#47 Simulasi Koper itu PENTING

Beneran ini penting banget. Cicil packing dari jauh-jauh hari dan jangan pernah denial kalo barangmu banyak.

Begitulah. Akhirnya saat yang dinanti tiba juga. Saya musti pindah dari Jakarta, meninggalkan kosan yang sudah dihuni dari tahun 2013…dan semua kenangannya. Halah.
Tidak seperti mbak ini yang bisa ngatur waktu buat packing, saya mah boro-boro. Kalau ada waktu luang, dipakainya malah buat kuliner atau menyempatkan diri bertemu teman-teman.
Manajemen waktu saya payah. Hahaha.

Sejak beberapa bulan lalu, saya merencanakan ke Jogja sambil mencicil bawa pulang barang-barang. Kenapa ga dipaketin aja sih biar ga repot? Soalnya, saya toh pulangnya 2 mingguan sekali. Nenteng bawaannya ga terlalu jadi beban. Dengan dibawa sendiri juga mengurangi kekuatiran kalau-kalau terjadi sesuatu dengan barang-barang itu (pecah/rusak/hilang). Saya pun nargetin pas mudik cuma menyisakan barang yang akan masuk koper.

Oke. Yang pertama saya lakukan adalah skimming barang: mana yang masih akan dipakai, mana yang engga, dan mana yang dijual. Kategori yang masih dipakai dipilah lagi jadi dipakai buat sisa waktu di Jakarta dan yang tidak. Yang tidak itu langsung dibungkus bawa pulang. Kategori yang engga dipakai juga dipilah jadi yang dikasih ke sekitaran rumah atau dikasih orang kos.

Lalu saya mulai membawa pulang bawaan secara bertahap dan memposting ke portal jual beli untuk barang yang memang mau dijual. Dari situ, akhirnya cuma menyisakan barang yang akan dibawa pindahan saja.

Seharusnya.

Continue reading

#45 Sad Monkey

image

He is sad. Someone left him without notification. He is wondering whether he’s that worthless even for an explanation or acknowledgement. He was deeply thinking what has he done that make the person leave him. Did he do something wrong? Did he hurt that person? Did he treat the person badly?

He just can’t understand why.

Is he a stupid monkey?

#44 Waspada Finlandia

VODKA FINLANDIA

Pemberitaan heboh soal kondisi keuangan Finlandia sudah mulai beredar sejak pertengahan tahun lalu. Alexander Stubb, Menteri Keuangan Finlandia, sendiri beberapa waktu lalu mempertanyakan apakah sekarang Finlandia telah menjadi ‘the sick man of Europe‘. Pemikiran ini muncul akibat turunnya GDP Finlandia sebesar 0,6% pada kuarter ketiga tahun 2015; penurunan besar dibandingkan negara lain di Eropa.

Memangnya kenapa sih Finlandia?

Baru-baru ini, ETLA mempublikasikan laporan “Finlandia and Its Northern Peers in the Great Recession” yang berisi tentang penurunan tajam kondisi makroekonomi Finlandia dan beberapa negara di sekelilingnya. Padahal, WEF menyatakan bahwa Finlandia adalah negara peringkat 8 dengan ekonomi paling kompetitif di dunia lho.

Ada beberapa penyebab penurunan makroekonomi Finlandia.
1. Apple
Produk Apple telah mengancam dua industri Finlandia. Satu, industri kertas. Permintaan kertas berkurang banyak karena penggantian media cetak oleh penyedia internet. Tentu saja ini bukan hanya ‘ulah’ Apple. Akan tetapi, Apple adalah pemain utama di sini. Dua, Nokia. Sebagai penyedia mobile phone terbesar, Nokia tidak mampu merespon tantangan yang diberikan produk Apple. Akibatnya, Nokia yang selama ini menyumbang 1/3 GDP Finlandia mengalami penurunan produksi yang akhirnya mengarah pada pengurangan lapangan kerja.

2. Penurunan Ekspor
Rusia merupakan destinasi ekspor Finlandia terpenting kelima. Beberapa tahun belakangan, ekonomi Rusia melemah antara lain akibat harga minyak yang turun. Akibatnya kegiatan impor produk, termasuk dari Finlandia, mengalami penurunan. Finnish Customs bahkan menyatakan bahwa ekspor Finlandia ke Rusia mengalami penurunan per Mei 2015 sebesar 35% dibandingkan tahun 2014.  Selain itu, separo dari ekspor Finlandia merupakan bahan mentah. Dengan demikian, nilai jual barang ekspor Finlandia sulit untuk naik.

3. Penurunan usia produktif
Dengan berkurangnya jumlah penduduk berusia produktif, maka berkurang pula pendapatan dan pajak yang dibayarkan kepada negara.

4. Daya saing tenaga kerja
Saat ini, gaji di Finlandia adalah tertinggi ketujuh di Eurozone dengan produktivitasnya (GDR per jam kerja) jauh di bawah rata-rata Eropa. Hal ini menjadikan tenaga kerja Finlandia tidak menarik lagi. Sebagai solusi, seharusnya jam kerja yang ditambah atau gaji tenaga kerja yang diturunkan.

Lalu apa dampaknya bagi Indonesia? Bagi kita?
Seperti halnya krisis Yunani, pada jangka panjang, apabila kondisi keuangan Finlandia tidak juga membaik, Indonesia akan terpengaruh efek dominonya. Di antara dampak itu adalah pada pasar modal. Sentimen negatif akan kondisi Eropa akan dapat menurunkan IHSG. Selain itu, di pasar uang, nilai tukar euro terhadap dolar AS akan menurun sehingga dolar AS menguat. Akibatnya, nilai tukar rupiah akan melemah dan pada sektor riil, pembelian bahan baku industri yang menggunakan mata uang dollar AS akan semakin mahal. Akan tetapi, kita harus tetap tenang kecuali kita punya aset sangat banyak di pasar modal dengan tujuan investasi jangka pendek atau sebagai pelaku kegiatan ekspor/impor.

 

https://mamarantaudotcom.files.wordpress.com

#43 Mengapa ada tanggal 29 Februari?

Berapa dari kalian yang lahir tanggal 28 Februari bosan dengan komentar “wah untung bukan lahir tanggal 29 Februari”?
Apalagi kalian yang lahir pas tanggal 29 Februari-nya.

Kalian yang bosan dengan komentar-komentar itu bisa jadi adalah yang sudah senior *eh* karena sudah bertemu lebih beragam dan lebih banyak orang.

29 Februari ada karena sistem kalender kita bergantung pada perputaran bumi terhadap matahari. Satu putaran bumi terhadap matahari memerlukan waktu 365 hari dan 6 jam (persisnya sih 365 hari 5 jam 49 menit 16 detik). Pada kalender Masehi, satu tahun atau satu putaran bumi mengelilingi matahari dibulatkan ke bawah menjadi 365 hari. Oleh karena itu, setiap empat tahun sekali ada tambahan 24 jam yang harus ditambahkan ke dalam kalender.

Perhitungan matematika lainnya juga dilakukan untuk memenuhi kekurangan 10 menit 44 detik pada pembulatan 6 jam itu, yaitu penambahan 3 hari pada setiap 400 tahun. Untuk mendapatkan perhitungan tersebut, dicari tahun yang dapat dibagi oleh 100 tapi tidak oleh 400. Selisih waktu pada tahun tersebut ‘dihilangkan’ untuk memberikan menit tambahan pada 400 tahun berikutnya. Makanya, tahun 1700, 1800, dan 1900 tidak termasuk tahun kabisat karena bisa dibagi 100 tapi tidak bisa dibagi 400. Tahun yang dapat dibagi 4 tapi bukan tahun kabisat berikutnya adalah tahun 2100. Kebayang ga?

Pertanyaan berikutnya, mengapa Februari? Mengapa tidak April, padahal dia hanya punya 30 hari?
Pada masa Julius Caesar, Februari memiliki 30 hari. Sedangkan bulan yang mengandung namanya (bulan Juli) memiliki 31 hari. Adapun Agustus terdiri dari 29 hari. Nah, saat Caesar Augustus berkuasa, dia menambahkan 2 hari pada bulan kelahirannya agar jumlah harinya sama dengan bulan Juli. Man’s ego, isn’t it? Hahaha.

Saya jadi ingat Benjamin Franklin pernah menulis esai berjudul Information to Those Who Would Remove to America. Ada yang bilang tulisan itu dibuat pada February 29, 1784. Tapi barusan saya gugling ternyata dibuat September 1782 *lah*
Eniwei, esai Franklin ini ditujukan untuk orang-orang Eropa yang menganggap Amerika sebagai land of dreams and fantasy. Ada empat hal yang menjadi klarifikasi Franklin:

Pertama, penduduk Amerika Utara itu kaya, mampu, dan cerdik, tetapi tidak peduli pada ilmu pengetahuan.

Franklin membantah hal ini dengan mengatakan bahwa Amerika memiliki sembilan universitas, dibandingkan dengan Inggris yang hanya memiliki empat.

Kedua, orang asing yang memiliki kemampuan seni akan diakui dan memperoleh bayaran yang tinggi di Amerika.

Franklin berpendapat bahwa Amerika membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dan dapat menjadi aset bagi masyarakat. Estetika dan keindahan bukan bagian dari budaya mereka, meskipun pada praktiknya hal tersebut akan diakui.

Ketiga, orang non kelahiran Amerika akan dihormati dan mudah memperoleh pekerjaan dengan jabatan terbaik.

Terlahir dengan keturunan bangsawan tidak otomatis menjadikan orang tersebut diangkat bekerja di kantor pemerintah Amerika. Franklin menambahkan bahwa bahkan banyak orang di Amerika yang mengerjakan hal-hal tidak berguna dan hanya sedikit yang mengelola negara.

Keempat, apabila pindah ke Amerika, pemerintah Amerika akan memberikan transmigran Eropa tanah, transportasi gratis dari Eropa ke Amerika, orang kulit hitam yang akan bekerja untuk mereka, serta kebutuhan pertanian seperti alat bertani dan hewan ternak.

Menurut Franklin, perusahaan di Amerika hanya akan menghargai orang yang mau bekerja keras.

Perlukan pemerintah provinsi DKI Jakarta (dan kota besar lainnya) menyebarkan klarifikasi serupa ke seluruh pelosok Indonesia untuk mengendalikan laju pendatang ke Jakarta?

sumber: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/12177017/Leap-Year-2016-Why-does-February-have-29-days-every-four-years.html

https://www.brainpickings.org/2016/02/29/february-29-jane-hirshfield/

#42 Akhir Pekan Bersama Buah Naga

Akhir pekan kemarin saya diajak Pakde Mbilung memetik buah naga. Saya langsung iyakan ajakannya dan menuju Bogor pada Jumat malam.

Sabisa Farm, nama tempatnya. Singkatan dari Sarana Belajar Petani Sarjana. Kebun buah naga ini milik alumni IPB yang sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat belajar berkebun bagi mahasiswa IPB. Makanya, yang mengelola juga para mahasiswa (dengan mentor). Selain merawat tanaman (memupuk, mempertemukan benang sari dengan putik, menyiangi gulma, memangkas sulur), mereka juga menemani para tamu yang datang dan memberikan penjelasan soal buah naga. Siapa saja boleh datang ke sini, asalkan dengan pemberitahuan terlebih dahulu. Kayaknya sih untuk memastikan ada orang yang bisa menemani tamu.

Buah naga yang ditanam ada dua jenis, putih dan merah. Menurut mahasiswa yang menemani kami, ada beberapa perbedaan yang bisa dikenali. Tanaman buah naga putih memiliki garis putih pada sulurnya, sedangkan buah naga merah tidak. Bunga tanaman buah naga putih dapat melakukan penyerbukan sendiri karena posisi serbuk sari dan putiknya sudah pas (hahaha sudah pas!), sedangkan buah naga merah memerlukan bantuan manusia. Bunga buah naga mekar pada malam hari. Pada saat mekar itu, mahasiswa-mahasiswa ini menggunakan kuas mempertemukan benang sari dengan putiknya. Pada saat berbuah, tanaman buah naga putih bisa ada 2-3 buah, sedangkan pada buah naga merah hanya satu. Buah naga putih bentuknya lebih besar dan lonjong dengan sisik yang jaraknya agak lebar, sedangkan buah naga merah umumnya lebih kecil dibandingkan buah naga merah dan bentuknya bulat dengan jarak sisik yang agak lebih berdekatan.

Dari setiap ruas duri pada sulur, bisa jadi tempat untuk bunga buah naga. Oleh karena itu, ketika memetik buah, kita diminta membuat huruf V dan memastikan duri di kanan-kiri buah naga tidak ikut terpotong.

Di antara buah naga, mereka menanam pohon-pohon pepaya Kalita atau yang sering disebut pepaya California. Sayangnya kemarin belum ada pepaya yang matang dan siap petik.

Di Sabisa, buah naga dijual Rp30.000,00/kg; buah merah dan putih sama harganya. Agak mahal memang bila dibandingkan dengan di supermarket atau pasar. Tapi rasanya beneran beda. Buah naga putih yang biasanya sepo dan ada aroma tanah, buah naga Sabisa tidak. Rasanya lebih kaya; ada manis dan asam. Kalau untuk buah naga merahnya, relatif sama dengan beli di luar sih, hanya lebih segar saja.

Sabisa Farm ini ternyata inisiasi dari Gun Sutopo (biasa dipanggil Pakde Gun), pemilik Sabila Farm yang ada di Jogja. Kapan-kapan saya pingin mampir Sabila deh.

*ngebayangin buah naga potong yang baru keluar dari kulkas*
nyam!

 

Sabisa Farm
Sabisa Farm

 

 

Nyenengin amat liat merah-merah gelantungan
Nyenengin liat merah-merah gelantungan

 

mahasiswa yang mengelola Sabisa
mahasiswa yang mengelola Sabisa
bunga buah naga
bunga buah naga
buah naga putih; ada garis putih pada sulurnya
buah naga putih; ada garis putih pada sulurnya
buah naga merah; lebih bulat
buah naga merah; lebih bulat




Sabisa Farm:
Jalan Sindang Barang, Gedung Seng, RT 03/05. Kelurahan, Loji, Bogor Barat
Twitter @sabisafarm

Sabila Farm:
Jl Kaliurang KM 18,5 Pakem, Sleman Yogyakarta

http://sabilafarm.com

Phone: +62 878 3926 0725
Facebook: Sabila Farm
Twitter: @SabilaFarm

#41 Kehangatan

Setelah kemarin seharian di kamar, hari ini saya memutuskan keluar. Biar ga lumutan. Saya pun menuju Anomali Menteng untuk belajar.

Saya pilih tempat duduk agak pojok, dekat colokan. Buka laptop, colok headset, putar Liszt, sambil sesekali menyeruput Americano dingin.

Tidak beberapa lama, datang satu rombongan keluarga. Bapak, Ibu, dan anak (lebih dari 2 orang bisa disebut rombongan bukan?). Mereka memilih tempat duduk di sebelah saya. Penampilan mereka biasa-biasa saja, yang justru membuat saya berasumsi mereka adalah keluarga berpendidikan (dan berada).

Duduk sebelahan seperti ini membuat percakapan mereka mau tidak mau terdengar juga. Dimulai dari si anak yang bercerita soal rencana outing bersama teman-temannya. Dilanjutkan dengan dia mengeluh teman-temannya yang mau berkunjung ke Jogja (tempat dia kuliah) yang merepotkan tapi tidak enak mau menolak. Ibu menanggapi dengan support pada si anak. Bapak, coba memberikan solusi yang kemudian diamini si anak.

Percakapan kemudian berlanjut soal rencana si anak setelah wisuda. Ibu menginfokan lowongan pekerjaan sebagai LO untuk kegiatan PBB. Bapak cerita soal isu kantornya. Teman-teman gokilnya. Dan terus berlangsung…

Mereka ini bikin saya kangen rumah. Percakapan mereka ringan, penuh tawa, hangat, kekinian, dan biasa saja. Kami (saya dan Bapak Ibu) kalau ngobrol memang topiknya tidak se-up to date itu. Tanggapan Bapak Ibu juga jauh lebih standar bila dibandingkan dengan Bapak Ibu itu. Tapi, hangatnya mereka bikin pingin pulang.

Iya, sejak saya mendengar apa yang diceritakan si anak, saya memutuskan berhenti belajar dan pause Liszt. Makanya semua bisa saya dengar. Hahaha.

Sambil saya nulis ini, yang sedang berlangsung adalah obrolan soal wisata laut Indonesia dan perilaku para wisatawan. kewl!

*masih sebulan lagi sebelum jadwal pulang Jogja* :|

#40 Tentang Pertanyaan

pernahkah terlintas di benak kalian bahwa bertanya ke orang yang belum menikah dengan pertanyaan semacam ‘kapan nikah?’, ‘nunggu apa lagi sih?’ atau bahkan judging ‘ga usah pilih-pilih sih’ bisa saja sama menyakitkannya dengan bertanya ‘kok belum hamil?’ ke perempuan yang sudah jungkir balik berusaha punya anak tapi belum juga dapat kesempatan.

well, you have no idea what have people going through. so unless it is really useful, you’d better say something else.

*ikut emosi abis dicurhati*

#39 What Do You Do To Calm Yourself Down?

Saya …

1. Main 2048
Belakangan saya keranjingan game ini lagi. Ada sedikit waktu luang atau stres dikit saja otomatis game ini yang kebuka di hape. Surprisingly, skor tertinggi (yang ga tinggi-tinggi amat itu) diperoleh kalau lagi pup :lol:

2. Menggambar atau Mewarnai
HuffPost pernah menuliskan bahwa mewarnai dapat meredakan stres. Untuk menggambar, saya lakukan di buku gambar yang lalu diwarnai menggunakan cat air. Sedangkan mewarnai (saja) saya lakukan via hape dengan aplikasi Colorfy atau Colorfly.
Selain itu, bisa juga dengan membeli buku mewarnai untuk dewasa. Di toko buku banyak dijual baik dengan sketsa dari orang dalam negeri (saya baru nemu yang tema Bali) maupun luar negeri (versi paling larisnya adalah buatan Johanna Basford atau dari penerbit Marabout). Tapi tidak harus juga. Mau yang bergambar Disney juga boleh (jelas saya tidak akan ambil ini karena takut dengan karakternya. hahaha). Nanti kalau udah ada rejeki buat beli pensil warna, saya pingin beli buku-buku ini deh.
Oiya, kalau mau versi murah dan malas menggambar, bisa juga dengan gugling “coloring for adults” lalu print di (sebaiknya) kertas gambar.

Coloring

3. Membaca buku
Membaca seperti memasuki pikiran orang lain. It never fails me.

4. Dzikir
As I said earlier, I know what I have to do. I just don’t know how to control what I shouldn’t do like thinking about you. Buat saya, berdzikir adalah yang paling ampuh walau ini juga yang paling sering saya kelupaan. Saya sering lupa mengingat bahwa tidak semua hal bisa saya kendalikan dan bahwa ada yang Maha Mengontrol. I just simply has to ask Him to help me.

current mind

#38 Tempat Ngopi di Jakarta

Hari ini tadi ramai perbincangan soal tempat ngopi enak di Jakarta. Ada banyak tempat yang bisa jadi pertimbangan, tentu saja. Tapi bagi saya, tempat menyesap kopi yang enak perlu memenuhi beberapa kriteria.

Satu, tempatnya nyaman. Tidak harus sepi banget, yang penting bersih, bisa duduk, kamar mandi bersih, musiknya tenang sehingga tidak mengganggu kalau pas pingin ngobrol, bercolokan, dan syukur-syukur ada atau dekat dengan tempat shalat.

Dua, baristanya reachable. Kebanyakan barista di Jakarta ramah tapi tidak semuanya bisa dijangkau. Posisi stand by mereka atau ketiadaan tempat duduk bar membuat mereka sulit diajak ngobrol. Padahal kan saya suka kalau dikasih tau hal-hal baru. Walau biasanya keesokan harinya bakal lupa. Tanamera, misalnya, ada tempat duduk di depan barista yang jadi tempat favorit kalau pas ke sana sendiri dan bukan untuk bekerja. Saya suka mengamati mereka kerja dan mencium aroma awal sewaktu kopi giling bertemu air panas. Karena ngobrol dengan barista jugalah saya sering dapat tambahan stempel gratisan di loyalty card. hahaha. (ketauan banget maunya)

Tiga, harganya terjangkau. Keahlian menyeduh kopi memang layak dibayar mahal. Sekolah barista tidak murah, belajar membuat kopi juga butuh waktu. Ada tempat ngopi yang mahal tapi layak coba karena memang enak. Ada juga yang jadi terasa mahal karena rasa kopi yang tidak terlalu spesial dipadu dengan jualan suasana dan gaya. Giyanti adalah contoh yang mahal tapi worth to try. Sedangkan kopi di mall rata-rata masuk kategori kedua yang karenanya saya datangi kalau pas sedang promo atauuu menyediakan wifi dengan koneksi cepat. ihik.

Empat, menyediakan wifi. Dulu ini kriteria kedua. Tapi sejak di kos sudah ada wifi, wifi di tempat ngopi tidak prioritas lagi. Saya lebih sering datang sekedar untuk duduk dan membaca atau bertemu teman. Lima, sedia makanan pendamping yang enak pisang goreng. Hahaha. Apalah arti kopi tanpa pisang goreng :p Poin bonus apabila mereka menyediakan air putih. Setiap selesai minum kopi saya selalu merasa harus minum air putih banyak. Apalagi kalau kopi campur. Kalau ke 1/15, misalnya, saya selalu bawa air putih sendiri karena di sana tidak disediakan gratis *halah*

Nah, dari kriteria-kriteria itu, saya terkesan dengan beberapa tempat ini:

1. Giyanti Datang pagi dan bawa buku, biasanya saya, karena agak siang sedikit tempat ini ramai.

2. Tanamera Datang pagi, sampai gelap. Hahaha. Saya pernah mencoba Manggarai honey process di tempat ini. Karena mereka hanya menyediakan V60 padahal saya sedang ingin yang rasanya lembut, oleh baristanya dibuatkan dengan (kalau tidak salah) 200 ml dituang di atas filter, tunggu beberapa saat, tambah 40ml langsung ke jug. Rasanya tetap khas Flores tapi ada bold yang tersisa. Lucu aja. Plus: Kopinya enak semua di sini. Kalau untuk makanan, saya suka banana caramel cake (mainstream yeah!), Croissant Kari Ayam, Egg Benedict, chicken wing (lho kok jadi banyak). Pilihan lagu juga oke banget. Ada air putih. Minus: Porsi minuman tidak besar (which I like) jadi mungkin akan terasa mahal, kalau mau shalat harus numpang ke Thamrin City.

3. Traffique Udah lama ga ke sini karena lokasinya yang tidak TransJakarta friendly *halah*. Dulu sih selalu pesan single origin dan enak semua dengan aneka metode. Plus: Kopi enak, baristanya reachable, punya mushalla di lantai atas. Minus: Agak susah angkutan umumnya, (dulu) tidak ada makanan yang mengenyangkan jadi sebaiknya ke sini ketika perut sudah terisi.

4. Headline Berlokasi di Jalan Kemang Utara Raya No.50 (seberang galeri Dian Pelangi), tempat yang berukuran sekitar 30 meter persegi ini punya program paket kopi panas dan cake seharga IDR35rb kalau pesan antara jam 2-6PM. Meski kecil, tempat ini nyaman, bersih, dan sepi. Dulu ada sofa besar di pojokan yang saya suka. Sayangnya macam kuburan sinyal. Wifi ada, tapi kadang ga bisa konek entah kenapa. Depan Headline ada masjid tapi untuk perempuan mending bawa mukena sendiri soalnya kalau tidak pas jam shalat, ruang utama masjid ditutup. Di pojokan jalan, ada penjual martabak dan gorengan. Hihi. Plus: relatif murah dan enak, nyaman, barista reachable, ada air putih Minus: makanannya biasa aja

5. Wisang Kopi Baru sekali ke tempat yang humble ini, sewaktu masih di Duren Tiga. Sejak pindah ke Jl. Abdul Majid Raya No.67 saya belum pernah ke sana lagi. Saya terkesan dengan kopi dan jajanannya yang lumayan enak, juga harganya yang murah. Tapi maafkan saya lupa seberapa murah. Single origin di bawah IDR25rb deh. Somehow bikin inget Klinik Kopi. Plus: murah dan enak! Minus: makanan standar (ini bukan minus sih wong murah juga harganya)

6. Watt Coffee Pertama kali ke Watt karena awalnya mau ke Giyanti tapi ternyata tutup. Watt ini terletak di Jalan Kwitang, setelah toko buku Wali Songo. Mereka menggunakan kopi dari Tanamera. Termasuk cold brewnya. Waktu itu saya pesan cold brew yang ternyata manis. Enak! Tempatnya instagramable :lol: Plus: Nyaman, sepi, sebelahnya ada masjid Minus: Makanannya mahal & rasanya biasa aja

7. ABCD/Kopi Pasar Dulu di Pasar Santa. Sekarang di Food Fighters depan Blok M Square (sebelah fave Hotel). Layak coba dan nikmati pelan-pelan tiap sesapannya. hmmm

8. Filosofi Kopi Rame banget tapi ya sudahlah. Selalu tiwus syphon. Pernah menu lain tapi tidak sespesial ini.

9. Saudagar Kopi Lokasinya di Sabang. Nyaman deh, semacam sanctuary. bahahah Plus: nyaman, bersih, wifi oke, jajanannya enak Minus: kalau di dalam tidak bersinyal, makan besarnya biasa aja

10. Anomali Paling sering ke Anomali Setiabudi One (tentu saja) atau ke Senopati. Awalnya karena saya pernah training di seberang Setiabudi One. Setelah training saya nongkrong di sini sambil kerja sampai tau-tau gelap dan disusulin beberapa teman. Rame sih, wifi juga ga kenceng-kenceng amat. Menunya banyak dan suka bikin bingung (kalau udah bingung saya biasanya end up dengan Cafe Mocha :lol:). Dulu pas masih sering ke sana, udah berasa di rumah sendiri deh. Beresin meja sendiri, ninggal tas buat shalat, minta refil air panas *eh* Plus: sering ada diskonan dengan kartu kredit Mandiri, tehnya enak-enak, caesar salad enak. Minus: tidak spesial kecuali kalian ke sana bertemu yang spesial *uopoh* Ini ketauan banget ya makin ke bawah reviewnya makin ga lengkap. Lelahh. Harusnya setelah ini saya review tempat ngopi kategori biasa aja. Tapi tapi tapi tapi…