah…
mengamini perkataan Nolte, teori tabularasa menyebut anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin (entah mengapa musti berselaput lilin). mereka masih polos, putih, dan bersih. mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya.
teringat film ‘Pay It Forward’. kisah tentang seorang anak, yang bermula dari mendapat tugas sekolah dari gurunya, ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. maka ia mengusulkan satu program yang ia beri nama ‘pay it forward’. berbuat kebaikan yang bagi si pelaku cukup besar dan sulit kepada tiga orang. tiga orang ini kemudian meneruskan pada tiga orang lainnya. begitu seterusnya. ide yang nampak sederhana tapi ternyata memang berhasil. mungkinkah program demikian berjalan di indonesia?
kembali ke masalah dua teori di atas. soal perang yang sedang dan sudah terjadi, saya pribadi memilih untuk mengimani. karena saya yakin semua yang terjadi ini sudah atas ijin Tuhan. justru terbersit dambaan dalam hati saya untuk membangun peradaban yang baik bagi generasi mendatang. dengan mencontoh cara ‘pay it forward,’ mungkin. semata hanya untuk menciptakan lingkungan yang jauh dari cemoohan, dan penuh akan toleransi, dorongan, pujian, kasih sayang serta persahabatan. melukis kata perdamaian besar-besar di dalamnya. agar emosi dan egoisme terpatri jauh dari diri anak-anak. anak-anak manapun.
*habis menghadiri akikahan seorang anak yang bukan anak saya dan terharu dengan doa yang diucap bapaknya
January 18th, 2009 § § permalink
China telah menegaskan dirinya sebagai king of counterfeiters dengan cara membangun mall baru khusus barang-barang bermerk palsu. Uhm, merk palsu? Saya rasa kurang tepat disebut demikian karena merk-nya menurut saya sih asli. Asli dia yang buat. Hanya, memang [sengaja] mirip dengan merk lain yang lebih terkenal.
Mall yang dimaksud berada di Nanjing, timur Shanghai. Di sana katanya terdapat tenant yang menggunakan merk-merk serupa tapi tak sama dengan merk yang lebih dulu tenar. Seperti Mc Dnoald’s, Bucksstar Coffee, Pizza Huh, A&G, Dama, Adidos, Farrari, dan KLG.



» Read the rest of this entry «
January 15th, 2009 § § permalink
Skema Ponzi merupakan sebuah skema piramida investasi ilegal. Diberi nama Ponzi karena skema ini diawali oleh Charles Ponzi, seorang Italia yang telah menipu ribuan warga Inggris sehingga mereka bersedia berinvestasi di skema spekulasi perangko yang ia buat pada tahun 1920. Ponzi berpikir dia dapat mengambil keuntungan dari perbedaan antara kurs US dan asing yang digunakan untuk jual beli kupon surat internasional. Ponzi mengatakan pada investor bahwa ia dapat memberikan return 40% hanya dalam 90 hari. Sementara bunga bank hanya 5%. Orang-orang percaya dan Ponzi pun dibanjiri dana berlimpah dari investor. Akhirnya, dalam enam bulan ia telah memegang $1 juta pada tahun 1921. Sebuah investigasi menemukan bahwa Ponzi hanya memiliki kupon surat internasional seharga $30.
» Read the rest of this entry «
January 7th, 2009 § § permalink
Pertanyaan seperti itu acap keluar dalam benak saya. Should I care what other people think about me? Beberapa orang bilang tidak. Alasannya, buat apa peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita? Toh, tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Masak iya musti nurutin semua persepsi itu. Sementara itu, beberapa orang yang lain berkata ya kita sebaiknya memang peduli karena kadang apa yang mereka pikirkan baik bagi kita. Bisa jadi masukan positif.
» Read the rest of this entry «
January 7th, 2009 § § permalink
Mungkin terlalu basi bagi kita untuk membahas sinetron. Dari jaman kapan tahun hingga sekarang, sinetron masih saja menghiasi jam-jam prime time stasiun-stasiun TV tanah air. Peristiwa yang baru saja terjadilah yang membuat saya kembali membahas sinetron. Beberapa waktu lalu seorang rekan, sebut saja rekan-yang-gemar-sinetron (RYGS), membuat pernyataan mengejutkan. Setidaknya buat saya. Dia bilang, “Kalau bukan kita orang Indonesia, lalu siapa yang mau nonton sinetron??”
» Read the rest of this entry «