“Yet ah! why should they know their fate?
Since sorrow never comes too late,
And happiness too swiftly flies.
Thought would destroy their paradise.
No more; where ignorance is bliss,
‘Tis folly to be wise.” ~ Thomas Gray
Have you ever been rejected on your appliance? Have you ever been ignored by the one you love? When you demanding something, has your parents didn’t fulfil what you want?
I did.
Was it hurt?
Of course. (more…)

Jadi kalau SMI memilih pergi, itu salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?
Menurut looo?
Kalau dalam mengambil kebijakan sudah sesuai prosedur tapi tetep disalahkan, kalau upayanya efisiensi justru mendapat jegalan, kalau berusaha ‘membersihkan’ dianggap sebagai penentangan, kenapa juga harus tetap di negeri ini. Sementara di belahan dunia lain, dia akan lebih dihargai dan dihormati.
Yang dulu usul SMI mundur, dia sudah akan mundur tuh sekarang. Sana gih diisi posisinya. E tapi ya itu kalau mampu lo ya. Secara getoh, kerja jadi Menteri Keuangan ga gampang. Ngurusin duit negara tu susah tauukk.
Eh saya sudah pantes jadi anak G4O3L dan labil belum sih?
Satu hal yang mengganjal di benak saya mengenai kota ini adalah tentang toleransi. Berulang kali saya mendapati ibu hamil atau orang tua sulit mendapatkan tempat duduk di kendaraan umum, kecuali kenek bus yang meminta penumpang untuk memberikan tempat duduk pada ibu hamil atau orang tua tersebut. Banyak dari penumpang yang tahu tapi tidak mau tahu. Atau tahu dan kemudian pura-pura tidak tahu. Walaupun tentu saja, tidak semua penumpang seperti itu.
(more…)
“Aku mungkin bukan lagi seorang idealis, melainkan seorang realis yang pahit.” ~ Soe Hok Gie
Saya dulu idealis. Demi diterima di tempat saya bekerja sekarang, saya ‘menjual diri’ dengan kata-kata mulia. Ingin membantu membangun negara. Saya dulu tidak bohong ketika berujar itu. Tapi sekarang, saya jadi tidak yakin sendiri dengan apa yang dulu saya ucapkan.
(more…)
Film itu seperti terapi bagi saya. Makanya, pindah ke kota ini membuat saya terpuaskan. Ndak perlu lagi ngantri tiket dari jam 9-padahal-bioskopnya-buka-jam-11.30 demi nonton film-film canggih itu.
Our deepest fear is not that we are inadequate.
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure.
We ask ourselves ‘who am I to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?’
Actualy, who are you not to be?
We were born to make manifest
the glory of God that is within us.
And as we let our own light shine,
We unconsciously give other people permission to do the same.~akeelah and the bee
Bapak, who always teach me how to live and stay alive, who always make me sure that I can do anything I want, get well soon yah. Love u a lot
Setelah ajang Biennale X pada tanggal 10 Desember 2009-10 Januari 2010 lalu, masyarakat Jogja kembali berkesempatan menikmati pameran seni budaya yang bertajuk Biennale Anak Jogja 2009. Sesuai dengan namanya, acara ini memang ditujukan untuk mengenalkan seni dan kreativitas pada anak-anak.
Berbagai acara digelar, seperti pameran lukisan, nonton bioskop gratis khusus anak, karnaval, seminar, dan juga talkshow. Central point dari acara ini adalah Ceria Wonderland. Dari yang saya pahami, konsepnya mirip seperti Kidzania. Tiap anak yang ingin berpartisipasi diharuskan membawa barang bekas dari rumah untuk kemudian ditukar dengan uang dolanan (kalau tidak salah, di media-media ditulis uang dolanan bisa didapat dengan membeli pakai uang riil) (more…)
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya akan sering merasa kangen sekali dengan sang Ibu
Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari kamu akan merasa kehilangan sekalinya beliau tidak menelepon,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
(more…)

“no matter how much I want to believe there’s one man who won’t run away”
Akibat kesalahan dari kakek kakek kakek buyutnya, Penelope Wilhern terpaksa menanggung kutukan menjadi bermuka babi. Ralph Wilhern memilih orang yang salah untuk dibuat patah hati. Luckily, Penelope menjadi anak perempuan pertama di keluarga Wilhern sejak masanya Ralph. (more…)
Mungkin ada 1001 lebih alasan mengapa saya begitu ingin belajar ke Inggris. Pertama, mainly because they speak english, bahasa yang secara de facto diakui dan digunakan di lebih dari separuh penjuru dunia. Ada yang bilang logat mereka sulit dipahami. Scousers (Liverpool) bicara dengan dialek yang berbeda dibandingkan Cockneys (London) atau Brummies (Birmingham). Tapi ada juga yang bilang aksen orang Inggris terdengar unik dan seksi. Saya yakin itu semua tak cuma memperkaya kemampuan berbahasa Inggris saya, tetapi juga memperkaya pengetahuan tentang budaya dan sosiologi orang Inggris.
Kedua, Inggris juga punya kota-kota yang menarik. London misalnya, adalah ibukota yang begitu iconic, multikultural, sekaligus exciting untuk dijelajahi. Bath, kota yang unik dan eksentrik, seperti kota di Eropa daratan yang “salah tempat” diletakkan di Inggris. York, kota yang dikelilingi benteng dengan arsitektur historis. Atau Edinburgh, kota tua yang penuh dengan benteng dan kastil gagah dan kontemporer. Yang tak kalah menarik tentunya countryside di highland Skotlandia yang penuh dengan obyek pemandangan alam menakjubkan.
Kalau soal mutu pendidikan, rasanya Inggris tak perlu dipertanyakan lagi. Oxford dan Cambridge adalah salah dua universitas tertua yang reputasinya diakui dunia. Universitas-universitas lain seperti Nottingham, Manchester, Newcastle, York, Warwick, Imperial College, dan sebagainya juga sudah jadi langganan papan atas di peringkat universitas terbaik dunia. Lulusan-lulusan Inggris juga terbukti memegang posisi penting di Indonesia, misalnya Juwono Sudarsono (mantan Menhan), Dino Patti Djalal (Jubir Presiden), atau Marty Natalegawa (Menlu). (more…)